Warga Filipina Bingung dan Marah atas Skandal Vaksin

Penulis: Irene Harty Pada: Rabu, 18 Apr 2018, 09:36 WIB Internasional
Warga Filipina Bingung dan Marah atas Skandal Vaksin

AFP/NOEL CELIS
Melinda Colite memegang foto cucunya, Zandro Colite, yang meninggal diduga setelah disuntik dengan vaksin antidemam berdarah Dengvaxia di Manila, Filipina (21/2/2018)

MELINDA Colite, 55 bergetar hebat. Dia marah saat memegang foto cucunya, Zandro, 12, yang menurutnya meninggal setelah mendapat vaksin antidemam berdarah di Filipina.

“Itu tidak mungkin yang lain. Dia mulai mengeluh sakit tubuh setelah suntikan ketiga,” kata Colite.

Nasib yang sama juga dialami Ruth Jaime, yang cucunya, Alexzander, 12, juga meninggal karena infeksi darah berbulan-bulan setelah dosis terakhir Dengvaxia.

“Tentu saja tidak ada yang akan mengakui apa yang menyebabkan kematiannya,” kata nenek penjual ikan tersebut.

Sampai minggu lalu, 65 kematian telah dilaporkan kepada pihak berwenang dan sedang diselidiki, menurut departemen kesehatan.

Kebingungan melanda nenek Colite, sementara pembuat vaksin Dengvaxia, Sanofi, telah mengatakan dengan tegas bahwa vaksinasi pertama di dunia itu aman dan pihak berwenang Filipina mendukungnya.

“Tidak ada kematian terkait kausal yang dilaporkan di 15 negara setelah uji klinis dilakukan selama lebih dari satu dekade dengan 40 ribu subjek yang terlibat. Tidak ada bukti bahwa kematian telah dikaitkan secara kausal dengan vaksin kami,” tutur Sanofi.

Otoritas kesehatan mengatakan tingkat vaksinasi anak-anak terhadap penyakit seperti campak telah menurun sebanyak 25% ketimbang tahun sebelumnya karena kemarahan publik dan ketidakpercayaan telah tumbuh dalam kasus Dengvaksia.

“Kami tidak dapat menyimpulkan pada titik ini bahwa Dengvaxia secara langsung menyebabkan kematian,” tutur Menteri Kesehatan Francisco Duque.

Seorang pengacara, Persida Acosta, mengatakan dalam sertifikat disebutkan kematian anak-anak itu akibat kesulitan bernapas akut, ensefalitis, radang usus buntu, syok septik yang menjadi tanda DBD berat. Namun, setelah tambahan kasus-kasus potensial muncul, pemerintah menetapkan layanan hukumnya yang mewakili orang miskin, Kantor Jaksa Penuntut Umum, untuk menangani masalah itu.

Cara pengujian yang paling akurat dan banyak digunakan, yang disebut RT-PCR, bergantung pada materi genetik yang terdegradasi dengan cepat setelah seseorang meninggal, terutama di iklim hangat seperti Filipina, menurut ahli virus Benjamin Neuman. “Tantangan untuk menentukan penyebab kematian oleh RT-PCR dapat dengan cepat berpindah dari sulit menjadi tidak mungkin.”

Masalah itu dimulai pada tahun lalu, tak lama setelah Filipina memberi Dengvaxia kepada sekitar 837 ribu siswa sebagai bagian dari kampanye imunisasi publik. Sanofi memuji vaksin tersebut sebagai terobosan dalam memerangi demam berdarah yang membunuh ratusan orang di Filipina setiap tahun, kebanyakan anak-anak.

Namun, perusahaan itu membuat panik ketika analisis baru pada November menunjukkan vaksin dapat menyebabkan gejala yang lebih parah bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah terinfeksi. (AFP/I-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More