Jepang Kembangkan Tes Urine untuk Kanker

Penulis: Irene Harty Pada: Rabu, 18 Apr 2018, 09:34 WIB Internasional
Jepang Kembangkan Tes Urine untuk Kanker

Ilustrasi---AFP/ Lillian SUWANRUMPHA

SEBUAH perusahaan Jepang siap melakukan apa yang disebut sebagai percobaan pertama di dunia untuk menguji kanker menggunakan sampel urine, yang akan sangat memudahkan skrining untuk penyakit mematikan.

Dua tahun lalu, para insinyur dan teknisi teknologi informasi (TI) Hitachi mengembangkan teknologi dasar untuk mendeteksi kanker payudara dan kanker usus dengan menggunakan sampel urine, kantor berita AFP melaporkan, kemarin (Selasa, 17/4/2018).

Konglomerat teknik dan TI Hitachi mengembangkan teknologi dasar untuk mendeteksi kanker payudara atau usus besar dari sampel urine dua tahun lalu.

“Sekarang akan mulai menguji metode menggunakan sekitar 250 sampel urine untuk melihat apakah sampel pada suhu kamar cocok untuk analisis,” kata juru bicara Hitachi, Chiharu Odaira.

“Jika metode ini digunakan secara praktis, akan lebih mudah bagi orang untuk mendapatkan tes kanker karena tidak perlu pergi ke organisasi medis untuk tes darah,” katanya.

Hal itu juga dimaksudkan untuk digunakan dalam mendeteksi kanker pediatrik. “Itu akan sangat bermanfaat dalam pengujian untuk anak-anak kecil yang sering takut jarum,” tambah Odaira.

Penelitian yang diterbitkan awal tahun ini menunjukkan bahwa tes darah baru telah menjanjikan untuk mendeteksi delapan jenis tumor yang berbeda sebelum menyebar ke tempat lain di tubuh.

Metode diagnostik biasa untuk kanker payudara terdiri dari ­mammogram diikuti dengan biopsi jika risiko terdeteksi.

Untuk kanker usus besar, skrining umumnya dilakukan melalui tes tinja dan kolonoskopi untuk pasien yang berisiko tinggi.

“Teknologi Hitachi yang berpusat di sekitar mendeteksi bahan limbah di dalam sampel urine yang bertindak sebagai  biomarker, zat alami yang dapat mengidentifikasi penyakit tertentu,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Deteksi dini
Odaira menjelaskan prosedur ini bertujuan meningkatkan deteksi dini kanker, menyelamatkan nyawa, dan mengurangi biaya medis dan sosial ke negara itu.

Tes urine ini juga bertujuan mendeteksi berbagai jenis kanker pada anak. “Penggunaan tes ini akan membantu pasien anak-anak yang sering kali takut jarum,” kata Odaira.

Percobaan akan dimulai bulan ini hingga September, bekerja sama dengan Universitas Nagoya di Jepang tengah.

“Kami bertujuan menempatkan teknologi yang digunakan pada 2020-an, meskipun ini bergantung pada berbagai hal seperti mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang,” kata Odaira.

Jika tes ini berhasil baik seperti yang kita harapkan, kita bisa membuat perbedaan yang penting dan memungkinkan diagnosis dini untuk kanker pankreas, yakni dengan menggunakan sampel urine.

sebelumnya, para peneliti di Missouri University of Science and Technology telah mengembangkan metode skrining baru untuk mendiagnosa dan menentukan keparahan kanker payudara lewat pteridines. Pteridines adalah hasil metabolisme yang dikeluarkan manusia melalui urin mereka.

Dengan menentukan jumlah pteridines dalam urin, individu akan dibantu untuk mendeteksi kanker lebih dini sebelum kanker payudara itu sendiri terdeteksi pada mammografi. (AFP/Ire/I-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More