Menyebarkan Virus Kebaikan lewat Nasi Kuning

Penulis: Haufan Hasyim Salengke Pada: Rabu, 18 Apr 2018, 08:54 WIB Features
Menyebarkan Virus Kebaikan lewat Nasi Kuning

MI/Haufan Hasyim Salengke
Relawan melayani konsumen di warung makan Podjok Halal di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (17/4/2018)

JARUM jam menunjukkan pukul 12.15 WIB. Sebuah warung makan Podjok Halal di sebuah taman cantik di samping gerbang utama gedung bertingkat PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) ramai pembeli.

Ada sekitar 11 orang yang menikmati menu nasi kuning saat itu. Mereka termasuk Simon, 43, dan Opik, 28, warga asal Kemayoran dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Mereka mengaku hampir saban hari makan siang di warung yang terletak di Jalan Yos Sudarso Kav 28 tersebut.

Selain karena alasan enak, kedua pria yang bekerja sebagai pengemudi ojek aplikasi daring itu mengatakan harga nasi kuning yang dijajakan sangat murah Rp3.000 per porsi. Harga itu memang tidak sebanding dengan menu yang ditawarkan. Dalam satu porsi nasi kuning, lauk-pauknya, ada ikan atau ayam, kemudian ditambah tumis sayuran, seperti buncis, kerupuk, sambal, dan pisang. Soal rasa, Media Indonesia yang ikut mencicipi sependapat dengan Simon dan Opik, tidak mengecewakan.

“Awalnya penasaran, tahu informasi warung ini dari pesan berantai di aplikasi Whatsapp,” ujar Simon, kemarin (Selasa, 17/4/2018).

Adalah Mohamad Jusuf Hamka, 60, yang merintis warung Podjok Halal itu. Penasihat di PT CMNP--sebuah perusahaan swasta pengelola tol--itu mengatakan ide awal berangkat dari kebiasaannya menggelar kegiatan berbuka puasa gratis untuk 1.000 orang setiap Ramadan sejak enam tahun terakhir. “Ketika umur saya 60 tahun, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan bangsa Indonesia. Dan sesuai tuntutan ajaran agama saya, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih lewat memberi untuk orang-orang yang kekurangan,” ujar Jusuf yang mualaf itu.

Modal awal untuk merintis warung Podjok Halal itu, lanjut Jusuf, hanya Rp10 juta. Sejauh ini Jusuf mengaku kurang puas karena dari tiga outlet Podjok Halal yang saat ini beroperasi belum mencapai target 1.000 porsi per hari. Setiap outlet baru bisa menjual di bawah 100 porsi saban hari. “Sehingga buat saya ini kurang maksimal sedekah saya. Tapi insya Allah ini kan baru pertama,” ujar mantan Dirut PT CMNP itu.

Bila ia menargetkan 1.000 porsi per hari dikalikan 250 hari kerja, dalam satu tahun ia seharusnya menyiapkan sekitar Rp1,7 miliar untuk subsidi. “Nyatanya yang Rp10 juta enggak habis-habis sudah dua bulan jalan,” jelasnya.

Itu lantaran warung Podjok Halal telah menginisiasi virus kebaikan kepada rekan-rekan Jusuf. Mereka ikut membantu menyediakan menu lainnya. “Menu pelengkap, seperti pisang, kerupuk, dan lain-lain datang dari mereka yang juga ingin bersedekah. Ada dari unsur kepolisian, Kodam, karyawan, dan masyarakat biasa,” ungkap Jusuf.

Meski terbuka untuk umum, warung Podjok Halal lebih menyasar kaum duafa, pekerja harian lepas (PPSU), juru tambal ban, petugas kebersihan anak jalanan, dan lain-lain.

Setelah outlet di Sunter, PMI Kramat Raya, dan sebelah gedung KPK, Jusuf akan membuka warung serupa di seluruh Indonesia. (-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More