Petani Didorong Jadi Peserta AUTP Komersil

Penulis: Micom Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 15:10 WIB Nusantara
Petani Didorong Jadi Peserta AUTP Komersil

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

PROGRAM Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang dicanangkan Kementerian Pertanian sejak tiga tahun lalu diharapkan menjadi pemicu bagi petani untuk kian menyadari akan pentingnya berasuransi. Sasarannya ke depan, petani menjadikan asuransi sebagai kebutuhan sehingga tetap berasuransi meski tak lagi mendapat subsidi premi.

Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sri Kuntarsih, mengatakan, petani yang sudah mengikuti AUTP ke depan diharapkan bisa meneruskan polis asuransinya secara komersil. Bahkan, petani yang sudah tergabung dalam korporasi bisa ikut AUTP secara komersil.

"AUTP ini sebagai triger, selanjutnya alangkah baiknya petani bisa mandiri untuk mengikuti AUTP secara komersil," jelas Sri di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, petani tak bisa hanya mengandalkan subsidi dari pemerintah, sebab dana dari pemerintah tetap terbatas.

"Memang, program AUTP yang dikembangkan pemerintah baru berjalan tiga tahun. Pada tahun ini, target AUTP yang masih disubsidi pemerintah seluas 1 juta hektare. Diharapkan, jumlah petani peserta AUTP tahun ini meningkat," imbuh Sri.

Guna mendorong petani mau menjadi peserta AUTP, Kementan melalui Ditjen PSP terus melakukan sosialisasi pengembangan asuransi tani ke sejumlah daerah. Sosialisasi khususnya dilakukan ke daerah-daerah yang sesuai data BMKG rawan banjir dan kekeringan, juga menyasar ke sejumlah kabupaten yang rawan serangan hama penyakit (OPT).

Menurut Sri, daerah seperti Bojonegoro, Jawa Timur, dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan yang rawan banjir dan kekeringan juga menjadi sasaran sosialisasi AUTP. Begitu pula beberapa wilayah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang rawan hama wereng juga menjadi sasaran sosialisasi, agar petaninya bisa menjadi peserta asuransi pertanian.

Dalam melakukan sosialisasi, petugas dari Ditjen PSP Kementan dibantu penyuluh dan petugas POPT terjun langsung ke lapangan. Para petugas dari Dinas Pertanian, POPT, dan PT Jasindo melakukan pendataan langsung ke petani, agar proses mereka menjadi peserta AUTP lebih mudah.

"Sosialisasi terus kami lakukan di lapangan, agar target 1 juta ha bisa tercapai sebelum akhir 2018," ujar Sri.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Divisi Asuransi Agri dan Mikro PT Jasindo, Ika Dwinita Sofa, mengatakan, program AUTP yang disubsidi pemerintah masih berjalan. Bahkan, pihaknya bersama dinas terkait hingga kini terus melakukan sosialisasi di lapangan.

Ika menilai, masyarakat petani saat ini belum insurance minded. Artinya, masih banyak petani yang belum paham atau belum sadar akan pentingnya asuransi bagi mereka. Karena itu, pengembangan AUTP harus dibarengi dengan pelaksanaan program pemerintah lainnya, seperti kredit usaha rakyat (KUR), alat mesin pertanian, dan luas tambah tanam (LTT).

Meski masih melanjutkan program AUTP bersama Kementan, PT Jasindo saat ini mulai merambah ke asuransi nonsubsidi (komersil).

"Tapi, belum merambah ke petani perorangan. Yang kami lakukan adalah ke perusahaan yang berinvestasi di sektor pertanian atau korporasi. Sehingga jumlah pesertanya belum banyak," jelas Ika.

Jumlah peserta AUTP komersil sejauh ini baru sekitar 1% dari total jumlah AUTP yang disubsidi. Artinya, dari segi jumlah masih sangat sedikit. Sebab, peserta AUTP komersil sangat tergantung luas lahan dan nilai jaminannya.

"Kalau lahan sawah yang dijaminkan cukup luas, maka ada syarat tertentu yang bisa dipertimbangkan perusahaan asuransi. Seperti di Merauke ada tambahan klaim kalau lahan sawah (padi)-nya terkena serangan hama burung," jelas Ika.

Ia menjelaskan, AUTP komersil juga membayar klaim terjadinya penurunan hasil yang disebabkan penyakit atau hama tertentu. Dengan demikian, ada tambahan klaim yang bisa memberi keuntungan tertentu bagi peserta.

Klaim yang dikaver dalam AUTP komersil lebih besar jika dibandingkan dengan AUTP yang disubsidi, maka nilai premi atau polis yang dibayar pun lebih mahal. Klaim AUTP komersil dipatok Rp15 juta per ha pwr musim. Sedangkan biaya polis asuransinya sebesar 3% dari nilai klaim, atau sebesar Rp450 ribu/ha/musim.

Selain peserta AUTP komersil masih sedikit, menurut Ika, luasan lahan yang diasuransikan rata-rata 5.000 ha ke bawah. Idealnya, portofolio atau lahan yang diasuransikan minimal 500 ribu ha.

"Luasan lahan harusnya sesuai dengan skala risiko yang harus ditanggung," ujarnya.

Ika juga mengatakan, karena PT Jasindo ditunjuk Kementan untuk mengembangkan AUTP, maka pihaknya sekaligus melakukan penjajakan untuk mengaplikasi AUTP komersil ke masyarakat. Untuk itu, sebagai tahap awal pihaknya masih mengakomodasi korporasi yang mengasuransikan lahan sawahnya seluas 5.000 ha ke bawah.

Pada umumnya yang berminat menjadi peserta AUTP adalah perusahaan yang berinvestasi di bidang pertanian. Perusahaan tersebut ada yang mengembangkan budi daya padi di Kalimantan Tengah dan Jawa Barat. Bahkan, ada juga dari sejumlah perusahaan di daerah yang mengembangkan budi daya jagung.

"Sejumlah perusahaan yang mengembangkan padi organik di Jabar juga sudah masuk menjadi peserta AUTP. Begitu juga beberapa perusahaan yang investasi budidaya jagung di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Jawa Timur (Jatim) juga sudah menjadi peserta AUTP komersil," kata Ika.

Peserta sejumlah perusahaan yang berkecimpung di bidang pertanian ke AUTP merupakan terobosan baru PT Jasindo. Sejumlah perusahaan tersebut bisa mengajukan klaim AUTP ke Jasindo apabila lahan tanamannya terkena serangan OPT, banjir, dan kekeringan dengan tingkat kerusakan lebih dari 75%.

Menurut Ika, klaim risikonya sama dengan yang disubsidi. Yang membedakan hanya nilai premi dan pertanggungan yang dibayarkan. Meski begitu, masih ada syarat tertentu yang dipertimbangkan perusahaan agar peserta asuransi komersil mendapat tambahan benefit.
"Ini sebagai tahap awal menuju AUTP komersil. Dan hal ini juga tak mudah kalau tanpa dibarengi program asuransi pertanian dari pemerintah," ujar Ika.

Menurut Ika, biaya operasional perusahaan untuk mengkaver AUTP di lapangan cukup besar. Karena itu, apabila biaya polis atau premi AUTP komersil disamakan dengan AUTP yang disubsidi, tingginya biaya operasional yang dilakukan perusahaan tak bisa dipenuhi. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More