Menyebarkan Virus Kebaikan Lewat Nasi Kuning

Penulis: Haufan Hasyim Salengke Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 18:50 WIB Megapolitan
Menyebarkan Virus Kebaikan Lewat Nasi Kuning

MI/HAUFAN HASYIM SALENGKE
Pengunjung menikmati nasi kuning di warung Podjok Halal di area PT CMNP di Jalan Yos Sudarso Kavling 28, Jakarta Utara.

JARUM jam menunjukkan pukul 12.15 WIB. Pada sebuah taman cantik di samping gerbang utama gedung bertingkat PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), sebuah warung makan tampak ramai pembeli.

Podjok Halal, namanya. Ada sekitar 11 orang yang menikmati menu nasi kuning saat itu. Simon, 43, dan Opik, 28, warga asal Kemayoran dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, termasuk di antaranya. Mereka mengaku hampir saban hari makan siang di warung yang terletak di Jalan Yos Sudarso Kavling 28, Jakarta Utara, tersebut.

Selain karena alasan enak, kedua pria yang bekerja sebagai pengemudi ojek aplikasi daring itu mengatakan harga nasi kuning yang dijajakan sangat murah, Rp3000 per porsi. Soal rasa, Media Indonesia yang juga mencicipi, sependapat dengan Simon dan Opik: intinya tidak mengecewakan.

"Awalnya penasaran, tahu informasi warung ini dari pesan berantai di aplikasi WhatsApp. Pas saya datangi ternyata bukanya jam makan siang, esoknya saya datang lagi kemari," ujar Simon, Selasa (17/4).

Adalah Mohamad Jusuf Hamka, 60, yang merintis warung Podjok Halal itu. Penasihat di PT CMNP--sebuah perusahaan swasta pengelola jalan tol--itu mengatakan ide awal berangkat dari kebiasaannya menggelar kegiatan berbuka puasa gratis untuk 1000 orang setiap bulan Ramadan enam tahun terakhir.

"Tetapi ketika umur saya 60 tahun, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan saya dan bangsa Indonesia, apa yang harus saya perbuat. Yang harus saya perbuat adalah berbagi sesuai tuntunan ajaran agama saya, kepada orang-orang yang masih kekurangan," ujar Jusuf kepada Media Indonesia.

"Itu saja. Berangkatnya secara sederhana, kita tidak membuat tim, tidak ada proposal, ide ini tercetus langsung jalan aja dulu, baru kita improvisasi di lapangan, dan alhamdulillah," tandas pria yang seorang mualaf itu.

Namun ia mengaku masih agak kurang puas karena dari tiga outlet Podjok Halal yang saat ini beroperasi belum mencapai terget 1000 porsi per hari. Setiap outlet baru bisa menjual di bawah 100 porsi saban hari.

"Sehingga buat saya ini kurang maksimal sedekah saya. Tapi insya Allah ini kan baru pertama," ujar mantan Dirut PT CMNP itu.

"Saya tidak akan patah semangat. Selama kita berbuat baik sama orang kita tidak perlu patah semangat dan takut," kata dia.

 

Virus Kebaikan

Jusuf memegang betul perintah dan prinsip fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) yang termaktub dalam QS Al Baqarah: 148. Bahwa Allah yang menjamin rezeki dan termasuk jalan keluarnya. "Dan ini benar, saya tidak minta sumbangan dan tidak buat proposal, warung ini jalan," kata dia.

"Uang saya hanya Rp10 juta sebagai modal awal padahal saya siapkan untuk satu tahun itu karena 1.000 porsi per hari dan dikalikan 250 hari kerja dalam satu tahun maka saya harus siapkan sekitar Rp1,7miliar untuk subsidi. Nyatanya yang Rp10 juta nggak habis-habis sudah dua bulan jalan," jelasnya.

Ia menambahkan, "Jadi kita menginisiasi virus kebaikan ke teman-teman. Yang mampu buka warung, yang tidak mampu saling bersedekah di sesamanya."

Terbukti. Virus kebaikan itu menyebar. Jusuf mengatakan nasi kuning dan menu pelengkap seperti pisang, kerupuk, dan lain-lain datang dari mereka yang juga ingin bersedekah. Ada dari unsur kepolisian, Kodam, karyawan, dan masyarakat biasa.

Untuk menu nasi kuning, Jusuf membeli dari warung lain dengan tujuan untuk memberdayakan warung-warung tersebut, bukan menjadi pesaing mereka. Ia membeli dengan harga Rp12-15 ribu per porsi dan dijual kembali kepada konsumen Podjok Halal seharga Rp3000 per porsi.

"Kalau yang satu senang yang lain tidak itu berarti sedekah saya tidak tercapai, artinya begitu," kata dia.

Meski terbuka untuk umum nonkaryawan PT CMNP, warung Podjok Halal lebih menyasar kaum duafa, pekerja harian lepas (PPSU), juru tambal ban, petugas kebersihan anak jalanan, dan lain-lain.

Setelah empat outlet di Sunter, Hayam Wuruk (tutup setelah digaruk Satpol PP), Palang Merah Indonesia (PMI) Kramat Raya, dan sebelah Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi, Jusuf mengatakan akan membuka warung serupa di seluruh Indonesia.

"Insya Allah kita akan buka ratusan outlet di seluruh Indonesia, sebab saya lihat respons masyarakat cukup posotif terhadap warung ini," tandasnya.

Jusuf mengaku ia memilih berdagang nasi kuning dalam berbuat amal karena ingin bernostalgia. "Dulu ibu saya kebetulan pedagang nasi kuning," tandasnya. (OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More