Mendikbud: Kalau Ujian itu Ya Sulit

Penulis: Antara Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 15:47 WIB Humaniora
Mendikbud: Kalau Ujian itu Ya Sulit

ANTARA

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan penyelenggaraan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tidak merugikan siswa sekolah karena soal-soal ujian yang sulit.

"Tidak ada. Merugikan apa? Kalau ujian itu sulit, ya itu pasti. Namanya ujian kok gampang? Ya kalau (gampang) itu tidak ada ujian. Tidak ada yang rugi. Kok tahu rugi, apanya yang rugi? Tidak ada," kata Muhadjir usai meresmikan pengurus baru Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) di Jakarta, hari ini.

Pelaksanaan UNBK tingkat sekolah menengah atas (SMA) mendapatkan keluhan dari sejumlah siswa karena soal-soalnya dianggap terlalu sulit dan tidak sesuai dengan kisi-kisi yang disampaikan dalam pelajaran di sekolah.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai Kemendikbud telah melakukan pelanggaran hak anak karena soal ujian yang diberikan terlampau sulit dan tidak bisa dikerjakan.

"Menguji anak-anak dengan soal yang materi dan jenis soalnya tidak pernah diajarkan adalah penyalahgunaan dalam pendidikan, tepatnya dalam evaluasi," ujar Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti di Jakarta.

Sebelumnya, Muhadjir mengatakan secara keseluruhan, masalah yang biasa terjadi selama ujian nasional adalah terkait gangguan listrik dan persoalan ketersambungan jaringan selama ujian berlangsung.

"Pertama itu masalah listrik, yang kedua masalah jaringan. Dan sekarang ini sudah kami minimalisir efek negatif dari faktor-faktor itu. Sudah kami hitung kemungkinan-kemungkinan (masalah) itu akan terjadi," tutur Muhadjir.

Keluhan soal Matematika, terutama Matematika IPS tersebut terkait dengan jumlah dan cakupan materi tidak sesuai kisi-kisi, tidak sesuai dengan cakupan materi di simulasi UN dan uji coba UN, dan tidak sesuai kaidah penyusunan soal yang baik.

Terkait akan hal itu, Muhadjir mengatakan bahwa tidak hanya matematikan yang tingkatan soalnya dipersulit dalam UNBK tahun ini. "Sebetulnya bukan hanya matematika, saya kira semua soal untuk UN tahun ini kita tingkatkan tingkat kesulitannya. Kita mulai menerapkan standar internasional baik itu untuk matematika, literasi maupun untuk IPA," jelasnya.

Peningkatan standar yang dimaksud Muhadjir adalah penerapan metode "higher order thinking skill" atau disebut HOTS, dengan mendorong siswa untuk memiliki kemampuan berpikir kritis. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More