Kinerja APBN semakin Baik

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 08:35 WIB Ekonomi
Kinerja APBN semakin Baik

Menteri Keuangan Sri Mulyani -- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

KEMENTERIAN Keuangan mencatat realisasi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga akhir Maret 2018 mencapai Rp85,77 triliun, atau sebesar 0,58% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp103,8 triliun, atau 0,76% terhadap PDB.

"Realisasi defisit anggaran yang turun ini menunjukkan pemerintah terus mengupayakan APBN agar terus dalam kondisi sehat dan fit. Kita juga antisipasi kondisi ekonomi, baik lingkungan regional atau global yang tidak selalu mudah," jelas Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantornya, kemarin.

Defisit tersebut didapat lantaran realisasi penerimaan negara hingga akhir Maret 2018 mencapai Rp333,8 triliun, atau 17,6% dari target dalam APBN 2018 yang sebesar Rp1.894,7 triliun. Pendapatan negara itu juga naik 12,7% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp296,2 triliun.

Penerimaan pajak dan bea cukai atau perpajakan hingga akhir Maret 2018 sebesar Rp262,4 triliun, atau 16,2% terhadap target yang sebesar Rp1.618,1 triliun, dan tumbuh 10,3% dari periode yang sama tahun lalu.

"Penerimaan perpajakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Ini menunjukkan denyut ekonomi kita mulai menunjukkan adanya kenaikan."

Sri Mulyani menggarisbawahi belanja bantuan sosial sepanjang kuartal I 2018 dari komponen belanja kementerian atau lembaga (K/L) yang mencapai Rp17,89 triliun, atau naik 87% dari kuartal I 2017 sebesar Rp9,53 triliun. Tingginya penyaluran bantuan sosial ditujukan untuk menyokong program perlindungan sosial.

Ia optimistis pertumbuhan ekonomu ke depan akan lebih baik dari kuartal I 2018 karena dukungan momen Lebaran pada kuartal II, penyelenggaraan Asian Games pada kuartal III dan Pertemuan Tahunan IMF-WB pada kuartal IV.

"Kita punya momentum untuk menjaga optimisme itu karena dari sisi pure domestik momentumnya semua positif," ujarnya.

Upaya pemerintah menjaga pengelolaan defisit anggaran berikut pembiayaan mendapat apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional. Teranyar, Moody's menaikkan sovereign credit rating Indonesia dari outlook positif menjadi stabil.

"Kita baru saja mendapatkan konfirmasi dari Moody's, terjadi peningkatan peringkat dari BAA3 ke BAA2. Faktornya karena kebijakan pemerintah yang kredibel dan efektif," ujar Sri.

Tetap dijaga

Terkait dengan kinerja APBN pada awal tahun yang sudah positif, ekonom Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi mengatakan di masa depan pemerintah masih perlu menjaga defisit anggaran dengan menggenjot penerimaan dan mengontrol belanja agar tepat sasaran.

"Pemerintah mesti perhatikan untuk jaga defisit anggaran. Dalam hal ini arus penerimaan harus tetap baik. Selain itu, belanja perlu dikontrol agar tepat sasaran," ujarnya ketika dihubungi tadi malam.

Eric memandang strategi pemerintah mengejar pundi-pundi penerimaan sudah berjalan baik. Namun, masih terdapat potensi peningkatan dengan perbaikan basis data (database) dan intensifikasi pengumpulan penerimaan pajak.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menggarisbawahi pertumbuhan penerimaan pajak yang positif mengindikasikan perbaikan aktivitas ekonomi domestik. Hal itu juga dikonfirmasikan peningkatan kegiatan impor dan pertumbuhan produksi dari sektor ekonomi.

"Meskipun target penerimaan pajak 2018 cukup challenging, target penerimaan pajak tumbuh 23,8% dari realisasi 2017. Namun, saya optimistis bahwa pemerintah dapat mengoptimalkan penerimaan pajak," tutur Josua. (X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More