Era Milenial belum Banyak Dimanfaatkan Kaum Muslim menjadi Pemain Pasar

Penulis: Agus Utantoro Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 07:14 WIB Ekonomi
Era Milenial belum Banyak Dimanfaatkan Kaum Muslim menjadi Pemain Pasar

ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO

ERA milenial dengan berbagai kemajuan teknologi informasi, juga memberi peluang bagi umat manusia termasuk kalangan muslim untuk berperan secara positif yang lebih besar. Di satu titik saja, era milinial yang salah satunya adalah dunia digital memberikan nilai lebih bagi pemasaran produk, komunikasi, manajemen hinga pengelolaan usaha secara integratif.

"Jika diperhatikan secara cermat dan dipersiapkan secara matang, bonus demografi dari generasi milenial menjadi peluang tumbuh suburnya ekonomi Indonesia," kata Rahmani Timorita Yulianti di kampus Universitas Islam Indonesia, Senin (16/4).

Dalam pidato Milad ke-75 UII itu, Rahmani mengatakan, pada era milenial ini banyak bermunculan lahan pekerjaan baru yang tumbuh dan berkembang di dunia termasuk di Indonesia.

Menurut dia, banyak pekerjaan dan bidang-bidang baru yang tidak ada pada era sebelumnya.

Ia mencontohkan, pada era sekarang, lahir berbagai marketplace yang dikenal luas oleh masyarakat dan bahkan merajai pasar termasuk di Indonesia yang di dalamnya terdapat pasar muslim yang sangat ramai.

"Sebut saja Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Lazada, Zalora, Elevania, Gojek, dan sebagainya yang telah muncul sebagai solusi praktis bagi banyak orang ketika ingin berbelanja, mencari layanan transportasi dan banyak lagi aktivitas manusia," katanya.

Namun yang menjadi pertanyaan, imbuhnya, seberapa banyak pengusaha muslim yang menguasainya? Deretan e-commerce tersebut ternyata banyak dikuasai saudagar nonmuslim yang piawai mengeruk keuntungan dari umat Islam yang masih lalai mengisi ruang peluang di era digital.

Selain bisnis online seperti e-commerce, toko online atau situs portal berita, lanjutnya, ada peluang industri baru yang bernama financial technology atau Fintech yang sifatnya disrupsional dan memberikan layanan keuangan berbasis teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

"Jumlahnya baru sekitar 130-an tetapi potensial menjadi masa depan financial services yang fenomenal," katanya.

Ia menambahkan keberadaan Fintech telah memberi kemudahan masyarakat mengakses berbagai produk keuangan, memudahkan transaksi dan meningkatkan literasi keuangan.

"Hanya perlu satu gawai untuk membayar tagihan listrik, membayar pembelian motor atau peralatan rumah tangga lainnya, memesan makanan dan bahkan memesan transportasi," tambahnya.

Namun, ujarnya, ternyata umat Islam masih betas hanya sebagai pasar bukan sebagai pemain kunci atau keyplayer.

"Jumlah umat Islam yang sangat besar tidak serta merta menjadi market leader. Dalam daftar sepuluh orang terkaya di Indonesia, hanya satu orang yang muslim enterpreneur," tegasnya.

Hal itu, lanjutnya, menyadarkan bahwa pekerjaan yang harus dilakukan oleh umat Islam masih sangat banyak.

Milad ke-75 Universitas Islam ini ditandai dengan Sidang Terbuka  Senat  Universitas Islam Indonesia yang dipimpin Rektor Nandang Sutrisno serta Wakil Gubernur DIY Paku Alam X, dan seluruh  sivitas akademika. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More