Kawasan Penyangga Jakarta Sumbang Banyak untuk Ekonomi Nasional

Penulis: Yanurisa Ananta Pada: Senin, 16 Apr 2018, 22:45 WIB Ekonomi
Kawasan Penyangga Jakarta Sumbang Banyak untuk Ekonomi Nasional

ANTARA
Menteri Kordinator Perekonomian Darmin Nasution berbicara dihadapan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pusat Inkubasi Bisnis Syariah Majlis Ulama Indonesia (Pinbas MUI) di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (14/2).

KEBERADAAN daerah penyangga Jakarta ternyata penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, Jakarta, dan daerah penyangganya yakni Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur (Jabodetabekpunjur) menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nasional sebesar 19,93%.

"Hal ini memicu perkembangan properti skala besar yang tumbuh di kota sekitar seperti di Deltamas, BSD, Tiga Raksa, Cikarang, Sentul, dan lain-lain," kata dia di Hotel Grand Sahid, Senin (16/4).

Darmin menambahkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi berdampak langsung pada tingginya pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk di kawasan Jabodetabekpunjur saat ini mencapai 2,9% persen.

"Sebagai pusat kegiatan ekonomi Jabodebekpunjur memiliki daya tarik penduduk untuk migrasi ke wilayah tersebut membuat laju pertumbuhan jumlah penduduk sangat tinggi. Jumlah penduduk di kawasan ini 22 juta jiwa pada 2012 dan sekarang 32 juta jiwa," bebernya.

Sebagai konsekuensi, kondisi tersebut secara langsung berdampak pada peningkatan kebutuhan ruang untuk tempat tinggal, tempat kegiatan usaha, dan infrastruktur. Sehingga menyebabkan adanya konversi lahan dari lahan nonterbangun menjadi lahan terbangun.

"Kebutuhan akan ruang atau tempat tinggal, tempat usaha dan infrastruktur tentu saja baik jalan, terminal, bandara, pelabuhan, jaringan air bersih, air limbah, pembangkit listrik dan sebagainya. Sementara daya dukung lahan terbatas sehingga timbul berbagai permasalahan," kata Darmin.

Masalah
Sementara itu, jumlah lahan di kawasan Jabodetabekpunjur terbatas. Padahal, saat ini konversi lahan tidak terbangun menjadi terbangun dari 2012-2015 sudah mencapai 48%. Adapun, lahan sawah yang terkonversi menjadi bangunan mencapai 24,3%.

Persoalan lain yang menjadi perhatian Darmin adalah banjir. Ia mencatat banjir di Kawasan Jabodetabekpunjur pernah terjadi pada tahun 1699, 1714, 1854, 1918, dan 1996. Seiring dengan semakin banyaknya pertumbuhan fenomena banjir lebih sering terjadi beberapa tahun terakhir. Banjir besar yang terjadi tercatat pada 2002, 2007, 2008, dan 2013.

"Banjir tentu karena peningkatan debit sungai sebab perubahan kondisi hulu dan sedimentasi mengurangi kapasitas penampungan aliran sungai," kata dia.

Banjir saat ini dinilainya lebih mengancam Kawasan Jakarta Utara disebabkan penurunan muka tanahnya yang semakin parah. Pada 1990, hanya 12% atau 1600 hektar lahan di Jakarta Utara yang berada di bawah permukaan laut.

Diperkirakan pada 2030 hampir 90% atau 12.500 lahan di Jakarta Utara yang berada di bawah permukaan laut. Hal ini disebabkan adanya penurunan muka tanah di Jakarta rata-rata 7,5 centimeter per tahun.

"Jakarta Utara akan kena banjir baik dari laut maupun dari sungai karena air sungai tak dapat menuju ke laut," kata dia. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More