Inovasi dan Produktivitas Kunci bagi Industri 4.0

Penulis: Raja Suhud Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 09:00 WIB Ekonomi
Inovasi dan Produktivitas Kunci bagi Industri 4.0

MI/Caksono

REVOLUSI Industri tahap empat atau sering disebut Industri 4.0 tidak bisa dihindari. Agar bisa mengambil keuntungan dari revolusi industri itu, inovasi dan produktivitas menjadi kata kunci yang harus diperkuat.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat berbicara dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 mengatakan perbedaan antara revolusi industri ketiga dan keempat ialah penciptaan nilai tambah pada setiap rantai produksi. Rantai produksi yang tidak menghasilkan nilai tambah akan hilang.

"Oleh karena itu, inovasi dan produktivitas pekerja menjadi hal yang penting. Bila tidak menghasilkan nilai tambah, mata rantai yang ada dalam rantai produksi bisa saja dihilangkan," kata Airlangga.

Pemerintah mendorong agar pelaku industri melakukan inovasi atas upaya pengembangan produk dan proses produksi dengan mengintensifkan penelitian dan pengembangan serta pendidikan vokasi.

"Kami usulkan ke Kementerian Keuangan, insentif pengurangan pajak hingga 300% bagi industri yang aktif melakukan riset dan pengembangan serta pendidikan vokasi," ujar Airlangga.

Ia menyebut ada lima sektor industri yang akan menjadi pendorong perkembangan Industri 4.0 (lihat grafik). Pemilihan industri itu sejalan dengan postur ekonomi Indonesia yang bertumbuh pada sektor konsumsi.

"Indonesia memiliki modal paling besar untuk pengembangan industri petrokimia karena memiliki program jaminan healthcare terbesar di dunia," tandasnya.

 

Pekerjaan baru

Satu hal yang perlu dilakukan kalangan industri dan dunia usaha ialah mengantisipasi kebutuhan pekerjaan yang dibutuhkan dalam Industri 4.0 ini.

"Setiap revolusi industri pasti akan menggerus sejumlah pekerjaan. Namun, revolusi industri juga memunculkan pekerjaan baru. Ini yang perlu dipersiapkan," kata Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker Bambang Satrio Lelono.

Dalam menyikapi revolusi industri yang diakibatkan berkembangnya teknologi internet dibutuhkan pemetaan jabatan-jabatan pekerjaan baru. Sebagai contoh, ke depan produk mobil listrik akan menjadi andalan di pasar otomotif, maka desain pendidikan mulai tingkat SMK dan perguruan tinggi harus menuju ke sana.

Data Kemenaker menyebutkan total angkatan kerja usia produktif mencapai 192 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 128 juta angkatan kerja merupakan usia produktif dan 64 juta bukan angkatan kerja produktif. Dari angkatan kerja 121 juta orang, sebanyak 7,04 juta orang ialah penganggur terbuka.

Sementara itu, dalam pasar kerja, jumlah pekerja paruh waktu atau setengah menganggur sangat besar yakni sekitar 51 juta orang. Sebanyak 60% berpendidikan SMP ke bawah, sebanyak 27% pendidikan SMA sederajat, dan 12% lulusan perguruan tinggi.

Dari komposisi tersebut, angkatan kerja nasional 88% didominasi operator dan hanya 12% memiliki kemampuan perekayasa.

"Justru pendidikan menengah ke atas yang banyak menganggur. Hal ini yang harus diantisipasi sejak di pendidikan menengah dan tinggi," kata Bambang.  (Ant/E-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More