Peningkatan Ekspor Komoditas Bisa Lanjutkan Surplus

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Senin, 16 Apr 2018, 22:20 WIB Ekonomi
Peningkatan Ekspor Komoditas Bisa Lanjutkan Surplus

MI/PERMANA

KINERJA perdagangan nasional pada kuartal I 2018 mengalami surplus US$1,09 miliar. Surplus perdagangan yang didorong kenaikan ekspor nonmigas dan penurunan impor barang konsumsi merupakan sinyal positif bagi perbaikan ekonomi.

“Ke depannya pemerintah bisa mempertahankan kinerja surplus dengan mendorong ekspor komoditas di tengah membaiknya harga komoditas dan peningkatan permintaan global,” ujar ekonom Indef Bhima Yudhistira kepada Media Indonesia, Senin (16/4).

Kenaikan harga minyak dunia yang kian terdorong konflik Suriah, diprediksi akan membawa harga komoditas strategis tersebut menembus level US$80 per barel. Kondisi itu berpotensi meningkatkan harga minyak kelapa sawit (CPO) dan batubara.

Bhima mengimbau pemerintah untuk memanfaatkan momentum tersebut sekaligus memperluas pasar tujuan ekspor ke negara-negara nontradisional atau pasar yang belum lazim menjadi tujuan ekspor RI. Ia mencontohkan Amerika Latin, Afrika, Pakistan, dan Bangladesh.

“Momentum kenaikan harga minyak dunia harus ditangkap, karena melihat ekspor CPO itu mengalami penurunan akibat adanya pelarangan impor CPO dalam kandungan makanan dan minuman di Inggris. Kemudian, kenaikan bea masuk CPO di India yang menurunkan jumlah ekspor secara signifikan,” terang Bhima.

Di samping itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah mengingat efeknya relatif besar terhadap peningkatan biaya impor. Apalagi jelang Ramadan impor barang konsumsi berpotensi meningkat.

Pun, insentif dalam rangka mendorong barang jadi bernilai tambah sebaiknya terus digulirkan. Dengan begitu, kata Bhima, nilai ekspor tetap stabil meski ekonomi global dibayangi ketidakpastian.

Adapun, ekonom CSIS Yose Rizal Damuri memandang kelanjutan surplus neraca perdagangan Indonesia dipengaruhi geliat ekonomi global. Hal itu mengingat belakangan ini terjadi sejumlah permasalahan yang mengguncang ekonomi global, mulai dari perang dagang Tiongkok-AS hingga konflik Suriah.

“Jadi apakah (surplus) berkelanjutan atau tidak tergantung dari apakah pemulihan ekonomi dunia terus berlanjut atau tidak. Beberapa estimasi pertumbuhan sudah diturunkan. Misalnya ADB (Asian Development Bank) yang menurunkan pertumbuhan Asia Pasifik dari 6,6% menjadi 6,3%,” kata Yose saat dihubungi Media Indonesia.

Surplus neraca perdagangan, sambung Yose, tidak lepas dari peningkatan harga komoditas sebagai imbas membaiknya permintaan terhadap barang tambang dan produk manufaktur. Di lain sisi, dia menggarisbawahi urgensi mewaspadai peningkatan impor migas dari bulan sebelumnya seiring kenaikan harga minyak dunia.

“Kalau ini berlanjut, (nilai) impor migas tentu akan meningkat terus. Ini kemudian meningkatkan harga BBM domestik. Selain itu, juga ada impor konsumsi yg terus meningkat (menjelang Ramadhan),” tutup dia. (A-2)
 

Berita terkait : Neraca Perdagangan Maret 2018 Berbalik Surplus

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More