Memeras, Pegawai Pajak Bangka Terjaring OTT

Penulis: Rendy Ferdiansyah Pada: Selasa, 17 Apr 2018, 08:20 WIB Nusantara
Memeras, Pegawai Pajak Bangka Terjaring OTT

Ilustrasi

KARENA diduga memeras wajib pajak dengan nilai Rp50 juta, pegawai pajak, RA, yang bertugas di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bangka, kemarin, terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Bangka Belitung.

Wakil Direktur Kriminal Khusus (Wadirkrimsus) Polda Babel, Ajun Komisaris Besar (AKB) Indra Krimayandi, mengatakan RA ditangkap di Bangka Botanical Cafe di Jalan Ayani Pangkalpinang. Dari tangannya, lanjut Indra, barang bukti uang pecahan Rp50 ribu dengan total Rp50 juta dalam amplop warna cokelat disita. Dua ponsel dan kartu kredit atas nama tersangka juga diambil.

“Tersangka ini kita tangkap berdasarkan laporan dari wajib pajak yang mengaku diperas tersangka. Nah dari tangan tersangka kita amankan uang tunai Rp50 juta, yang kita duga uang hasil pemerasan,” kata Indra, dalam jumpa pers, kemarin.

Indra menyebutkan modus yang dilakukan tersangka ialah menghubungi wajib pajak (korban), kemudian tersangka mengirim nomor rekening kepada korban untuk meminta sejumlah uang. Karena permintaan RA tidak dipenuhi korban, ujar Indra, tersangka mengirimkan data kepemilikan saham dan mengancam akan mengeluarkan surat imbauan/teguran atas pas final, dengan alasan korban belum melaporkan saham tersebut pada saat Tax Amnesty 2016/2017. “Modusnya tersangka minta sejumlah uang kepada wajib pajak itu karena wajib pajak tidak melaporkan sahamnya saat tax amnesty. Jumlahnya mencapai Rp700 juta,” ujarnya.

Karena merasa ditekan RA, Senin (9/4), setelah melaporkan ke pihak kepolisian, korban menjebak pegawai pajak tersebut dengan sengaja mengajaknya bertemu di sebuah kafe di Jalan Ayani Pangkalpinang. Di lokasi itu korban seolah-olah menuruti kemauan RA dengan menyerahkan uang seperti yang diminta.

Transaksi seakan-akan berjalan normal sesuai dengan skenario RA. Namun, sekitar pukul 13.40 WIB tersangka diringkus petugas saat membawa uang Rp50 juta ke mobil toyota Rush miliknya. “Kita tangkap saat membawa uang hasil pemerasan ke dalam mobilnya.

Saat itu ia berusaha kabur, tapi berhasil kita tangkap,” ungkap Indra. Indra membenarkan wajib pajak yang diperas tersangka memang mempunyai usaha, tetapi usahanya sudah tidak berjalan lagi. Hal itu jadi kesempatan tersangka memerasnya. “Atas perbuatan ini, tersangka terancam hukuman 3 hingga 4 tahun penjara,” ucap Indra.


Proses hukum

Kepala KPP Pratama Bangka Dwi Hariadi, dalam menanggapi aksi anak buahnya, menegaskan OTT terhadap pegawai pajak Bangka harus dijadikan sebagai pelajaran bagi seluruh petugas pajak. Dwi menuturkan RA untuk sementara sudah diskors dari tugasnya, yaitu petugas pengawas dan konsultasi pajak KPP Pratama Bangka.

Selanjutnya, KPP Pratama Bangka, menurut dia, menyerahkan seluruh proses hukum ke pihak kepolisian dan tindakan lanjutan akan dikenakan setelah ada keputusan hukum tetap. Dwi pun mengimbau seluruh masyarakat atau wajib pajak jangan mengiming-imingi petugas pajak dengan sejumlah uang untuk menutupi kewajiban pajak. Wajib pajak, jika menemui ada petugas yang bermain seperti kasus RA, supaya melapor ke pihak berwajib.

“Wajib pajak jangan mengiming-imingi petugas dengan uang. Jika ada wajib pajak yang merasa diperas, silakan melapor, sebab kasus ini membuat saya kaget, ternyata di tubuh KPP Pratama belum sepenuhnya bersih, masih ada yang nakal,” tegasnya.(N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More