Aktivitas Ekonomi Masyarakat Meningkat

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Senin, 16 Apr 2018, 20:05 WIB Ekonomi
Aktivitas Ekonomi Masyarakat Meningkat

Ilustrasi

KINERJA Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I 2018 menunjukkan peningkatan cukup signifikan di komponen penerimaan. Realisasi penerimaan perpajakan Januari-Maret 2018 tercatat Rp262,4 triliun atau mencapai 16,2% dari target APBN.

Kondisi tersebut memberikan sinyal positif adanya peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Apabila tidak memperhitungkan uang tebusan tax amnesty triwulan I 2017, sebenarnya pertumbuhan penerimaan pajak pada kuartal I 2018 masih tumbuh positif, yakni 16,21%. Pertumbuhan positif penerimaan pajak pada periode ini bahkan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2015 lalu,” urai Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (16/4).

Penerimaan perpajakan disokong realisasi penerimaan pajak kuartal I 2018 sebesar Rp244,5 triliun atau tumbuh 9,94% dari kuartal I 2017. Pertumbuhan positif penerimaan pajak didorong pertumbuhan pajak penghasilan (PPh) nonmigas sebesar 8,36% (year on year/yoy) dengan nilai Rp132,8 triliun.

Selanjutnya, pertumbuhan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tercatat 15,03% (yoy) dengan besaran Rp98,7 triliun.

Pertumbuhan penerimaan pajak kuartal I 2018 turut ditopang berbagai jenis penerimaan pajak yang berasal dari kegiatan impor dan produksi. Di antaranya, PPh Pasal 21 tumbuh 15,73%, PPh Badan tumbuh 28,42% dan PPN dalam negeri tumbuh 13,06%.

Aspek penerimaan bea dan cukai, lanjut Menkeu, pun berkembangpositif. Penerimaan kepabeanan dan cukai hingga 31 Maret 2018 sebesar Rp17,89 triliun atau 9,22% dari target APBN. Capaian itu lebih tinggi dari penerimaan pada periode serupa 2017 yang sekitar Rp15,4 triliun.

Penerimaan kepabeanan dan bea cukai mencakup penerimaan rutin sebesar Rp16,92 triliun dan upaya ekstra sebesar Rp2,45 triliun. Pertumbuhan positif tidak hanya tecermin dari total penerimaan, namun juga terjadi pada seluruh komponen. Penerimaan itu meliputi bea masuk sebesar Rp8,41 triliun, bea keluar sebesar Rp1,43 triliun dan cukai Rp8,05 triliun.

Dari aspek penerimaan negara bukan pajak (PNBP), Sri Mulyani mengemukakan realisasi penerimaan sepanjang kuartal I 2018 mencapai Rp71,09 triliun atau 25,81% dari target APBN. Realisasi itu mengalami pertumbuhan 22,6% jika dibandingkan dengan periode sama 2017.

Kenaikan penerimaan PNBP dipicu membaiknya harga komoditas, terutama minyak mentah dan batu bara. Secara spesifik, penerimaan PNBP disokong penerimaan sumber daya alam (SDA) minyak dan gas bumi (migas) sebesar Rp27,87 triliun atau tumbuh 43,25%.

Kemudian, penerimaan SDA nonmigas tercatat Rp8,12 triliun atau tumbuh 18,35%. Komponen lain yang menyokong penerimaan PNBP ialah penerimaan bagian laba badan usaha milik negara (BUMN) sebesar Rp31,08 miliar, berikut realisasi penerimaan PNBP lainnya Rp 24,92 triliun.

“Penerimaan perpajakan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Artinya denyut ekonomi kita mulai alami kenaikan. Jadi pertumbuhan seluruh komponen penerimaan negara tumbuh double digit yang sangat strong," tuturAni, sapaan akrab Sri Mulyani.

Menurut Menkeu, data penerimaan perpajakan mengonfirmasi adanya optimisme dari dunia usaha menyusul kebijakan pemerintah yang menggulirkan investasi dan lakukan penyederhanaan perizinan serta layanan.

"Ini sekaligus menunjukkan upaya pemerintah menjaga momentum pertumbuhan berada dalam on the right track,” pungkas Menkeu. (A-2)

 

Berita terkait: Defisit Anggaran Menyusut

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More