Ubah Tradisi Nikah Dini, Kuatkan Kultur Edukasi

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Senin, 16 Apr 2018, 10:03 WIB Humaniora
Ubah Tradisi Nikah Dini, Kuatkan Kultur Edukasi

Sejumlah anak perempuan tengah belajar di MTs Pakis, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Sekolah itu merupakan sekolah alternatif untuk anak-anak pinggiran. Sekolah itu tidak hanya mengajarkan mata pelajaran pada umumnya,

PERJALANAN menuju Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) harus melalui aspal yang mulai mengelupas dan sebagian rusak. Laju kendaraan harus pelan, karena jalannya menanjak. Kanan kiri merupakan hutan pinus milik Perhutani. Sesekali terdengar ciutan burung dari yang bertengger di atas ranting dan dahan pohon.

Di sudut dusun terpencil itulah, ada bangunan dengan ukuran 7x17 meter serta 7x13 meter. Itulah sekolah alternatif untuk anak-anak kampung terpencil. MTs Pakis, namanya.

Dinamakan Pakis, karena nama itu merupakan salah satu sayuran khas pegunungan. Pakis juga merupakan kependekan dari Piety atau kesalehan, Achievement berarti prestasi, Knowledge adalah ilmu pengetahuan, Integrity atau integritas, dan Sincerity atau keikhlasan.

Pada Kamis (12/4), ruangannya kosong. Para siswanya memang tidak  terlihat di kelas. Mereka ternyata sedang berada di kebun yang merupakan kompleks sekolah. Para siswa tengah menanam sayur pakis.

"Hari ini, kami menanam pakis, salah satu sayuran yang biasanya tumbuh di wilayah pegunungan. Kami menanam pakis untuk memenuhi kebutuhan kami," ungkap Sukenti, 14, yang kini duduk di kelas 8 MTs Pakis.

Setelah menanam pakis, mereka kemudian bergerak ke areal lainnya untuk memetik cabai serta kangkung darat.

"Untuk kangkung, sudah ada yang dapat dipetik. Sekalian ini mengambil cabai. Lumayan menjadi bahan-bahan untuk dimasak hari ini," ungkapnya.

Sebagian dari para siswa, khususnya laki-laki, tidak hanya belajar di MTs Pakis. Mereka juga menginap di sekolah tersebut. Makanya, di MTs Pakis, mereka juga memasak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sedangkan para siswa perempuan, biasanya pulang ke rumah mereka di Desa Sambirata dan Gununglurah. Saban harinya, mereka berjalan kaki melewati jalan setapak di perbukitan itu.

Siswa lainnya, Fitriana, 14, yang juga kelas 8, menambahkan, di MTs Pakis, tidak hanya diajar pendidikan formal, melainkan juga ditanamkan kearifan lokal.

"Kami kan umumnya bertempat tinggal di desa sekitar hutan. Oleh karena itu, kami juga dididik bagaimana mencintai alam dan lingkungan. Termasuk bagaimana mempelajari agroforestri, yakni bagaimana
membudidayakan tanaman pertanian, peternakan, dan perikanan yang tidak merusak pepohonan tahunan di pinggiran hutan," jelasnya.

Baik Sukenti maupun Fitriana berasal dari keluarga miskin di sekitar hutan. Jika belajar di SMP formal, ongkos operasionalnya tinggi.

Memang benar, bahwa SMP telah gratis biayanya, tetapi untuk  menjangkaunya memerlukan biaya transportasi. Oleh karena itu, mereka lebih memilih di MTs Pakis.

"Saya bersekolah di sini karena selain gratis, juga tidak ada biaya transportasi. Karena cukup dengan jalan kaki, meski jaraknya jauh. Di sini juga berbeda dengan sekolah umum. Sebab, di MTs Pakis mengajarkan banyak hal di luar pelajaran umum," ungkap Fitriana.

Sasar anak pinggiran

MTs Pakis didirikan di Dusun Pesawahan berawal ketika para relawan pendidikan di Banyumas dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Argowilis melakukan survei tingkat pendidikan di desa-desa sekitar hutan pada 2013.

Ada persoalan besar yakni kemiskinan. Kondisi kemiskinan itulah yang kemudian membuat anak-anak pinggiran tidak sekolah. Yang laki-laki kerja, sedangkan perempuan biasanya menikah dini. Bahkan, waktu itu ditemukan anak yang tidak bersekolah karena harus bekerja menghidupi adik-adiknya.

"Dari sinilah, kemudian para pegiat pendidikan sepakat mendirikan sekolah alternatif di lokasi itu. Anak yang dulunya bekerja menghidupi adik-adiknya, bernama Tasripin, kini menjadi salah satu siswa di sekolah kami," ungkap Kepala Sekolah MTs Pakis Isrodin.

Awalnya, bangunan sekolah hanya berasal dari anyaman bambu. Dalam perkembangannya, ada bantuan dari Kementerian Agama yang mengalokasikan anggaran untuk membangun gedung sekolah di dusun terpencil itu. Proses pembangunannya melibatkan masyarakat sekitar, organisasi masyarakat, dan para relawan.

Isrodin mengatakan tidak gampang mengubah pola pikir anak-anak dusun terpencil agar mau sekolah. Dengan kondisi hidup mereka yang miskin, biasanya gampang menyerah. Mereka memilih meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja, terutama yang pria. Kalau perempuan biasanya dijodohkan dan menikah.

"Kami masih memiliki kendala semacam itu sampai sekarang. Ada beberapa anak yang meninggalkan MTs Pakis untuk menikah dan bekerja. Ini sebuah realita yang membutuhkan kepedulian semua pihak," jelasnya.

Tradisi nikah dini di desa-desa terpencil masih cukup kental, sehingga dibutuhkan penguatan kultur edukasi untuk membongkar tradisi itu. Selain melakukan pendekatan kepada para orangtua, anak-anak juga terus dimotivasi.

"Mendidik anak-anak pinggiran, tidak hanya pelajaran formal namun juga menguatkan semangat serta berani untuk tidak menikah dini. Di sisi lain, kami mengembangkan pendekatan dengan mengunjungi keluarga di dusun-dusun terpencil ini. Bagi yang memiliki anak yang belum sekolah, kami dorong agar melanjutkan pendidikani," tegasnya.

Pendekatan yang dilakukan para relawan khususnya kepada para orangtua adalah menguatkan ekonomi mereka.

"Anak yang putus sekolah, kemudian dorongan agar menikah dini, salah satu faktor utamanya adalah soal ekonomi. Oleh karena itu, kini, kami juga mendekati para orangtua agar ikut serta dalam pengembangan ekonomi warga. Salah satunya yang kini dikembangkan adalah makanan kecil seperti keripik tempe. Sudah berjalan, meski produksinya belum banyak. Ini menjadi salah satu upaya meningkatkan ekonomi warga," kata Isrodin.

Kini, imbuhnya, ada 18 anak desa tepian hutan yang menjadi siswa di MTs Pakis. Mereka benar-benar dimotivasi agar terus belajar mengejar cita.

"Salah satu motivatornya adalah para relawan pendidikan yang mengajar di MTs Pakis. Mereka dulunya juga dari kalangan tidak mampu, mengikuti sekolah di boarding school Baturraden. Ketika belajar di sana, mereka juga ikut serta mendirikan MTs Pakis dan menjadi pengajar. Bahkan, sampai sekarang kuliah, ada juga yang telah lulus, tetap menyempatkan mengajar. Mereka menjadi contoh nyata bagi para siswa di sini," ungkapnya.

Salah seorang relawan pendidikan di MTs Pakis, Roif,  yang kini kuliah di Fakultas Dakwah, IAIN Purwokerto dengan beasiswa UKT Rp0, mengatakan dirinya ikut serta mendirikan MTs Pakis bersama-sama dengan para siswa boarding school Baturraden waktu itu.

"Saya juga orang miskin dari Batang. Ingin sekolah, tetapi mencari sekolah yang sesuai sulit. Saya menemukan di Baturraden. Dan ternyata, meski sekolah alternatif dan mengikuti ujian Kejar Paket C, ternyata bisa masuk ke IAIN. Alhamdulillah dapat beasiswa juga," ungkap Roif.

Selain sebagai pengajar, ia juga menjadi motivator bagi anak-anak desa pinggiran hutan. Dengan pengalamannya sebagai anak desa yang miskin, ia berbagi pengalaman kepada mereka.

"Biasanya, pengalaman nyata yang kita alami bakal menjadi motivasi luar biasa untuk mereka. Kami di sini inginnya mereka kuliah semua dan menjadi sarjana, sehingga dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik," tandasnya.

Tidak hanya Roif, salah satu pendiri MTs Pakis juga, Yuliatun, kini telah menyandang gelar sarjana muda, lulusan Fakultas Peternakan Unsoed dengan predikat cum laude juga berusaha menjadi motivator.

"Saya dulu juga lulusan dari boarding school atau sekolah alternatif. Padahal, saya sudah setahun bekerja menjadi babysitter di Jakarta. Kini, saya berusaha untuk terus memotivasi anak-anak tidak mampu untuk berani berusaha keras mengikuti pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi," tegas Yuliatun.

Dibutuhkan peran bersama-sama untuk terus menguatkan kultur edukasi, agar orangtua dan anak-anak di pinggiran hutan mengubah pola pikir mereka, meninggalkan tradisi nikah dini. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More