Mempertahankan Kerajinan Burqa Di Tengah Gempuran Impor

Penulis: Denny Parsaulian Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 20:32 WIB Internasional
Mempertahankan Kerajinan Burqa Di Tengah Gempuran Impor

AFP PHOTO / FARSHAD USYAN

MURAH, bahan burka nilon buatan Tiongkok kini membanjiri Afghanistan. Sebagai beralih ke kain yang diproduksi massal yang terjangkau. Tetapi di Kabul, sebuah rumah mode kecil bertekad berjuang untuk melestarikan tekstil tradisional yang dulu merupakan bagian integral dari budaya Afghanistan.

Diluncurkan pada 2006 -Zarif artinya berharga dalam bahasa Persia- menggunakan kapas tradisional dan sutra dari penenun artisanal. Rumah inj mempekerjakan lebih dari dua lusin orang, umumnya pwrempuan, untuk menyesuaikan dan merancang kain menjadi pakaian bordir buatan tangan.

"Tapi dengan impor lebih murah yang membanjiri pasar, Zarif berjuang untuk mempertahankan metode tradisional lokal," kata pendiri Zolaykha Sherzad.

Hanya beberapa dekade yang lalu, industri tekstil setara dengan karpet legendaris Afghanistan, yang terkenal sejak zaman jalur sutra.

Selama masa kejayaannya, tekstil lebih dari sekadar kain, dengan pola, warna, dan sulaman yang menerangi asal-usul dan sejarah kesukuan pembuatnya. "Di masa lalu, kain-kain itu seluruhnya disulam, di dinding, bantal ... gaun pengantin," kata Sherzad.

"Tapi sekarang, kami berusaha keras hanya untuk menjaga mereka sebagai hiasan di jaket dan mantel, untuk menjaga pengetahuan," tambahnya.

Penurunan permintaan kerajinan ini telah membuat banyak wanita menganggur. Padahal dulunya mereka bisa memenuhi nafkah di rumah mereka.

Bersama Zarif, para wanita ini berharap dapat mengisi kekosongan sambil melestarikan tradisi tekstil Afghanistan dan merancang gaya kontemporer busana Afghanistan.

Kunjungan ke bazaar di Mazar-i-Sharif utara menunjukkan tantangan yang dihadapinya. Di sana, berkas-berkas mantel bergaris dan berlapis, atau chapans - dipopulerkan di Barat oleh mantan Presiden Hamid Karzai - menumpuk di tumpukan di kios-kios.

"Terlalu terang," katanya, membuang kain sintetis itu. Untuk banyak konsumen, mereka memiliki daya tarik sendiri. Barang tiruan yang lebih murah dicetak dengan nilon, bukan sutra, meniru desain tradisional dengan sempurna, tetapi harganya hanya sepertiga dari asli.

“Ini harganya 800 hingga 1.200 Afghanis (US$11 hingga US$18). Bandingkan dengan 2.500 (US$36) untuk chapan tradisional,” jelas Abdullah, seorang pedagang.

Sekarang hanya orang kaya yang mampu membeli chapans sutra buatan tangan. Biasanya mereka membelikannya sebagai hadiah pernikahan. Sementara orang-orang kelas menengah dan pekerja memilih desain-desain sintetis.

Pasar di Mazar juga dibanjiri burqa poliester perempuan Afghanistan. Tetapi kain yang digunakan untuk pakaian ini datang dari luar negeri.

"Tiongkok, India, Pakistan, semuanya berasal dari luar," kata Hashem, seorang penenun untuk Zarif.

Di halaman rumahnya di pinggiran Mazar, dia mempekerjakan 10 wanita yang menenun untuknya.

“Di masa lalu, saya punya 10 keluarga yang bekerja untuk saya, hari ini saya punya empat,” katanya sambil meremas gulungan kapas yang baru saja dicelup.

"Sebelumnya, 80% dari bahan mentah berasal dari pasar lokal, saat ini 80% berasal dari luar negeri."

Dengan mendirikan Zarif, Sherzad ingin mempromosikan pekerja perempuan. Tapi dilarang di bawah pemerintahan Taliban dari 1996-2001.

Menurut data Bank Dunia, 19% perempuan Afghanistan dipekerjakan pada 2017, tidak termasuk sektor pertanian informal.

Meskipun krisis ekonomi telah terjadi sejak lebih dari 100.000 pasukan NATO ditarik di akhir 2014, Zarif masih mempekerjakan 26 karyawan di halamannya yang terletak di sebelah sebuah masjid.

Sekitar 60% dari tim Zarif adalah perempuan, termasuk direktur Nasima dan manajer produksi Sara.

Sejak didirikan, Zarif telah melatih lebih dari 85 wanita. Tetapi sebagian besar dari mereka telah meninggalkan pekerjaannya atas permintaan suami mereka yang enggan menerima kehadiran pria lain di dekat pasangan mereka, setelah menikah.

"Pembatasan pekerja perempuan terus dilakukan suami mereka,” kata Sherzad. Untuk bertahan hidup, Zarif mengandalkan koneksi di Paris, di mana perusahaan ini didukung oleh merek fashion Prancis 'Agnes b', bersama dengan para pelanggan setia setia di New York.

Sutra tenunan dari kota barat Herat pernah digunakan oleh produsen Afghanistan untuk turban. Sekarang diekspor ke Iran. "Hanya ada satu seniman yang tersisa di Afghanistan yang tahu kerajinan itu," kata Sherzad.

“Perlu melatih orang lain, tapi untuk apa? Orang muda tidak lagi memakai turban. Kita harus menemukan sesuatu yang lain yang menggunakan sutra. ” (OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More