Tim Penyelidik Serangan Kimia di Suriah Hadapi Tugas Sulit

Penulis: Denny Parsaulian Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 20:23 WIB Internasional
Tim Penyelidik Serangan Kimia di Suriah Hadapi Tugas Sulit

AFP/Jose ROMERO

PARA inspektor internasional dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW) dipastikan mulai bekerja Minggu pekan depan (22/4) di area dekat Damaskus, Suriah, di mana serangan senjata kimia diduga terjadi pada Sabtu (7/4) lalu. Serangan dengan senjata kimia ini menyebabkan blok Barat menyerang tiga titik di Suriah pada Sabtu (14/4).

"Tim pencari fakta tiba di Damaskus pada Sabtu dan dijadwalkan pergi ke Douma pada hari Minggu," kata Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Ayman Soussan.

Tim ahli kimia OPCW yang bermarkas di Den Haag, telah tiba di Damaskus beberapa jam setelah serangan. Mereka ditugaskan untuk menyelidiki lokasi serangan 7 April di kota Douma, tepat di sebelah timur Ibu Kota Suriah, Damaskus. Kekuatan Barat mengatakan serangan itu melibatkan klorin dan sarin dan membunuh puluhan orang.

"Kami akan memastikan mereka dapat bekerja profesional, obyektif, tidak memihak, dan bebas dari tekanan pihak manapun," katanya seraya menambahkan bahwa dia yakin para ahli akan membuktikan bahwa senjata kimia tidak pernah digunakan.

OPCW sendiri pernah menyatakan bahwa persediaan senjata kimia Suriah telah disingkirkan pada 2014. Para inspektor OPCW bakal menghadapi tugas sulit. Apalagi semua 'pemain kunci' telah menyampaikan temuan mereka. Termasuk kekuatan Barat yang bahkan telah melakukan serangan setelah mengklaim mereka memiliki bukti sah.

Selain itu, OPCW juga harus menghadapi risiko bahwa bukti-bukti kemungkinan telah dipindahkan dari lokasi yang bakal diinspeksi, terutama yang terletak di area yang dikendalikan polisi militer Rusia dan pasukan Suriah.

"Kemungkinan itu selalu harus diperhitungkan, dan penyelidik akan mencari bukti yang menunjukkan apakah lokasi kejadian telah dirusak," kata konsultan dan anggota dari misi OPCW yang sebelumnya pernah ke Suriah, Ralf Trapp. (AFP/Ol-7)

 

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More