Pekerja Keras yang Pantang Mundur

Penulis: Zhi/M-1 Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 11:30 WIB WAWANCARA
Pekerja Keras yang Pantang Mundur

MI/ADAM DWI

DUA pekan terakhir ini Uli Silalahi sedang bahagia-bahagianya, bukan karena kesuksesan pameran buku Big Bad Wolf (BBW) 2018 semata, melainkan juga karena urusan-urusan lain. "Selain BBW urusan-urusan lain saya juga banyak dan saya happy banget selama dua minggu ini," ujar Presiden Direktur PT Jaya Ritel, penyelenggara pameran buku Big Bad Wolf (BBW) itu dengan wajah semringah saat berbincang dengan Media Indonesia, Kamis (5/4) sore lalu.

Wajahnya saat itu terlihat segar dengan sapuan tipis bedak, alis mata, dan pemulas bibir. Blus putih yang dipakainya dipadupadankan dengan sepatu kets kuning cerah membuat sore yang temaram menjadi terang seketika. Tak ada yang menyangka Uli sudah berusia separuh abad.

Uli yang ceria dan energik memang selalu mampu menghidupkan suasana. Uli bilang, dia memang tidak bisa diam. "Tidur pun kayaknya mikir," ujar Uli sambil tertawa renyah.

Uli bercerita dia lahir di tahun dengan shio kuda api. Secara filosofi, kuda termasuk hewan pekerja keras dan memang tidak bisa diam. Kalau jalan pun maunya maju, tidak mau mundur.

"Itu benar juga filosofinya. Kata orangtua, dari kecil saya memang seperti ini. Tidak bisa diam," ucap alumnus S-2 Bidang Communication Management di Universitas Indonesia itu.

Karena itu, Uli mengaku tidak betah berdiam diri lama-lama. Dalam perjalanannya ke berbagai tempat, perempuan yang aktif di berbagai organisasi itu selalu mengajak ngobrol orang di dekatnya. "Dalam hitungan 10 menit saya sudah tahu bagaimana orang itu," imbuhnya.

Uli pun beruntung karena bakat, pendidikan, dan pekerjaan yang digelutinya hingga saat ini masih memiliki benang merah yang sama.

Sangat marketing

"Saya tuh orangnya marketing banget. Hidup saya dan sekolah saya kan di marketing. Karier saya juga di marketing. Tidak saya atur, tapi masuk dalam lingkaran itu," tutur perempuan yang aktif di Kadin dan Kowani itu.

Saat mengambil gelar S-2 pada 2006, Uli sempat diledek anak-anaknya karena dinilai sudah terlambat. "Anak saya ngeledek, Mama kenapa umur segini malah kuliah lagi? Saya berpikir saya kuliah lagi saat itu untuk nambah ilmu. Jadi, kalau sudah tidak bisa apa-apa, saya masih bisa mengajar," kata Uli.

Meski punya seabrek-abrek aktivitas di luar rumah, Uli mengaku tetap berusaha memprioritaskan keluarganya, termasuk dua anaknya, Hezranov Oliver Parulian dan Helisa Rachel yang beranjak dewasa. Ada kenangan yang membekas di hati Uli soal ini.

Jangan jadi mama gosip

Suatu hari, anak-anak Uli bertanya, "Mengapa orang lain dijemput orangtuanya di sekolah tapi mereka tidak?"

Pertanyaan itu mengendap di pikiran Uli hingga akhirnya ia pun mengajak kedua anaknya berdiskusi. "Apa mama berhenti kerja saja?" tanya Uli pada dua buah hatinya.

Jawaban atas pertanyaan itu sungguh di luar dugaan. Kedua anaknya justru meminta Uli tetap bekerja seperti biasa. "Kok aneh? Mereka bilang, mereka tidak mau punya mama gosip seperti teman-temannya di sekolah. Makanya, saya disuruh kerja. Saya bersyukur anak dan suami mendukung saya," ungkap perempuan kelahiran Banjarmasin itu.

Masih ada satu cita-cita Uli yang ingin dia wujudkan, yakni masyarakat Indonesia menjadikan buku sebagai kebutuhan. "Sekarang saya baru bisa menciptakan tren agar mereka berbondong-bondong datang ke pameran buku. Nantinya, saya ingin orang Indonesia membaca buku, minimal sebulan 1 buku deh," pungkasnya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More