Kembali ke Buku

Penulis: Zubaedah Hanum Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 11:00 WIB WAWANCARA
Kembali ke Buku

MI/ADAM DWI

"Buku itu tidak tergantikan meskipun sudah ada gadget," ucap Uli Silalahi, Presiden Direktur PT Jaya Ritel, penyelenggara pameran buku Big Bad Wolf (BBW) saat berbincang dengan Media Indonesia, di acara BBW 2018 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (5/4).

Dengan kemampuan dan jaringan yang dimilikinya, perempuan multitalenta itu berhasil menjadikan BBW sebagai pameran buku terbesar di Asia Tenggara. Padahal, Uli mengaku pesimistis dengan ide menyelenggarakan pameran buku. Apalagi, sebagian besar rekannya sesama pengusaha terus mencemoohnya.

"Kamu gila, bodoh ya. Hari gini orang-orang sudah pegang gadget, toko buku banyak yang tutup, kamu masih mau datangi buku? Jutaan lagi, 24 jam lagi. Enggak ada logikanya kan," ujar Uli mengutip omongan teman-teman bisnisnya saat itu.

Namun, Uli bersyukur, dari 10 temannya yang mencemoohnya itu ada satu yang justru mendukungnya. Dari situlah semangat Uli kembali bangkit.

Bagaimana suka duka Uli merintis penyelenggaraan BBW hingga akhirnya menjadi acara tahunan yang selalu dinanti masyarakat Indonesia? Berikut ini kisahnya.

Sejauh mana kedekatan Anda dengan buku?

Awal mulanya, suami saya yang ke mana-mana baca buku. Dia memang penggila buku. Mau tidur baca buku, di jalan baca buku.

Sementara itu, karena saya sering pergi sendirian, saya terbiasa pegang buku. Kalau saya tidak bawa buku, aneh rasanya. Jadi, pegang dompet itu nomor tiga, handphone nomor dua. Pegang buku nomor satu.

Saya enggak bisa baca ebook di gadget karena mata saya sakit, tapi kalau saya pegang buku secara fisik, saya makin dipacu untuk sabar membaca halaman demi halaman.

Saya dari kecil juga sudah langganan majalah anak-anak. Kisah-kisah tokoh fiksi di dalamnya. Saya sering dongengin anak-anak saya untuk menularkan minat baca mereka. Saya senang baca buku biografi tokoh dunia, seperti Mandela, Hillary, dan Obama, juga biografi pengusaha seperti Kolonel Sanders pendiri ayam goreng cepat saji. Di Indonesia saya suka baca biografi Presiden Abdurrahman Wahid juga istrinya.

Mengapa memilih menyelenggarakan BBW?

Big Bad Wolf itu mengambil filosofi cerita tentang seorang gadis berkerudung merah yang mau dimakan serigala. Kalau di buku, serigala memangsa gadis kecil itu. Kalau di sini, si serigalanya memakan harga buku itu. Makanya kenapa buku di sini didominasi segmen anak-anak.

Perintis BBW memulai di Malaysia pada 2009 di sebuah toko kecil. Pak Andrew namanya, dia ambil buku impor yang masih ada stoknya di gudang penerbit di Malaysia dan dijual dengan harga murah. Bukan buku bekas ya. Dia bisa ngumpulin akhirnya dapat segarasi rumah lah.

Bagaimana ceritanya BBW sampai di Indonesia?

Saya punya perusahaan advertising yang sudah lebih dari 20 tahun. Partner saya di Malaysia yang mengenalkan ke Pak Andrew tahun 2015. Saya awalnya bilang enggak mau enggak mau.

Waktu itu saya ketemu Pak Andrew di Eropa, saya bawa buku biografi Hillary Clinton. Saya beli buku itu US$50. Dia kasih buku yang sama yang harganya Rp85 ribu yang dipamerkan juga di BBW. Di situ saya kesal banget harganya bisa beda jauh. Secara enggak langsung, kekesalan itu buat saya jadi penasaran.

Saya berprinsip, tidak mau menjalin hubungan dengan sesuatu tapi tidak sukses. Tapi dengan gigihnya, teman saya ini selalu mendorong saya. "You are the right person." Dia memang sudah kenal lama dengan saya.

Akhirnya dia ngajak saya ke pameran di Malaysia. Di situ saya terenyuh, Kenapa mereka bisa? Kenapa saya tidak bisa?

Begitu saya balik ke Indonesia, saya masih belum mau. Tapi, Pak Alex meyakinkan saya untuk melakukan itu. Saya melihat beberapa pameran buku tidak sukses. Sukses menurut saya, itu kalau bisa jual buku 10 ribu per hari. Itu tercapai saat saya adakan BBW.

Bagaimana respons masyarakat Indonesia terhadap BBW?

Mereka yang datang ke sini dari berbagai kalangan, mulai artis, pengusaha, akademisi, pejabat, pelajar, hingga masyarakat umum. Responsnya luar biasa.

Awalnya kita mulai dengan diskon 30% di satu hall pada 2016. Setengah hall lagi untuk gudang. Enggak tahunya hari ke-5 membeludak. Yang tadinya kita pikir cuma dapat 100 ribu 12 hari, eh bukunya terjual dari lebih dari 350 ribu selama lima hari saja.

Tahun 2018 merupakan tahun ketiga BBW. Sekarang ini, total 4 hall dari awalnya 1,5 hall kita booking di ICE BSD. Pertama, jumlah buku 2,5 juta dan sekarang naik jadi 5,5 juta buku. kebanyakan segmen anak-anak yang saya tambah 70% tapi bobotnya yang lain juga sama.

Yang menarik, saya pernah mendapati anak umur 9 tahun mengantre membeli buku di BBW Surabaya. Dia beli hanya satu buku. Transaksinya itu Rp4.000 itu paling kecil. Mungkin dari uang jajannya. Waktu itu dia ngantre sendirian.

Apa yang ingin ditawarkan BBW untuk Indonesia?

Saya ingin yang datang ke sini tidak gadget freak. Enggak ada yang keasyikan bermedsos di sini. Di sini mereka semua datang untuk buku. Begitu mereka masuk, mereka bersemangat lihat buku-buku di sini.

Kemarin, saya lihat ada ibu yang menggendong bayinya berusia sekitar 6 bulan. Saat ibunya membaca buku, bayinya ikut juga melihat-lihat. Itu kebahagiaan saya.

Berarti riset yang pernah saya baca itu tidak benar. Ada sebuah riset yang menyebutkan, dari 10 ribu orang Indonesia yang membaca buku cuma 1 orang. Ternyata bukan karena mereka tidak mau membaca, melainkan ketiadaaan fasilitas. Begitu ada fasilitas dengan harga terjangkau, mereka pasti memilih untuk membaca.

Naluri hidup manusia itu sudah membaca buku lo. Dari ratusan tahun lalu, orang sudah menulis di batu hingga kertas. Itu untuk dibaca.

Apa bedanya BBW dengan toko buku?

Variasinya lebih banyak, harga terjangkau, dan saya tidak punya toko hanya pameran saja. Begitu selesai acara, kasir tutup.

Barangnya kita dapat dari Amerika, London, Indonesia. Kita minta ke penerbit buku-buku apa yang tersedia dan kita infokan kebutuhan kita.

Ada delapan tempat lokasi BBW di Malaysia ada tiga tempat, Indonesia dua tempat, Bangkok, Thailand; Manila, Filipina, dan Kolombo. Ada ratusan judul buku dari ratusan penerbit di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat.

Bagaimana proses persiapan event BBW?

Sekarang kita ada pameran di London, Inggris, business to business. Kita mulai beli buku untuk pemesanan setahun. Untuk hari H, kita rekrut 1.000 pekerja untuk tiga sif jam kerja. Perekrutan sudah dilakukan sejak 3 bulan lalu. Lewat outsourcing, Kita ambil dari kampus terpilih. Mereka mahasiswa mulai semester 4.

Mengapa lokasi BBW tidak di pusat kota?

Kalau saya booking di pusat Kota Jakarta, tidak memungkinkan untuk mengadakan pameran selama lebih dari 12 hari. Kita juga sudah mau booking di hanggar segala waktu itu.

ICE BSD ini sudah kita booking selama 5 tahun ke depan karena syarat penyelenggara BBW itu, minimal acara harus 12 hari. Jadi, enggak boleh pameran cuma seminggu. Kalau bisa lebih dari 14 hari tidak apa-apa. Persyaratan kedua, harus 24 jam.

Ketiga, kalau ada 80 kontainer bolak-balik di tengah kota kan cukup mengganggu. Kalau di BSD sini kan aman. Selain itu, karena di sini kan daerah perumahan. Saya berharap yang datang di siang hari para ibu-ibu.

Lagi pula, penyelenggaraan BBW di dunia juga tidak ada yang di pusat kota tapi di pinggiran kota karena lebih murah, mudah, dan banyak orang.

Sosialisasi BBW kita lakukan di beberapa channel. Kalau di media sosial, seperti di Instagram, mereka otomatis cerita sendiri.

Kita kan kalau mau pakai baju baru narsis pamer kan malu. Tapi kalau mereka yang pamer, kan beda. Saya juga enggak nyangka. Saya juga gandeng beberapa media massa.

Siapa saja target pasarnya?

Pengunjung yang datang. Datang saja saya sudah senang. Kalau dia baca di tempat silakan, saya enggak pungut bayaran. Saya sempat berpikir kalau bayar 700 ribu kali aja Rp5.000 saya dapat Rp3,5 miliar. Tapi saya kok kepikiran ya.

Yang saya ingin bagaimana orang tua menyadari pentingnya membaca dan jauh dari gadget. Saya mau memulai dari anak-anak. Kalau sudah terbiasa kan akhirnya merasa butuh.

Bagaimana dengan hitungan bisnisnya?

Transaksi BBW sudah mencapai ratusan ribu. Waktu BBW pertama 2016, itu puluhan ribu. Target saya tahun ini 600 ribu pengunjung.

Saya enggak bisa bilang, Tapi kalau hitung-hitungan bisnis belum seperti yang diharapkan. Tapi yang penting biaya-biaya ketutup dan kita bisa balik lagi tahun depan. Transaksi tertinggi yang kami catat ialah Rp400 juta dari salah satu pengunjung.

Kendala yang dihadapi?

Bagaimana bilangin pengunjung untuk tertib kembalikan buku. Kita punya tenaga penyortir sebanyak 150 orang di tiga sif. Tapi akan lebih baik kalau pengunjung yang mengembalikannya sendiri. Cintailah buku.

Lalu, agar pajak buku 10% itu dikurangi. DI negara lain enggak ada jadi kalau pergi ke Malaysia mungkin lebih murah. Karena enggak ada pajak, di sana diskonnya 90% di sini baru bisa 80%. Cita-cita saya menaikkan diskon buku di acara BBW.

Apa bentuk dukungan pemerintah sejauh ini?

Kami apresiasi Menristek Dikti yang membuka acara ini, juga Menteri KKP, Mensos dan Menko PMK Puan Maharani. Lalu, Gubernur Jatim yang telah mendatangkan naka-naka dari pesantren dan sekolah di sana. Kalau Ibu Puan, juga karena menjadikan buku-buku ini untuk program 1.000 desa cerdas. Bea cukai juga membantu memperlancar pasokan buku-buku impor sampai tepat waktu.

Apa keunikan BBW di Indonesia?

Paling besar, paling luas areanya, pengunjung paling banyak. Padahal, harga kita masih agak mahal, dan selalu pembukaan itu kita jadi contoh. Yang mendukung kita banyak. Padahal, di negara lain susah mencari sponsor.

Momen apa yang paling berkesan selama penyelenggaraan BBW?

Saya terharu ya. Banyak yang mendukung saya akhirnya. Tadinya, banyak yang melecehkan saya. Dari 10 teman saya yang entrepreneur, enggak ada yang mau dukung saya. Satu teman saya yaitu, bapak Rachmat Gobel. Dia bilang, "Kamu seorang pengusaha tidak boleh takut." Kalau kita kecemplung sungai, basah kan masih bisa kering lagi. Tapi kalau masuk jurang kan mati.

Pak Gobel bilang, "Kalau kamu punya niat baik, pasti ada jalan." Sementara teman-teman saya bilang, "Kamu gila, bodoh ya. Hari gini orang-orang sudah pegang gadget, toko buku banyak yang tutup, kamu masih mau datangin buku, jutaan lagi, 24 jam lagi. Enggak ada logikanya. Mula-mula saya buka 24 jam itu hanya weekend. Saya juga enggak yakin. Akhirnya kita buka terus sekarang. Makna 24 jam itu sebenarnya kita membaca buku nonsetop, pagi, siang, sore, malam, sampai subuh. Artinya, itu jadi gaya hidup. Kalau enggak ke sini jadi malu. Dengan upaya ini, saya berharap 15 tahun lagi enggak ada orang korupsi.

Kita juga membagikan buku untuk mereka yang tidak punya akses ke sini. Salah satunya ke Sulawesi.

Apa harapan Anda yang belum tercapai?

Saya ingin agar masyarakat Indonesia menjadikan buku sebagai kebutuhan. Saya berharap ibu-ibu yang mengambil buku beraneka ragam judul di BBW bukan karena sekadar berbisnis, melainkan untuk kebutuhan membaca anaknya.

Di sini bukan hanya buku untuk membaca, melainkan juga aktivitas untuk daya nalar, untuk imajinasi mereka. Buku itu tidak bisa tergantikan meskipun sudah ada gadget. Buktinya bisa dilihat di acara BBW ini.

PROFIL

Nama: Hadriani Uli TI Silalahi
Tempat, tanggal lahir : Banjarmasin, 8 Maret 1966
Suami : Toni Sianipar
Anak : Hezranov Oliver Parulian, Helisa Rachel
Pendidikan :
2006-2008 Master Degree Bidang Communication Management Universitas Indonesia
1984-1989 Sarjana Ekonomi Management Universitas Trisakti
1989-1990 Diploma Jurusan Marketing dan Advertising serta Public Relation di College of Professional Studies-Sydney Australia

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More