Anak Bawang yang Menolak Nyinyir

Penulis: Suryani Wandari Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 10:00 WIB Jeda
Anak Bawang yang Menolak Nyinyir

MI/ADAM DWI

Gita Andriani, yang mengawali interaksinya dengan urusan publik saat magang di Balai Kota kini meneruskan kontribusinya dengan konsisten mengurusi wajah Ibu Kota. Ia fokus pada pembenahan trotoar di beberapa ruas jalanan Jakarta.

Berkarier di studio desaian Urban+, yang fokus pada perencanaan, desain perkotaan, arsitektur, lanskap, ia dan tim juga membantu pemerintah dalam menangani pembangunan kota. "Proyek yang saat ini sedang dikerjakan, yaitu beberapa pengembangan kawasan campuran di Surabaya dan Bekasi," ujar Gita.

Gita yang terpikat pada penataan kota, sebelumnya pernah juga magang di divisi lansekap sebuah konsultan multinasional. "Seringkali saya membatin mengapa Kota Jakarta rasanya belum nyaman ditinggali. Mengapa ruang publiknya masih banyak yang tidak berkualitas, sesederhana trotoar yang tidak layak. Ingin juga berbuat sesuatu untuk Kota Jakarta. Ketika Kantor Gubernur DKI Jakarta waktu itu membuka program magang, tanpa banyak berpikir, saya mengambil unpaid leave selama tiga bulan," kata Gita.

Pernah berinteraksi dengan suasana kerja dengan atmosfer global, d awal Gita harus beradaptasi dengan lingkungan birokrat yang serba formal dan hierarkis. "Itu merupakan tantangan yang cukup menarik juga karena kami, semua jauh lebih muda dibanding para PNS. Bagaimana pendekatan secara verbal dapat terjalin dengan baik tanpa menyinggung perasaan mereka yang lebih senior," ucap Gita.

Belajar berkontribusi

Inspirasi untuk tetap berkontribusi pada urusan publik yang didapat mereka pada periode 2016 hingga 2017, itu berpadu dengan aneka pembelajaran.

Fiona Handayani, Direktur dan Co-founder Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), lembaga riset dan advokasi independen di bidang kebijakan pendidikan, mengaku ia meneruskan kultur kolaborasi yang diasahnya selama jadi anak bawang, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut para magang Balai Kota. Pada Ahok dan hal-hal yang belum terungkap yang diluncurkan pekan lalu, mereka menuliskan banyak kisah dan pembelajaran.

Fiona mengaku kini memprioritaskan kolaborasi dengan banyak pihak. Lembaganya menjadi salah satu anggota dari kurang lebih 300 institusi pendidikan yang bergabung dalam Semua Murid Semua Guru. Komunitas itu berfilosofi, semua orang bisa menjadi murid dan menjadi guru dalam pendidikan. "Untuk menyelesaikan masalah pendidikan yang begitu kompleks, organisasi tak bisa bergerak sendirian, sekuat apa pun organisasinya," kata Fiona yang kini tengah menjalin kerja sama untuk menyusun kebijakan Kemendikbud terkait literasi, mengganti teknik menghafal dengan menalar serta sistem penilaian untuk ujian nasional serta standar pelayanan minimal.

Sementara Priska Sufhana, seusai magang, kini bekerja di Satuan Tugas Pemberantasan (Satgas) Penangkapan Ikan secara Ilegal Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tersohor dengan aksi penenggelaman kapal pencuri ikan. Ia kini terlibat dalam tim perumus kebijakan majemen perikanan berkelanjutan.

"Jadi, apa pun isu dan topiknya, selama hal tersebut berhubungan dengan kebijakan dan penegakan hukum demi Indonesia yang lebih baik, pasti langsung aku jabanin," kata Priska.

Pengalamannya magang satu bulan yang ternyata terus memanjang hingga dua tahun, di bidang pendidikan, kesehatan dan kepegawaian menjadi pijakannya untuk terus bergiat pada urusan publik.

Ide segar

Anak-anak muda yang idealis dan terus eksis di urusan kebijakan ini, yang menurut Agus Pembagio, pengamat kebijakan publik, sangat penting untuk menghasilkan sinergi antara swasta dan publik. "Kontribusi ide-ide segar dari anak muda ini diharapkan bisa diapresiasi, digunakan dan tidak disalahgunakan sebelum nantinya diimplementasikan. Namun, yang harus dipahami juga, untuk membuat peraturan atau kebijakan, harus dipahami pula dampak lainnya," kata Agus.

Belum lagi, lanjut Agus, untuk membuat kebijakan harus melewati proses panjang dari DPR, peraturan presiden sampai peraturan daerah, sesuai UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Pemimpin ideal mereka

Interaksinya dengan birokrasi dan kekuasaan, dengan banyak warnanya, membuat anak-anak muda ini tak lagi alergi dengan topik politik, bahkan terjun ke dalamnya. Fenomena ini menggeser kisah tentang generasi apatis.

"Pemimpin yang ideal ialah negarawan yang melakukan sesuatu untuk bangsa yang lebih baik, tidak hanya memikirkan politik sesaat untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya," kata Fiona.

Terkait figur-figur yang mewarnai pesta politik pada 2018 dan 2019 mendatang, Gita menegaskan Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa meningkatkan kualitas bangsa agar dapat bersaing dengan negara lainnya, yang menurutnya, sangat bisa dimenangkan.

Sementara, bagi Priska, pemimpin harus tulus melayani. Pemimpin idolanya, bukan hanya berprestasi pada zamannya, tetapi juga mempersiapkan sistem yang baik sebagai legacy atau warisan. "Yang penting punya integritas yang ucapan dan tingkah laku sejalan," kata Priska.

Anak-anak muda itu telah meninggalkan kisah tentang inovasi pemerintahan yang mengakomodasi ide-ide segar anak muda. Namun, kiprah yang tengah mereka rintis pun bisa jadi akan menjadi awal dari lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More