Tiga Film, Delapan Penghargaan

Penulis: Hendrikus Yohanes, Universitas Multimedia Nusantara Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 06:30 WIB MI Muda
Tiga Film, Delapan Penghargaan

Dok. Pribadi

Sedikitnya delapan kompetisi menetapkan filmnya sebagai pemenang. Inilah filmmaker, pegiat film muda yang karya-karyanya eksis di berbagai lomba. Istimewanya, ia mengklaim filmnya enggak cuma indah secara visual, seperti yang kini ditonjolkan para sineas muda, tetapi juga sarat makna tentang manusia. Yuk ngobrol dengan pemuda asal Jambi ini!

Ceritakan dong awalnya kamu tertarik dengan dunia film?

Pas masih sekolah, di wihara, saat ada acara ulang tahun, suka ada pementasan seperti drama. Karena punya DSLR, terus hobi foto-foto sama videografi, akhirnya keterusan pas kuliah, ambil sinematografi.

Siapa yang menginspirasi kamu?

Ada beberapa tokoh yang gue jadikan panutan buat berkarya. Salah satunya, Wong Kar Wai yang kebanyakan karyanya film bergenre roman. Gue suka karena dia nakal dalam menyampaikan pesan melalui simbol-simbol. Di Indonesia juga ada beberapa tokoh-tokoh yang menjadi tolok ukur gue, yaitu mas Yoseph Anggi sama BW Purba Negara.

Genre film kamu?

Gue pribadi lebih tertarik dengan genre politik, sejarah, dan film-film berbau kemanusiaan. Gue pribadi mencintai genre yang berhubungan langsung dengan manusia karena yang menikmati karya kita itu manusia dan pada intinya berguna buat manusia.

Apa gunanya kita berkesenian tapi enggak ada gunanya buat orang lain. Dari dulu film juga merupakan alat propaganda. Makanya dulu Jepang pernah bikin video propaganda tentang perang Indonesia dan itu berhasil.

Ceritakan tentang proses kamu merintis pencapaian?

Penghargaan pertama gue, film Wong Tjilik yang menang di UI Film Festival 2015 kategori angsa emas. Enggak lama setelah itu, mewakili Indonesia untuk mengikuti kegiatan pertukaran kebudayaan di Korea Selatan atau Future Oriented Youth Exchange Programme (FOYEP), sebagai utusan dari Kemenpora. Tiap Negara Asean mengutus lima mahasiswa untuk ikut, kami mengikuti workshop film dan pertukaran kebudayaan.

Di sini kita dapat materi workshop tentang film dari pre, pro, pascaproduksi. Ada juga tukar pikiran tentang film di negara-negara Asia misalkan Kamboja, Thailand, dan lainnya, mengenai film pasar negara-negara tersebut. Pada sesi pertukaran kebudayaan antarnegara, gue memperkenalkan kain-kain tenun, batik. Itulah awal perjalanan gue di film.

Karya kamu yang kamu nilai paling ba­gus?

Film Mata Elang, karena ide-ide gue benar-benar bisa disampaikan. Seenggaknya 80% ide berhasil dituangkan. Lebih dari itu, dari film itu lahir lagu Semiotika Warna dari band The Cat Police, padahal rata-rata lagunya kan berbahasa Inggris, nah lagu yang berbahasa Indonesia hanya itu. Jadi, gue merasa karya ini bisa menghasilkan beberapa output seni.

Band ini asal Tangerang dan di film itu mereka nyumbangin soundtrack-nya.

Target kamu ke depan?

Gue sih belum puas karena belum bikin film panjang.
 
Apa sih dampak yang kamu rasakan dari karya-karya film itu?

Kalau keuntungan sih banyak, misalkan keuntungan nonmateriel, gue bisa lebih dikenal, menambah relasi, nambahin portofolio. Kan namanya industri kreatif, pasarnya masih situ-situ saja. Industri ini hanya digeluti orang-orang yang bakalan kenal satu sama lain. Misalkan Joko Anwar pasti kenal tuh sama Riri Riza, gitu-gitu deh.  

Nah, untuk terjun ke situ kita harus punya karya biar dilihat. Kayak harus punya KTP biar diakui jadi warga Negara, hehehe. Terus kalo yang materiel sih yah cukup lah buat dibagi sama kru-kru yang lain, hehehe..

Kiat sukses kamu eksis di bidang film?

Lebih percaya diri saja sih, terus konsisten dalam berkarya, bukan cuma temanya, melainkan karya yang dihasilkan selalu berkala, misalkan 1 tahun 1 karya.

Harus ada target. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Satu lagi, meskipun udah enggak sekolah formal, jangan pernah berhenti belajar. Belajar bisa di mana pun kok.

Cara kamu membuat film kamu berkarak­ter?

Gimana ya, itu sih tergantung pendalaman dalam sebuah tema dan karakter yang ingin kita ungkapkan. Lebih kepada interpretasi. Misalkan, kalau buat film kita harus bisa bayangkan adegannya.

Habis itu, survei lokasi. Imajinasi sih yang yang paling penting, untuk menampilkan sense of human. karena, katakanlah desain logo atau apa pun pasti mengacu pada manusia.

Film juga kan dikonsumsi sama manusia, nah kita harus tahu manusia itu sendiri. Gimana sih marah, gimana sih sedih. Lebih ke psikologis dan fakta.

Makanya gue lebih realistis, dan yang paling penting harus banyak riset.  Nah, kritik juga nih buat filmmaker muda. Kadang-kadang mereka sulit menemukan tujuan berkarya. Yang gue liat cuma visual yang keren tapi ceritanya enggak nyambung.

Idealis sih pasti, dalam berkarya. Tapi, semakin ke sini, karya-karya  akan semakin komersial. Kalo menurut gue, komersial itu bonus, ide yang mau disampein itu yang utama.

Apa saja tantangan yang kamu harus hadapi?

Ketika merasa ingin menghasilkan karya yang bagus, tapi enggak sesuai harapan. Contohnya kayak film gue terakhir, yang kurang 2 scene karena ego, maunya gini, gitu. Tapi gue nikmatin sih naik turunnya, kan kita berusaha. Intinya tetap jadi motivasi sih buat melangkah lebih maju.

Tantangan lainnya, masalah bujet. Tapi ini kan proses kreatif, jadi ngatasinnya juga pakai proses kreatif. Pokonya sebisanya, enggak ada akar, rotan pun jadi.

Buat nombok bareng, itu pasti. Yang penting, kita serius buat karya. Tapi diluar itu, paling hal-hal teknis, lupa tripod, lupa bawa alat. Sampai pernah sekali mau syuting, udah nyampe, lupa bawa kamera, hahaha.

Motivasi kamu untuk terus berkarya ?

Gue selalu punya prinsip dalam berkarya harus selalu merasa gelisah. Misalnya, orang mengeluhkan BBM naik, nah gue selalu termotivasi menyuarakan lewat karya. Kan percuma kita sekolah tapi enggak berguna buat orang banyak.

Kiat buat para filmmaker muda?

Simpel saja, kenali diri lu sebelum kenal kamera, biar tahu apa yang mau lu sampein. Semakin ke sini, kita liat film karya sineas muda, visualnya cantik-cantik tapi ceritanya enggak enak.

Terus, jangan pernah putus asa karena dunia film itu bisa benar-benar pahit. Kalau salah, kita bakalan kena marah dan jangan sampai membuat citra kita buruk.

Industri kreatif Indonesia yang sempit bakalan bikin kita enggak diterima kalau citra sudah buruk. Anggap kesalahan ialah bahan pembelajaran, jangan berhenti belajar. Tingkatkan rasa kemanusiaan, film itu kan soal rasa dan cinta. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More