Menebar Kebaikan dan Menemukan Cinta

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 06:10 WIB KICK ANDY
Menebar Kebaikan dan Menemukan Cinta

MI/SUMARYANTO BRONTO

BANYAK alasan untuk membenci, tapi bagaimana belajar mencintai, baik itu mencintai Tuhan, sesama manusia, maupun diri sendiri? Belajar mencintai diri sendiri pun akan sulit bila dihadapkan dengan suatu penyakit berat.

Belajar mencintai diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain, itu yang dilakukan Suksma Ratri. Seusai divonis HIV AIDS pada 2006, Ratri  menjalani hidupnya secara normal dan membuat pribadinya tangguh. Ia menderita penyakit itu dari mantan suaminya yang menggunakan narkoba dengan jarum suntik.

Mengetahui dirinya tertular HIV, Ratri memberi tahu ibu dan lima sahabatnya. Menurutnya, keterbukaan dan kejujuran merupakan langkah yang tepat untuk bisa menerima apa adanya. Ia pun membagi pengalamannya di blog pribadinya. Keterbukaannya itu mengantarkannya menjadi pembicara mengenai HIV AIDS dan aktif menyosialisasikan pencegahan penyakit mematikan itu.

“Saya menulis jika lagi galau, kalau lagi senang malah saya tidak bisa nulis. Jadi, menulis itu terapi buat saya, bagaimana caranya saya mengalihkan energi yang ada dalam rongga kepala saya menjadi sesuatu yang lebih positif,” terangnya.

Kebiasaannya nge-blog mengantarkannya menulis cerita pendek yang kebanyakan fiksi. Kebanyakan ceritanya terinspirasi dari lingkungannya.

“Nulisnya macem, kebanyakan fiksi. Ada yang menyakut perasaan yang saya rasakan pada saat itu, ada juga terinspirasi dari cerita teman. Saya juga suka people watching, duduk sendiri dan memperhatikan ke sekeliling, bahkan mendengar obrolan orang-orang di sekitar,” lanjut penulis buku Dari Balik Lima Jeruji dan Siluet dalam Sketsa itu.

Mengabdi

Sebelum divonis, Ratri bekerja di hotel. Karena memiliki pengetahuan tentang HIV AIDS, ia melamar di Rumah Cemara, yayasan nirlaba yang concern di bidang penanganan dan pencegahan HIV/AIDS di Kota Bandung
“Saya tidak punya channel dan kenalan di sana, tetapi melalui media sosial saya berkenal dengan salah seorang staf di rumah cemara. Lalu, pada 2006 saya baru dikabari ada lowongan menjadi manajer kasus mendampingi ODHA, dan saya bergabung,” jelasnya.

Meski ia mengidap HIV, Ratri tetap diterima bekerja di yayasan itu. Ratri sadar apa yang harus dilakukan agar harapan hidupnya tetap tinggi dan bermanfaat bagi orang lain.

Ratri juga terlibat sebagai relawan di Malyasia. Ia bekerja di Coordination of Action Research on Aids and Mobility (CARAM Asia), LSM regional yang juga peduli masalah HAM dan kesehatan, termasuk HIV/AIDS. Selama di Malaysia, Ratri merasakan kiprahnya sebagai aktivis HIV/AIDS makin nyata.

“Di Malaysia isunya masih kesehatan, HIV tetapi target kerja adalah buruh migran. Jadi, saya meng-handle para buruh migran yang juga pengidap HIV/AIDS. Campaign yang kita lancarkan bahwa Tes HIV tidak boleh dijadikan alat rekrumen, pekerjaan apa pun,” paparnya.

Ratri tidak ragu memperjuangkan nasib para buruh migran yang dipulangkan paksa lantaran menderita HIV/AIDS. Mereka berasal dari Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Nepal, dan Bangladesh.

“Yang terjadi di lapangan adalah tes HIV dijadikan alasan menolak, memberangkatkan, atau mendeportasikan buruh migran, karena dianggap ketika kamu HIV positif, kamu tidak akan bekerja atau berisiko menulari yang lain, padahal enggak segampang itu penularannya,” sebutnya.

Ratri konsen di divisi pemberdayaan, tempat ia berkerja tidak hanya di Malaysia, tetapi juga di negara-negara pengirim buruh migran tersebut.

“Target program saya, buruh migran yang sudah dideportasi karena HIV positif, seringnya ketika mereka dideportasi malah tidak tahu sudah terjangkit HIV Positif. Bahkan, tidak ada konseling dan penjelasan,” tegasnya.

Sayangnya, masih ada 62 negara yang memberlakukan HIV related travel restriction (larangan memasuki suatu negara bagi penderita HIV/AIDS). Walaupun sebenarnya epidemi HIV/AIDS sudah ada di negara-negara itu.

Kiprahnya yang konsisten itu mengantarkan Ratri berbicara di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai perwakilan dari Coordination Of Action Research On AIDS and Mobility wilayah asia, pada 2008 di New York, Amerika Serikat.

Di Indonesia, RAtri melihat sudah ada peningkatan kepedulian akan ODHA, termasuk layanan di rumah sakit.

Menikah

Pascabercerai, Ratri bertemu dengan dengan cinta baru. “Dulu waktu saya kerja, saya sedang melakukan perjalanan ke Malaysia. Di sana sempat dikenalin sama pria asal Inggris. Berawal dari sana, saya dekat sama dia. Namanya Chris Pearman, dia sosok yang dewasa,” jelasnya.

Dari awal Cris menunjukkan ketertarikannya dan Ratri terbuka dengan kondisinya. Semua itu dilakukan karena hubungannya kian serius.

“Saya bilang sama dia untuk baca blog saya yang isinya kisah hidup saya. Saya buat blog itu karena terkadang saya mau menyampaikan kondisi saya tapi saya tidak bisa ngomong secara langsung. Saya kasih link, kamu baca ini,” sebutnya.

Keduanya menikah pada 15 MAret 2014 dan suaminya menetap di negara asalnya. Chris menerima kondisi Ratri apa adanya. Namun, tantangan terberat ialah menjelaskan kepada anaknya. Bahkan, mereka tidak pernah tahu kapan waktu yang tepat untuk menjelaskan agar anak-anak paham dengan kondisi itu.

“Kita juga tidak tahu metode apa yang digunakan untuk menjelaskan kepada anak. Nah di Bangkok, ada FGD tentang bagaimana cara membuka status kita  dan menjelaskannya kepada anak, disepakati pada usia mereka 10 tahun adalah waktu yang tepat,” lanjutnya.

Ratri mengaku anak semata wayangnya mengetahui kondisinya saat usia 12 tahun. Padahal, ia berencana menceritakan pada anaknya di usia 10 tahun, tetapi ia batalkan karena masih ragu.

“Dia sempat ngambek, tapi bukan karena status aku. Karena sepertinya ia bisa menerimanya, tapi karena ia menganggap saya tidak percaya kepadanya sehingga tidak bercerita,” sebutnya.

Tidak terasa sudah 12 tahun Ratri hidup dengan virus HIV dalam tubuhnya. Namun, ia tidak merasakan kesehatannya yang menurun drastis.

“Kalau karena perubahan cuaca, sepertinya kita semua ada ya. Mungkin saya juga sudah mengonsumsi antiretroviral (ARV) sejak 2014. Selain itu, saya juga minum vitamin tambahannya. berusahan mengurangi stres dan saya mengganti olahraga dengan dansa,” terangnya.

Saat ini Ratri bekerja di sebuah LSM, Solidaridad Network Indonesia. Sebuah yayasan yang berfokus pada pengembangan pertanian dan pemberdayaan petani. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More