Menggapai Puncak Dunia

Penulis: FD/M-3 Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 05:50 WIB Humaniora
Menggapai Puncak Dunia

MI/SUMARYANTO BRONTO

BICARANYA kelu, geraknya sudah tak segesit dulu, berat badannya jauh menyu­sut, dan usianya tak lagi muda. Dengan penyakit kanker yang di deritanya tak menyurutkan langkahnya untuk menaklukkan puncak-puncak gunung tertinggi.

Muhammad Gunawan atau biasa disapa Ogun. Ditemani sang istri, Cecilia Vita Landra, berupaya merealisasikan impiannya. Ogun merupakan seorang pendaki gunung legendaris yang dimiliki Indonesia.

Tahun 2015, menjadi tahun terberat Ogun. Ia divonis menderita kanker nasofaring stadium empat, jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Selain menyerang bagian tenggorokan, penyakit yang semula dia anggap misterius itu menjalar ke mata.

“Suatu sore itu pandangan tiba-tiba dua. Wah, kurang tidur nih, kurang minum, dan kurang tidur. Istirahat dan bangun tetap dua. Ke rumah sakit dan dokter lihat benjolan, udah harus cepat biopsi. Ini kanker stadiumnya 4,” katanya.

Bukannya bersedih dan mengurung diri, Ogun justru ingin mewujudkan impian­nya mendaki puncak Gunung Everest. Seusai melakukan kemoterapi, ia kembali melakukan persiapan naik gunung. “Di pertengahan Juli 2016 setelah kemoterapi saya terbesit ingin kembali naik Everest,” katanya.

Cecile pun sempat marah karena melihat kondisi Ogun tidak memungkinkan. Bak tak mendengarkan istrinya, pascaradiasi, Ogun mendaki sejumlah gunung di Tanah Air.

“Seminggu atau dua minggu setelah treatment radiasi, ketika saya tugas di luar kota, tiba-tiba ada fotonya di Gunung Parang,” paparnya.

Persiapan menuju Everest

Ogun beralasan, kebiasaanya bekerja di luar kota membuatnya tidak bisa hanya berdiam diri di rumah. Bahkan, ada perasaan lega dan enak ketika ia beraktivitas seperti biasa meski seusai treatment radiasi.
“Saya kangen juga bekerja, dan bekerjanya pergi ke luar kota. Saya juga aksesor untuk pemandu gunung. Padahal, dua hari setelah treatment saya sudah ke Manado,” sebut Ogun.

Sedikitnya sudah tujuh gunung yang didaki pria berusia 60 tahun ini sejak divonis kanker. Di antaranya, Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Merbabu (Jawa Tengah), tebing Gunung Parang Purwakarta, Gunung Arjuno Malang, Bukit Hitam Kepahiang Bengkulu, masuk ke perkampungan Badui Dalam, dan mendaki Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat.

Bahkan, pada April 2017, Ogun terbang ke Nepal untuk menaklukkan puncak Yala di Pegunungan Himalaya, dan menjadi bagian dari tahapan untuk bisa mendaki Everest.

Sambil melatih staminanya, Ogun mulai menyusun perjalanan bertajuk Ogun Roads to Mount Everest. Dukungan dari berbagai pihak pun terus mengalir, hingga lahirlah gerakan Ogun Roads to Everest (ORTE).

Gerakan ini bertujuan untuk mendukung Ogun demi meraih impiannya dan juga meningkatkan kepedulian masyarakat luas untuk pantang menyerah terhadap kanker. Apalagi, ia telah berhasil menaklukkan Gunung Yala yang berke­tinggian 5.520 mdpl, Nayakanga (5.844 mdpl), Carstensz (4.884 mdpl), dan Elbrus (5.642 mdpl). Rencananya Ogun akan mendaki Everest di akhir 2018 ini.

Menaklukkan Puncak Everest bukan perkara mudah. Ada base camp di beberapa titik seperti north col 7.100 mdpl, camp 5 (7.900 mdpl), dan last camp (8.200 mdpl) sebelum puncak atau Summit Attack di 8.848 mdpl. Suhu yang sangat dingin dan udara yang tipis jadi tantangan.

“Dari satu camp ke camp tidak bisa langsung dalam satu jalan. Harus naik, turun, dan naik lagi untuk mengangkut peralatan dan perbekalan. Rata-rata dibutuhkan waktu dua bulan untuk pendakian. Belum termasuk badai yang sewaktu-waktu datang,” sebutnya.

Kesehatan naik turun

Sayangnya, kondisi Ogun tahun ini tidak stabil. Apalagi, kondisi cukup drop saat naik Gunung Tambora sehingga memaksa Ogun untuk mengecek ulang data kesehatannya.

“Hasilnya memang masih oke. Walaupun dari awal kita sudah tahu, ada penyebaran. Tetapi yang paling dianjurkan itu Ogun harus diet. Jadi, ia hanya boleh makan ikan, telur, dan kaldu ikan,” jelasnya.

Di tengah penyakit yang dirasakan, Ogun selalu menyampaikan filosofi burung elang. Di usia 40 tahun ia harus memutuskan dan merevolusi tubuhnya agar bisa bertahan hidup lebih lama.

“Nah, itu yang mendorong saya, doakan ya,” harap pria kelahiran Jakarta, 24 Maret 1958 itu.

Sejumlah pihak mendukung impian Ogun. Pasalnya, ia pernah turut dalam Ekspedisi Mount Everest Indonesia 1997 bersama anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Keikutsertaan dia itu merujuk pengalaman sebelumnya, pada 1994 Ogun pernah mendaki gunung tertinggi di dunia tersebut. (FD/M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More