Pencitraan

Penulis: Suprianto Annaf, Redaktur Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 05:30 WIB Opini
Pencitraan

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Hiruk pikuk politik telah menyeret kata pencit­raan ke aura persaingan. Kesan itu teramat sering kita dengar dari orang yang tidak sepihak dengan kandidat yang bukan bagiannya. Ada anggapan bahwa kata pencitraan memersonifikasi  figur yang terlalu dibuat-buat, amatiran, dan juga dadakan. Kesan lain seolah kata pencitraan menyudutkan orang yang berbuat bukan karena kebiasaan. Lalu, apa sebenarnya kata pencitraan itu?

Di dalam kajian sastra, pencitraan menjadi rasa yang dimunculkan oleh sebuah karya. Kesan itu ditangkap oleh indra, yang memantul berupa indah dan rasa. Citraan pun menjadi jiwa di dalam karya yang akan menjadi tafsir atas realitas yang ada.

Sejauh masih di dalam lingkup sastra, pencitraan tetaplah menjadi daya pengungkap pesan yang hendak dikirim penyairnya. Puisi kekinian Sukmawati Soekarnoputri yang berjudul Ibu Indonesia bisa menjadi tamsil pengungkapan citra. Tak lama setelah puisi itu dibacakan muncul kegaduhan. Reaksi itu ditimbulkan oleh citraan yang teramat mudah ditafsirkan. Tanpa perenungan atau kotemplasi pesan puisi itu menyembulkan kontroversi.

Dari puisi Sukmawati itu, tercitra jiwa dan sikap pengarang. Pun muncul interpretasi dari larik-larik  Lebih cantik dari cadar dirimu//Lebih merdu dari alunan azanmu. Inilah citra yang mengungkap siapa penulis puisinya, apa tujuannya, dan kepada siapa dia mengirimnya. Kata Indonesia dalam judul itu pun menggeneralisasi jiwa dalam kacamata penulis. Pada akhirnya, tanpa menjadi sastrawan, teramat vulgar citra puisi itu dapat diungkapkan.

Sekarang bagaimana pencitraan dalam perpolitikan? Tentu saja kata pencitraan diseret untuk banyak kepentingan. Kata itu tidak lagi sebagai alat ungkap rasa dan keindahan, tetapi dimaknai sebagai laku kepura-puraan. Ketakbiasaan muncul saat-saat dibutuhkan, kebaikan hanya penutup kemurkaan, atau raut keindahan hanya manis di permukaan. Intinya tidak ada jiwa yang dijiwai, tak ada manis yang abadi, tak ada rupa yang mendasari. Semua polesan itu sebentar saja akan sirna. Hilang bersama waktu dan kekalahan.
    
Pencitraan bukanlah laku kebiasaan, melainkan raut yang dikondisikan. Biasanya juga tak selaras dengan masa lalu yang hendak disulap dan dilepaskan. Interpretasi seperti ini terkadang anggapan dari lawan yang hendak menistakan. Semua yang dilakukan lawan politik pun selalu berakhir dengan penghakim­an. Presiden Jokowi menaiki moge pun dipersepsi sebagai pecitraan: lalu memberi rujukan bahwa Presiden berjiwa kerak­yatan dan mengesankan kesederhaan.

Pun ketika para elite berbalas pantun. Kesan pencitraan dibangun tanpa beban. Seolah mereka tidak berlawan. Sejalan. Niat yang terang benderang disarukan lewat diksi yang berkelindan. Seolah-olah pula laras pantun menjadi media pelarian dalam mengemas persaingan.

Apakah kita tidak rela kalau orang berbuat berbeda dari kebiasaan? Biarkanlah! Tak ada yang salah dari pencitraan, kecuali kita memang memberi kesan berlainan.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More