Partai Setan di Era Pasca-kebenaran

Penulis: Irvan Sihombing / Wartawan Media Indonesia Pada: Sabtu, 14 Apr 2018, 20:37 WIB Opini
Partai Setan di Era Pasca-kebenaran

Dok PRIBADI

PADA awal kemerdekaan Indonesia, pertarungan politik yang begitu sengit terjadi di antara sesama Bapak Bangsa. Tokoh Proklamator Soekarno 'dikudeta diam-diam' oleh Sutan Sjahrir yang juga seorang perintis kemerdekaan Indonesia.

Sjahrir berhasil menjadi Perdana Menteri I RI karena adanya perubahanan sistem pemerintahan dari presidensial ke parlementer. Para menteri tidak lagi tunduk kepada Soekarno. Ia hanyalah seorang kepala negara, bukan kepala pemerintahan.

Soekarno tidak merisak. Ia tetap membagul Kabinet Sjahrir yang memerintah pada 14 November 1945–12 Maret 1946. Bung Karno memang gundah karena kekuasaannya berkurang. Namun, ia tidak berkeletah layaknya seseorang yang mengalami post power syndrome.

Putra Sang Fajar, julukan Bung Karno, malah mengibaratkan dirinya dengan rotan yang ringan, kuat, dan elastis. "Seperti rotan, saya hanya melengkung, tidak patah."

Bayangkan, betapa dahsyatnya ucapan tersebut. Ia kalah, tetapi tidak luluh lantak akibat dikalahkan. Komunikasi politik Bung Karno sarat dengan metafora.

Pengajar Ilmu Politik dari Universitas Lund, Erik Ringmar, mengatakan, maraknya penggunaan metafora dalam dunia politik bukanlah hal yang aneh. Politik, bagaimana pun juga, merupakan seni menggunakan kekuasaan untuk meraih tujuan sosial.

Namun, berbeda dengan masa lalu, pertarungan politik saat ini lebih menjurus pada situasi banal, kasar, dan tanpa keelokan. Rakyat tidak lagi disuguhi metafora yang mencerdaskan. Elite politik cenderung melontarkan pernyataan yang malah berpotensi memecah belah bangsa.

Tokoh paling berpengaruh di Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais baru-baru ini mengatakan orang-orang yang anti-Tuhan otomatis bergabung dalam partai besar. "Itu partai setan," kata Amien dalam sebuah acara di Jakarta, Jumat (13/4) pagi.

Pembelahan yang dilakukan Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212 itu sontak mengingatkan pada Presiden Amerika Serikat George W Bush. Awal 2002, Bush menyebut Iran, Irak, dan Korea Utara, sebagai Poros Setan karena mengembangkan senjata nuklir dan mendukung teroris.

Ucapan yang kerap dilontarkan Bush itu kemudian jadi pembenaran bagi Amerika dan sekutunya untuk menginvasi Irak. Belakangan, PBB meragukan klaim bahwa Irak mengembangkan senjata pemusnah massal. PM Inggris Tony Blair pun akhirnya mengakui tak ada senjata itu di Irak.

Amien Rais sah-sah saja melakukan pembelahan partai politik. Ia juga bebas berbicara karena tidak lagi hidup di era Soeharto yang otoriter. Yang penting jangan menuding partai lain sebagai partai setan tetapi ternyata punya maksud terselubung seperti halnya Bush.

Tidak pantas buat elite politik bermain di air keruh, sekalipun di era pasca-kebenaran, saat batas antara yang benar dan dusta telah menjadi kabur. Bila tidak bisa menggunakan metafora seperti Soekarno, setidaknya bersikaplah bijaksana.

Apalagi di era pasca-kebenaran, era di mana batas antara yang benar dan dusta telah menjadi kabur. Ralph Keyes dalam bukunya The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life mengatakan, orang kini menambah fakta dengan bumbu kebohongan. (A-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More