Melantunkan Keindonesiaan hingga Pelosok

Penulis: (Eno/M-4) Pada: Sabtu, 14 Apr 2018, 23:50 WIB Weekend
Melantunkan Keindonesiaan hingga Pelosok

DOK. DJARUM FOUNDATION

WAKTU telah menunjukkan pukul 19.19 Wita waktu setempat di Bukit Wisata Kiram Martapura, Banjarmasin, Jumat (6/4). Para kru masih sibuk memasangkan lampu merah di langit-langit pendopo untuk pementasan Teater Keliling berjudul Sang Saka. Sang Saka merupakan kelanjutan dari kisah Jas Merah yang pernah ditampilkan di delapan kota pada 2016 lalu.

Naskah Sang Saka dibuat seniman teater Rudolf Puspa dan Ketua Yayasan Teater Keliling, Dolfry Inda Suri. Pada suatu masa, tersebutlah tiga orang sahabat bernama Komer, Koor dan Patty. Mereka sudah lama tidak berjumpa. Pada suatu kesempatan, mereka bertemu kembali untuk bertualang mencari harta karun yang sedang menjadi ulasan paling atas di dunia maya. Perjalanan perburuan itu membuka rahasia pada setiap diri mereka tentang pemuda pemudi yang lupa diri dan memupuskan rasa cintanya terhadap negeri. Harta karun berhasil mereka temukan, tetapi harta karun tersebut bukanlah sesuatu yang mereka bayangkan. Mereka justru menemukan Sang Saka yang telah lama terkubur.

Sang Saka pun membawa mereka ke dalam sebuah dunia imajiner saat terjadi tapak tilas Proklamasi Kemerdekaan 1945. Harta itu menuntun mereka ke sebuah dimensi waktu imajiner detik-detik proklamasi kemerdekaan. Rudolf Puspa dalam pentas ini berperan sebagai veteran perang, perjalanan bersama dengan Teater Keliling membuatnya kaya dengan kisah suka dan duka. “Tapi sakit dan sedih bagi kami itu berkah karena membuat kami menjadi semakin berani.

Kami ini boneknya teater Indonesia,” katanya. Dengan berkeliling teater, Rudolf mengaku semakin sadar dengan apa yang disebut dengan Bhinneka Tunggal Ika. “Selain itu kami juga berupaya menuangkan nilai-nilai keberagaman dalam naskah-naskah kami,” kata lelaki yang menyesal tidak mengenal sejarah lebih dini itu. Tak hanya  Banjarmasin, lakon Sang Saka yang menghadirkan kolaborasi seni tari, musik, dan nyanyian ini juga diselenggarakan di empat kota lain, yaitu Cirebon, Karawang, Pangandaran, dan Palangka Raya.

Selain pertunjukan, Teater Keliling mengajarkan teater di SMP dan SMA untuk menebarkan manfaat positif dari seni berteater, yaitu pengembangan karakter, emosi, kerja kolektif, dan tanggung jawab tim. “Sebagai generasi penerus, kami merasa sangat penting mempelajari dan mengenalkan sejarah bangsa ini karena arah tujuan bangsa ini pun berada di tangan kami,” kata Dolfry.

Teater Keliling berupaya menguatkan komitmen berkeliling dari Sabang sampai Merauke dan 11 negara di dunia, sejak didirikan pada 13 Februari 1974. Hingga kini mereka telah mementaskan lebih dari 1.600 pertunjukan. Adi Pardianto dari Bakti Budaya Djarum Foundation mengaku salut karena kelompok Teater Keliling berani memperkenalkan teater hingga pelosok Indonesia. “Kami yakin Indonesia akan semakin kuat jika memiliki masyarakat pecinta seni karena sulit dipecah belah,” kata dia. (Eno/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More