Seni Bunyi yang Menyembuhkan Hati

Penulis: BAYU ANGGORO Pada: Sabtu, 14 Apr 2018, 23:25 WIB Weekend
Seni Bunyi yang Menyembuhkan Hati

MI/BAYU ANGGORO

GEMERCIK air hujan diiringi suara petir lirih terdengar jelas dari atas kepala. Nyanyian burung yang saling bersahutan pun ikut dilantangkan pengeras suara kecil berbentuk bulat yang terpasang kukuh di tengah ruangan. Kemerduan suara tadi dibuat semakin empuk oleh hadirnya bantal duduk yang tersimpan persis di bawah pengeras suara itu.

Sebagai pelengkap, titik hitam setinggi mata tersaji tidak jauh dari tempat pengunjung memandang. Kolaborasi pengeras suara, bantal duduk, dan titik hitam dalam ruangan sempit itu memastikan efek tenang dan sunyi yang diharapkan Andrita Y Orbandi, seniman bunyi yang turut serta dalam Soemardja Sound Art Project (SSAP) 2018, yang digelar hingga 19 April mendatang, di Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. SSAP menyuguhkan 15 karya seni bunyi yang sudah dipamerkan sejak awal tahun ini, termasuk karya Andrita berjudul Sabda Hujan. Lewat karyanya itu, Andrita ingin menghadirkan suasana tenang yang bisa menenteramkan hati setiap pendengarnya.

Penciptaan aura positif ini semakin dideskripsikan dengan pemberian warna muda pada pengeras suara dan bantal. Berbeda dengan hasil karya lain yang bisa jadi hanya memperdengarkan suara, Andrita berusaha beda karena kreasinya ini diharapkan mampu mengobati mental setiap pendengarnya. Baginya, mendengarkan suara-suara alam seperti bebunyian hewan, gemericik air, hingga gerimis hujan, mampu membuatnya rileks. “Melalui ini saya membicarakan soal healing, dengan hati. Penyembuhan mental, bukan medis. Suara alam itu bisa bikin hati tenang,” papar perempuan lulusan Seni Rupa ITB ini saat berbincang dengan Media Indonesia.

Ketertarikannya pada bebunyian berawal dari penilaiannya tentang kehidupan dunia yang sudah semakin riuh dan gaduh. Sudah semakin banyak manusia yang terjebak dengan rutinitasnya. Dengan karya bebunyiannya, ia mencoba menghadirkan ketenangan bagi pendengarnya. Sesuai dengan parasnya yang terkesan lembut, Andrita memilih setia dengan menekuni seni bunyi yang lembut dan menenangkan.

Sabda Hujan merupakan kreasi bunyi merdunya yang ketiga, lanjutan dari karya-karya sebelumnya. Seni bunyi pertamanya diciptakan pada 2016. Dengan memperdengarkan suara di luar ruangan, Andrita menyuguhkan bebunyian yang silih berganti seperti gerak kaki orang berjalan dan nyanyian burung yang silih berganti. Pada karya seni bunyi keduanya, gadis yang mengenyam pendidikan SMA-nya di Amerika Serikat itu menanyai 30 orang dari 15 negara.

Andrita ingin mengetahui bunyi seperti apa yang bisa jadi cerminan kedamaian di hati mereka. Berbeda dengan Andrita,  Lintang Radittya justru menghasilkan bunyi yang tidak nyaman didengarkan. Lengkingan suara frekuensi yang bisa diatur rendah-tingginya terdengar jelas hingga dari luar ruang pamer. Sedikit memberi rasa manis pada suara melengking yang diciptakannya itu, Lintang  menghadirkan wayang kulit yang berfungsi sebagai pengatur rendah-tinggi frekuensi yang ingin didengarkan. Dengan menggerakkan tangan wayang ke atas, pengunjung akan diperdengarkan suara frekuensi yang tinggi. Begitupun sebaliknya jika tangan wayang digerakkan ke bawah.

11 tahun
Kurator SSAP 2018, Bob Edrian, mengatakan, pamerannya ini merupakan yang pertama setelah ajang serupa bertajuk Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project pada 2007. “Ini seni bunyi pertama setelah 11 tahun,” katanya. Sebelum diperdengarkan di Galeri
Soemardja ITB, SSAP 2018 lebih dulu ditampilkan di Lawangwangi Creative Space dan Institut Francais Indonesia dan Spasial.

Hasilnya, SSAP 2018 yang bekerja sama dengan institusi tersebut hadir dengan tiga gagasan besar yakni, Double-Coding Sonic Art yang menekankan pada aspek historis sound art, Immersed in Sonic Flux yang mengelaborasi fenomena bebunyian melalui eksplorasi bentuk pertunjukan bunyi, dan Perceiving the Omnipresent Sound yang terfokus pada aspek spasial bunyi dan individu pencerap.

“Di kita memang belum ada jurusan khusus seni bunyi. Beda dengan di perguruan tinggi di luar negeri, yang sudah memiliki jurusan seni bunyi,” katanya. Alumnus Seni Rupa ITB itu mengatakan, bunyi merupakan bagian dari seni rupa meski tidak sembarang orang yang bisa  menangkapnya sebagai sesuatu yang mampu divisualisasikan. “Bunyi memang sulit didefinisikan oleh orang awam sebagai sesuatu yang mampu divisualisasikan,” katanya.

Sama dengan seni lain pada umumnya, seni bunyi terdiri dari berbagai subjek turunan, seperti akustik, elektronik, noise music, hingga media audio sehingga tidaklah mengherankan jika bunyi ini banyak ditemukan di hampir semua lini seperti lingkungan sehari-hari, bahkan gerak tubuh manusia sekalipun.  (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More