Ragam Genre dalam Satu Panggung

Penulis: SURYANI WANDARI PUTRI PERTIWI Pada: Minggu, 15 Apr 2018, 02:15 WIB Gaya Urban
Ragam Genre dalam Satu Panggung

MI/ADAM DWI

BEGITU layar hitam disibakkan sebagai dimulainya pertunjukan, lampu sorot pun mengarah ke tubuh Rina Adityasari, perempuan yang sedang berbadan dua. Monolog singkat tentang perannya kali ini, Adit, begitu panggilan akrabnya menunjukkan ketegaran seorang ibu yang akan melahirkan anak perempuan kuat.

Tidak hanya berdrama, Adit pun melenggak lenggokkan tubuhnya membawakan sebuah tarian perpaduan kontemporer dan tradisional. Dalam geladi bersih pekan lalu itu, Adit bersama rekannya dari Dancewave Center (DWC)
memang sudah total ingin beraksi pada tari musikal bertajuk Roro Mendut, di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (7/4) malam.

Penampilan itu mengadaptasi kisah  legendaris perempuan nelayan asal Pati, Jawa Tengah, Roro Mendut. Namun, DWC menuturkannya kembali dengan cara baru, yakni melalui rangkaian tari hip-hop, kontemporer, tradisi, tari perut, bahkan gaya Broadway. “Tantangannya, pasti saat menjahit beberapa genre ke dalam naskah. Dalam satu adegan saja harus memperhitungkan genre tari yang masuk tanpa mengubah cerita,” kata Adit yang juga penulis naskah dan sutradara.

Bahkan di penampilannya kali ini, ia tidak sekadar menari biasa. Mereka menggabungkan beberapa genre tarian yang sangat bertolak belakang sehingga membentuk sebuah cerita. Namun, itu tidak menghilangkan makna setiap tarian  sehingga membentuk harmoni gerak dan tata panggung yang dinamis. Kisah Roro Mendut menggambarkangadis menjadi simbol kekuatan daerah pesisir (pantai utara).

Ia bahkan tidak  pernah ragu menyuarakan pikirannyameski ia ditaklukkan kekuasaan Mataram. Resital tari Roro Mendut yang menggabungkan seni drama itu hadir tanpa dialog antarpemain. “Memang tak ada dialog, hanya ada monolog sebagai pengantar. Selebihnya kami bermain dengan ekspresi muka dan gerakan dalam tarian,” tambah Adit.

Tidak harus bisa menari
Menurut Miftahul Jannah yang berperan sebagai tokoh utama sekaligus pendiri DWC, berperan sebagai Mendut tidaklah mudah. “Saya harus merepresentasikan perempuan Nusantara yang berintegritas, mandiri, dan berjuang demi kesetaraan. Ini terasa masih relevan hingga hari ini sehingga perlu belajar drama terlebih dahulu,” ujarnya.

Mifta, panggilan akrabnya. Meskipun begitu, tambah Mifta, bukan hal baru bagi mereka menampilkan resital tari tersebut. Setahun setelah DWC dibuka, mereka memulai pertunjukan tari menjadi agenda rutin.  Tujuannya, sebagai apresiasi kepadaguru dan murid setelah belajar teknik baru. “Ya ini semacam ujian dari semua pelajaran yang kita hasilkan, bukan hanya eksis. Kita bukan sekadar menari, melainkan membagikan cerita dari tarian yang kita bawakan,” imbuhnya.

DWC adalah sebuah sanggar atau komunitas tari yang menyediakan kelas bagi semua usia. Ada kelas hip-hop, belly dance, contemporary, burlesque, dan tribal. Tari hip-hop mengacu ke musik hiphop yang dimulai dari pemuda Afrika- Amerika Latin di Bronx Selatan pada 1970-an, sedangkan belly dance & oriental lebih dikenal sebagai tari Timur Tengah atau tari perut, hingga tarian pole dance, yakni menari pada sebuah tiang tanpa menggunakan alat bantu dan memerlukan otot tangan dan kaki yang baru ada di DWC.

“Pole dance itu bagaimana anggota DWC menunjukkan passion-nya, seperti pemain pole dance dalam pertunjukan ini misalnya ia yang berusia 49 tahun itu selalu mencoba genre tarian lain,” kata Adit lagi. Ia mengaku ingin mengubah pemikiran negatif orang terkait tari perut dan pole dance. Sesungguhnya tarian tersebut juga sama seperti tarian lainnya yang memiliki unsur seni dan patut diapresiasi. “Tari perut tak hanya soal seksi yang identik dengan perut bergetar dan berkonotasi negatif, semua tentu memiliki manfaat tersendiri bagi tubuh,” lanjut Adit.

Bisa dibilang, semua orang yang bergabung dalam DWC berminat besar terhadap tari meskipun tak lihai menari. Sang pendiri dan pelatih pun mengatakan DWC merupakan rumah dan keluarga karena tidak semua anggotanya punya bakat besar.“Tapi kami punya passion besar. Itulah yang membuat mereka berdedikasi, bertanggung jawab dan berkomitmen tinggi. Kami beruntung punya rumah yang bisa mengembangkan diri,” tambah Adit. Begitu pun untuk bergabung, Adit mengatakan tak perlu lihai menari, mereka akan bersama-sama berlatih mulai teknik hingga sejarah tarian tersebut. Yang penting bagi mereka ialah komitmen an rasa kekeluargaan. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More