Karena Digitalisasi itu Nyata

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Kamis, 12 Apr 2018, 10:33 WIB Inspirasi
Karena Digitalisasi itu Nyata

MI/Adam Dwi
Indrasto Budisantoso, CEO and Founder Jojonomic

Pengantar:
Mereka adalah  pelopor-pelopor ekonomi baru Indonesia, yang memadukan teknologi digital, semangat pemberdayaan, dan optimisme bahwa Indonesia bisa eksis di tingkat global. Dalam memperingati 48 tahun Media Indonesia, kami menampilkan 49 pembaru ini setiap pekannya, inilah sosok ke-10.

-------------------------------------------------

SISTEM administrasi bisnis konvensional akan semakin ditinggalkan karena kurang efisien dan ketinggalan zaman. Di era digital efisiensi nomor satu. Jojonomic, start-up, mengisi kebutuhan itu dengan menyederhanakan sistem dalam per­usahaan. Didirikan pada 2015 oleh Indrasto Budisantoso, perusahaan rintisan ini di awal kemunculannya menawarkan produk digital yang mampu menyederhanakan sistem reimbursement. Jika awalnya reimbursement memerlukan banyak waktu dan butuh persetujuan banyak pihak, kini hal itu dapat didigitalkan sehingga menghemat waktu.

“Kami fokusnya business to business, di awal, yang pertama kali di-launching adalah reimbursement dengan nama produk kami, Jojo Expands. Setelah itu, kami banyak melihat peluang di bidang environment business. Karena itu kami pun terus mengembangkan produk,” jelas Indrasto yang duduk sebagai CEO kepada Media Indonesia saat ditemui di kantornya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (3/4).

Asto menjelaskan, saat ini setidaknya ada lima produk yang ditawarkan Jojonomic. Selain Jojo Expands, ada Jojo Times, Jojo Procurement, Jojo Biz Trip, dan Jojo Payroll.

Salah satu produk yang ia banggakan, Jojo Times, adalah sistem presensi digital yang memungkinkan karyawan absen hanya dengan berswafoto, memanfaatkan teknologi biometric recognition serta geotagging untuk mengetahui lokasinya. Proses tersebut jauh lebih modern daripada sistem presensi saat ini yang mayoritas masih menggunakan pemindaian sidik jari dan kartu pengenal.

“Untuk cara kerjanya, pertama database atau profil foto pegawai mesti disimpan dulu di data HR, nanti setiap kali pegawai absen dan selfie, akan langsung dicocokkan foto selfie-nya dengan biometric recognition. Setelah itu, lokasi akan diketahui melalui geolocation yang antifake GPS-nya. Lalu aturan-aturan juga bisa dimasukkan, misalnya cuti, sif kerja, lembur, sampai hitungan bonus,” ungkapnya.

Presensi dengan swafoto
Jojo Times diklaim efisien. Karya­wan dapat bekerja lebih fleksibel dan efisien, dan kapan saja, tapi tetap berorientasi pada target. “Produk Jojonimic berfokus membantu perusahaan bertransformasi digital. Sekarang sudah bukan zaman lagi di meja ada tumpukan kertas. Kenapa, karena semua kebutuhan sirkulasi bisa didigitalkan, mobile, dan paperless. Approval bisa dilakukan lewat digital via smartphone, bahkan tanda tangan pun cukup dengan jari,” imbuh Asto.

Digitalisasi itu nyata dan bisa
Asto meyakini, produk dan layanan yang diriset timnya menjawab kegalauan pemimpin perusahaan konvensional mengenai era transformasi digital, yang tengah kebingungan memulai. “Selain itu, untuk mengakomodasi tuntutan para milenial yang lebih menyukai gaya bekerja flexy work, dapat be­kerja di mana dan kapan saja tanpa perlu datang ke kantor.”

Ia mengkritisi, komposisi petugas administrasi di Indonesia terlalu besar jika dibandingkan dengan negara-negara lain karena biaya­nya dianggap tidak terlalu besar. Namun, saat ini sistem penggajian di Indonesia tidak murah dan petugas administrasi juga berpendi­dikan sehingga harus digaji sepadan. “Berdasarkan tren global, mulai terlihat bahwa peta pekerjaan berubah, ada yang akan berkurang dan hilang, lalu ada pekerjaan-pekerjaan baru, memang fasenya seperti itu. “Termasuk, ada banyak pekerjaan yang tidak lagi perlu dilakukan manusia.”

Untuk menikmati teknologi Jojonomic, lanjut Asto, perusahaan dikenai biaya langganan per bulan, paling murah US$2 per karyawan sampai yang termahal US$20. “Berdasarkan kalkulasi, setidaknya per­usahaan dapat berhemat sampai US$400 per karyawan per tahun jika menerapkan sistem kami.”

Perusahaan digital paling terbuka
“Tantangan paling dasar, mengubah pola pikir dari konvensional ke era baru yang lebih efisien. Waktu awal launching pada 2015-2016, perusahaan awal pengguna kita banyak perusahaan digital karena mereka paling terbuka mencoba hal baru. Sekarang hampir semua perusahaan digital dan e-commerce jadi klien kami,” tambah Asto.

Asto mengklaim, ratusan perusahaan dengan ribuan karyawan jadi pengguna Jojonomic, bahkan di antaranya korporasi minyak dan gas, telekomunikasi, farmasi, perbankan, dan logistik. Meskipun begitu, Jojonomic juga menargetkan perusahaan-perusahaan kecil dan UMKM di berbagai sektor.

“Saya semangat membantu per­usahaan di sini untuk lebih maju, tambah efisien, dan cepat, sehingga terdampak positif bagi bangsa,” imbuhnya.

Masuk ke Asia Tenggara
Semula bermodalkan dana sendiri, Jojonomic kini memikat investor luar maupun dalam negeri, pun pasarnya meluas hingga Singapura, Malaysia, dan Thailand. “Kami bangga karena sebuah aplikasi buatan Indonesia ini bisa digunakan di luar negeri. Di Indonesia setahu saya belum ada aplikasi serupa. Ke depan kami akan terus berinovasi menuju the future of work. Produk baru 2018, Jojo Digi Form, mentransformasi apa pun yang berhubungan dengan penggunaan kertas, misalnya, surat-surat persetujuan,” jelas Asto.

Asto berharap di masa depan pemerintah dapat mengadopsi sistem, seperti Jojonomic, agar ritmenya lebih cepat dan efisien.

“Transformasi digital mestinya bukan hanya di perusahaan, pemerintah juga harus bisa bertransformasi digital. Sekarang tinggal maunya seberapa cepat, memang sekarang sudah menuju ke sana, tapi masih kurang cepat,” pungkasnya. (M-1)

----------------------------------

Bermain di Balik Layar 
SEBELUM merintis Jojonomics, Indrasto Budisantoso dikenal sebagai CEO and Country Head dari Groupon Indonesia, per­usahaan global yang menawarkan voucer diskon. Bagi Asto, tidak ada perbedaan signifikan bekerja di per­usahaan berplatform business to consumer saat di Groupon dengan posisinya saat ini yang berinteraksi dengan perusahaan.

“Kalau jualan pada konsumen langsung, bagaimana semua orang mengenal kita, tapi kalau klien kita perusahaan, tidak terlalu penting dikenal umum karena bekerjanya di balik layar. Jadi, cukup para decision maker perusahaan saja yang kenal,” paparnya.

Relaksasi dengan piano
Di tengah kesibukan mengembangkan pasar dan produk, Asto kini sedang menggemari piano. Menurutnya, bermain piano dapat membantu saraf-saraf kreativitas dihidupkan kembali.

“Saya juga lagi senang melihat yang hijau-hijau biar lebih segar. Kalau waktu untuk ke­luarga, mereka sangat pengertian dan tidak rewel kalau saya pulang tengah malam. Namun, sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk keluarga terutama di akhir pekan,” pungkas Asto. (Riz/M-1)

Biodata
Nama: Indrasto Budisantoso
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 17 November 1979
Pendidikan:
S-1: Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB) 2002   
S-2: Master of Business Administration di Institut Europeen d’ Administration des Affares (Insead) Prancis, 2010

Karier:
1. CEO and Founder Jojonomic (2015-sekarang)
2. CEO and Country Head Groupon Indonesia                 (2013-2015)
3. Management Consultant The Boston Consulting Group (2010-2012)
4. Head of Strategy and Co Founder Rotasis (2003-2009)
5. Director of Business Development JEPE Indonesia (2002-2009)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More