Menghitung Lompatan Benang Mencegah Pikun

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 08 Apr 2018, 11:30 WIB Weekend
Menghitung Lompatan Benang Mencegah Pikun

MI/PIUS ERLANGGA

CROCHET, kerap disebut sebagai aktivitas merajut atau merenda. Banyak juga yang berpendapat jika crochet lebih kepada kegiatan merenda, sedangkan istilah merajut lebih kepada knitting.

Kedua kegiatan yang lekat dengan kaum lanjut usia (lansia) itu mulai diminati anak muda. Berbagai barang pakai pun bisa dihasilkan dari ketekunan menghitung setiap tusukan dan lompatan benang. Di sisi lain, kegiatan itu juga bisa mempertahankan daya ingat.

Jemy asyik melihat gambar pola yang tercetak dalam kertas A4, sambil tangannya terus merajut. Kertas itu hanya sesekali diliriknya. Ia terlihat sudah hafal dengan hitungan dan tusukan yang harus dibuat untuk menghasilkan sebuah taplak meja. Di bahunya tersampir syal biru dongker hasil kerajinan tangannya sendiri.

Sementara itu, persis di seberangnya, Dyah sudah hampir menuntaskan pekerjaanya membuat tas bermotif gipsi dengan banyak permainan warna benang. Kegiatan itu menjadi pemandangan pagi hari di kediaman Harjuni Rochajati, salah satu pendiri Komunitas Rajut Kejut.

Mereka berkumpul dengan menyelesaikan tugas masing-masing. Sesekali berhenti untuk menyambung obrolan dan berbagi saran kepada sesama.

Komunitas yang terbangun pada Juni 2014 itu memang tidak memilki jadwal kumpul yang mengikat, kecuali jika ada proyek bersama, seperti pada Agustus 2014, membungkus dua buah kursi dengan teknik merajut. Lalu membungkus satu pohon di depan Istana Merdeka juga dengan teknik merajut. Kegiatan yang dulu lekat dengan cap nenek-nenek itu kini mulai digemari kaum muda, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Tentu selain bisa menjadi sumber perekonomian, kegiatan merajut juga memberi manfaat lain, khususnya kesehatan.

"Kami ini kumpulan para pencinta rajut, saat itu ingin membuat kegiatan yarn bombing, seni jalanan dengan menggunakan bahan rajutan. Ternyata antusiasmenya besar, kami mengumpulkan hasil rajutan lalu disatukan untuk menyelimuti tempat publik, itu yang menjadi awal mula kami dipertemukan," ujar Harjuni sembari memperhatikan hasil tusukan hakpen dengan kait benang merah muda, di Jakarta, Rabu(4/4).

Antusiasme yang besar justru datang dari luar kota. Itulah yang membuat dirinya berkeinginan membuat kegiatan-kegiatan lain, salah satunya workshop yang memberi ilmu merajut pada mereka yang ingin belajar.

Beberapa kali, Rajut Kejut juga diminta untuk mengisi instalasi, seperti di Alun-Alun dengan produk dream catcher berukuran besar. Pesan tulisan juga kerap dibubuhkan pada seni instalasi yang mereka buat. Bagi mereka, bukan sekadar mempercantik, melainkan juga memiliki pesan kuat dan positif. Di awali dengan 10 orang, kini ada 20 anggota Rajut Kejut.

Cegah pikun

"Kalau dulu sering buka ponsel, lihat sana-sini, pokoknya pikiran dan waktu tersita untuk ponsel. Kini ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat, jadi kebiasaan dahulu itu tersalurkan ke pekerjaan merajut. Saat duduk di bus untuk jemput anak, bisa sambil merajut, tidak ada bengong-bengong. Apalagi jika sudah selesai, rasanya senang sekali," ujar Metha, salah satu anggota komunitas.

Bagi perempuan yang sudah merajut sejak usia 16 tahun itu, kegiatan tersebut menjadi olahraga pikiran dan badan. Sebagai ibu rumah tangga, aktivitas Metha berkutat pada persoalan dapur serta menjemput anak saat pulang sekolah. Agar tidak bosan, ia pun mulai merajut kembali, sehingga hatinya terhibur dan mendapat kesenangan. Bahkan, terkadang menambah pemasukannya.

Dalam proses merajut, lanjut Metha, tidak sekadar menggerakkan hakpen, tetapi mesti menghitung lompatan dari setiap tusukan. Karena itu, konsentrasi, ketelitian, dan kesabaran menjadi pegangan dasar para perajut.

Beberapa kali ia terlihat menghentikan laju hakpen-nya sembari mulutnya komat-kamit menghitung ulang tusukan yang telah dibuat.

"Meningkatkan daya ingat, karena kita kan menghitung, berkonsentrasi jadi bisa meminimalisasi terkena penyakit alzheimer. Apalagi kami kan juga sudah berumur, ini bagus untuk terus asah pikiran, juga kesabaran," imbuh Harjuni.

Bagaimana dengan gerakan jari, saat melakukan tusukan dan tarikan dari benang yang digunakan? anggota lain, Vety, mengatakan, gerak tangan dan jari akan berimbas hingga otot-otot di bahu dan punggung, termasuk posisi duduk yang tegak.

Seusai asah otak, fisik pun ikut terjaga dengan olahraga dari proses merajut. Apalagi, jika menggunakan benang yang berat, seperti t-yard (tshirt yard), proses menariknya pun menjadi semakin kuat dan akan membuat kerja otot bertambah.

Pola dan teknik

Seperti menjahit, merajut pun memiliki pola dan motif. Jika pola pilihannya lebih kepada gambar, itu berasal dari Jepang. Bila pola jabaran tertulis itu bermula dari Eropa. Sementara itu, untuk motif, beberapa di antaranya motif gipsi dan embossed yang biasa terlihat seperti tiga dimensi.

Untuk teknik, kerap kali banyak yang menanyakan antara crochet dan knitting. Harjuni mengatakan keduanya berbeda, crochet menggunakan satu jarum, sedangkan knitting dengan dua jarum. Bentuknya pun berbeda, untuk crochet menggunakan jarum dengan ujung memiliki kait, sedangkan knitting tanpa kaitan.

Banyak juga yang kerap menyebut crochet sebagai merenda, sedangkan knitting merajut. Menurut Harjuni, jika pemaknaan harfiahnya, crochet berarti mengait, sedangkan merenda itu bisa menggunakan teknik crochet atau knitting tergantung pada penggunaan jarum. Pun kini yang sedang gandrung dikalangan anak muda ialah amigurumi, seni merajut boneka.

Berbagai boneka karakter hadir dalam balutan benang rajutan. Untuk mempelajari tak perlu kesusahan, banyak kelas yang dibuka secara online, kelas tatap muka hingga autodidak dengan bantuan Youtube.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More