Mengesankan Gersang

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 08 Apr 2018, 10:30 WIB Tifa
Mengesankan Gersang

MI/ABDILLAH M MARZUQI

POHON-POHON seperti tercerabut dari rumahnya. Sebenarnya, ia tak ingin meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, apa daya, tidak ada lagi yang berkuasa untuk membuatnya tetap menjejak tanah.

Bahkan, ibu bumi pun tidak lagi mampu untuk menahannya. Akar-akar pohon yang terjerabut dari tanah menghadirkan kesan yang sangat dalam.

Batang dan akar pohon karet memang hadir kembali, tetapi kehadirannya bukan seperti yang dibayangkan. Jika dulu akar itu terbenam dan tertimbun didalam tanah, saat itu akar tersebut bergantung pada plafon gedung. Berbagi ruang dengan beberapa instalasi gedung.

Itulah alasan mengapa keberadaan 14 pohon karet berada di bagian plafon ruang pamer ROH Projects, di Jakarta Selatan. Dalam pameran itu, pematung Anusapati tengah berunjuk karya pada pameran tunggal bertajuk Plantscape yang dikuratori Grace Samboh, pada 24 Maret sampai 17 April 2018.

Terdapat empat karya yang ditampilkan. Selain karya Plantscape (2018), masih ada karya lain, yakni Seri Kebon Karet #4 (2018), Shadow #10 (2012), dan As I Can Recall (2018).

Sepanjang jalan seninya, pematung berusia 60 tahun itu kerap disibukkan dengan kayu dan masa lalunya, yakni pepohonan. Lewat pameran yang diberi judul Plantscape, Anusapati membawa kenangan masa kecil tentang pohon karet di daerah perkebunan.

Masa kecil itu tidak mungkin bisa terulang kembali ketika pohonan itu telah berubah menjadi pohon beton dengan ketinggian dan besaran yang berkali lipat. Dari situlah, pengajar di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu merespons kenangannya menjadi bentuk rupa dan instalasi estetis dalam pameran Plantscape.

Sumber inspirasi

Bagi Anusapati, kenangan bukan sekadar yang tersimpan dalam memori. Kenangan ialah sumber inspirasi, penjelasan, dan pengetahuan.

Laki-laki kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, itu mengenang tempat ia tumbuh merupakan wilayah dengan kebun karet yang begitu luas. Dia menghabiskan masa kecil di lingkungan yang penuh dengan pohon karet.

Saking luasnya kebun karet, Anusapati bersama teman-teman masa kecilnya menyebut kebun karet sebagai ujung dunia. "Awas! Jangan bermain di pinggiran ujung dunia," begitu kalimat yang terekam dalam ingatan Anusapati.

Meski demikian, tidak satu pun pohon dalam karya Anusapati yang dikorbankan demi kepentingan karya sebab ia menggunakan pohonan yang sudah tidak punya harapan hidup lagi.

"Karya-karya Anusapati selalu menghadirkan kesan yang mendalam dan gersang," terang Grace Samboh dalam pengantarnya.

Begitu pun tiga karya lainnya, nuansa gersang sangat terasa. Dalam karya As I Can Recall (2018), Anusapati menghadirkan bagian-bagian dari tanaman, seperti buah, daun, batang, dan cabang dalam bingkai kaca,

sedangkan dalam dua karya lain, yakni Shadow #10 (2012) dan Seri Kebon Karet #4 (2018), Anusapati memunculkan nuansa gersang melalui arang di atas kertas.

Pematung Anusapati menamatkan pendidikannya di ASRI Yogyakarta (1983) dan School of Art and Design, Pratt Institute, New York, Amerika Serikat (1990). Karya-karyanya dipamerkan bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Jepang.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More