Apakah Ia Harus Mengunci Pintu?

Penulis: Fina Lanahdiana Pada: Minggu, 08 Apr 2018, 10:00 WIB Weekend
Apakah Ia Harus Mengunci Pintu?

LELAKI itu berdiri di depan pintu, menciptakan bayang-bayang dari cahaya yang demikian panjang. Seperti waktu. Lama ia merenung. Ragu antara berkata ya atau tidak kepada dirinya sendiri. Apakah aku harus menutup pintu?

***

Dalam suatu masa yang pernah Trojan yakini bahwa ia pernah melampauinya, di tahun yang pernah lewat, ia pernah menuliskan mimpi menjadi seorang pelukis. Namun yang terjadi justru ia terus menerus menangis.

Usianya ketika itu 8 tahun dan ia sering jadi olokan teman-temannya, "Dasar bodoh! Kau tak tahu cara membedakan warna!"

Kalimat itu tidak pernah mati di dalam rumah kecil di sudut kepalanya, kalimat yang terus tumbuh dari waktu ke waktu seolah raksasa penghancur seluruh kota.

"Apa itu warna, Rana?"

Seorang gadis di hadapannya hanya menggeleng. "Tidak tahu. Tapi kamu jangan menangis lagi, meskipun aku tidak punya balon warna-warni."

"Apa itu warna, Rana?"

"Kamu tidak perlu banyak bertanya."

Rana, gadis itu tentu tidak benar-benar tidak tahu tentang warna. Ia hanya tidak ingin membuat Trojan terluka. Ia tidak ingin temannya semakin ingin menangis jika mengetahui definisi warna.

"Apa itu warna, Rana?"

Kalimat itu kembali meluncur, dari masa depan. Baik Trojan atau pun Rana, tentu sebenarnya sudah tahu tentang pertanyaan yang terkunci di masa lalu, sementara penghuninya pindah rumah dan lama tak menjenguk ruang berdebu dan penuh sarang laba-laba itu.

Seorang pria duduk khusyuk di hadapan cahaya warna-warni dari mesin-mesin pengumpul dokumen. Orang-orang menyebutnya sebagai Perpustakaan Cahaya. Matanya menyipit mencermati huruf-huruf yang tak jauh berbeda dari masa lalu.

"Warna adalah sekumpulan aku, kau, dan seluruh semesta dengan komponen penggerak di dalamnya."

"Terlalu teknis."

"Warna adalah masa depan."

"Bagaimana bisa?"

"Diamlah, Tro. Aku membawakanmu secangkir kopi. Sedikit gula. Pekat, seperti masa lalu."

Trojan melirik, mencopot mata palsunya, dan segera meraih secangkir kopi di meja. Menyesapnya pelan-pelan. Menghasilkan nada-nada aneh yang tak siapa pun mengerti kecuali dirinya.

"Melankolia ..."

Rana, perempuan itu hanya menggeleng. Meletakkan tas, lantas mencopot sepatu. Menyalakan tv, dan tertidur.

Setelah lulus SMP dan hendak melanjutkan SMK, Trojan mengetahui persoalan buta warna yang dialaminya. Di sepasang matanya, warna hanyalah hitam dan putih. Tidak ada merah, kuning, hijau, biru, nila, ungu ....

Suatu kali ia pernah menyebut dirinya sebagai pembawa bayang-bayang. Di hadapan Rana.

"Aku lelaki pembawa bayang-bayang dan kau cahaya, Rana."

Wanita itu tertawa lucu. "Kau sudah seperti penyair saja."

Mereka bukanlah sepasang lelaki dan perempuan yang suka menyematkan tanda pada diri pasangan masing-masing. Tapi mereka memang adalah sepasang kekasih. Dan saling mencintai. Sesuatu yang sangat klise untuk kemudian dibahas. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan: 1. Apa itu cinta? 2. Bagaimana berjuang untuk cinta? 3. Menurutmu, bagaimana tentang melakukan sesuatu demi orang lain?

Jam dinding seolah roda yang terus diam, sementara bumi berputar membawanya melintasi semesta.

Teknologi memang sudah demikian canggih, sehingga pada akhirnya Trojan memperoleh sepasang mata palsu yang membuatnya mengenal warna. Ia tak perlu risau mewujudkan mimpinya menjadi seorang pelukis, meskipun sebenarnya pun, tanpa sepasang mata palsu yang bisa dicopot sewaktu-waktu itu, ia tetap bisa melukis warna-warna monokrom. Tidak masalah, kan? Hal itu justru akan membuatnya memiliki identitas. Tapi kini ia tak lagi memimpikannya.

"Kenapa?" Kata seorang bocah yang sering berteduh di bawah pohon di halaman rumahnya untuk membaca.

"Karena setiap manusia pandai menggambar. Dan kau harus tahu, apa pun yang bisa dilakukan setiap orang, tidak lagi memiliki kekuatan. Apa hebatnya sesuatu yang bisa dilakukan setiap orang?"

Bocah itu hanya mengangguk. Entah memang paham, atau hanya sekadar pura-pura. Pandangannya seperti takut mendapat kemarahan.

"Kau juga tak ingin pergi ke danau Vynu untuk memancing?"

"Mengapa kau bertanya begitu?"

"Ibu mengatakan bahwa ikan-ikan di sana semuanya sama. Teknologi telah mampu menciptakan mereka."

"Mungkin itu memang tidak lagi menarik untuk diangkat ke permukaan. Ikan-ikan itu seperti robot. Dan robot sudah semakin sampah karena ke depan, mesin-mesin akan menciptakan yang melebihi manusia. Mungkin tuhan."

"Seperti uang."

"Hei, bocah. Siapa yang mengajarimu begitu?"

"Setiap pagi Ayah ribut, berteriak bahwa uang sudah seperti Tuhan."

"Tak sepantasnya orang tuamu mengatakan hal bodoh seperti itu di hadapanmu, bocah."

"Tapi kau baru saja mengatakannya, Paman."

Keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Lalu sepersekian menit berikutnya, yang tersisa hanya keheningan.

"Kau mau susu?"

"Tidak."

"Es krim?"

"Tidak juga."

"Pie apel?"

Bocah itu hanya menggeleng. "Aku mau anjing."

"Merepotkan sekali, ya. Dititipi keponakan yang banyak mau dan aneh sepertimu."

"Aku akan mengatakannya kepada Ayah dan Ibu."

"Hei, diamlah."

"Lalu kau ingin jadi apa?"

"Galaksi."

"Dasar kau aneh, Paman."

Keduanya kembali tertawa.

Sebuah pesan masuk.

Dari: Rana

Kau di mana?

Kepada: Rana

Di depan, bersama Boma. Kemarilah, sayang.

***

Rana tidak menyusul Trojan, tetapi yang terjadi sebaliknya. Bomantara, bocah itu merengek ingin bertemu Rana dan meminta dongeng agar ia tak merasa bosan saat menunggu kedua orang tuanya.

Selanjutnya, Rana memang bercerita. Tentang seorang lelaki dengan bayang-bayang yang sangat panjang. Ia terus menerus membelakangi cahaya. Laki-laki itu juga tidak banyak mengenal warna.

"Itu sangat mirip dengan Paman Trojan."

"Mungkin pamanmu adalah benar-benar seorang tokoh cerita yang melarikan diri dari dongeng."

"Hem. Aku tidak bisa membayangkannya."

Laki-laki itu punya sebuah rumah kecil di sudut kepalanya, yang tidak seorang pun ketahui. Kadang-kadang ketika ia sedang sendirian atau gagal merencanakan tidur, sementara seisi rumah telah sepi, ia memutuskan berkunjung.

Laki-laki itu tidak memutuskan masuk. Ia hanya berdiri di tengah pintu. Menciptakan sebuah perayaan. Memandang. Ya, hanya memandang. Ia seorang pengamat, juga perekam yang baik. Oleh sebab itu ia tak pernah lupa perihal rumah kecil di sudut kepalanya. Meskipun terkadang ia benar-benar tidak ingin menjenguk, bahkan untuk mengingat. Jika ia telah membuka kunci dan mengamati, ia akan buru-buru pergi begitu saja. Tanpa berniat benar-benar ingin menutup pintu. Ia tahu rumah itu aman dari apa pun dan siapa pun. Ia tak pernah berpikir seseorang akan mencuri atau diam-diam jadi penghuni.

Rumah itu hanya berisi sekumpulan benda-benda lama, surat, telepon rumah, ayunan, layang-layang, jam dinding, dan sebagainya. Seluruhnya mengenakan warna monokrom. Warna tua selain sepia.

Ada yang lain ketika terakhir kali lelaki itu berkunjung. Ia tidak hanya berdiri, melainkan duduk. Menggores warna-warna pada lembar-lembar kertas, juga dinding dan isinya. Benda-benda itu dibiarkan berwarna sama. Monokrom. Warna-warna itu ia beri judul: Setiap Manusia Pandai Menggambar, Mengenal atau Tidak Mengenal Warna.

Ia keluar dan mengunci pintu.

"Warna itu apa, Rana?"

"Imajinasi. Ya, imajinasi."

***

Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal. Kesehariannya ia menulis sejumlah cerpen.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More