Wedangan

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 08 Apr 2018, 06:15 WIB Opini
Wedangan

PAGI itu Gareng berulang kali menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak gatal. Sesekali ia menggeleng-geleng dengan sunggingan senyum kecut.

"Ada apa kang (kakang, panggilan terhadap kakak laki-laki), kelihatannya ada yang mengecewakan?' tanya Petruk sambil menyeruput teh tubruk dengan pemanis gula batu. Bagong, yang berada di sampingnya, pun memandang Gareng penuh tanda tanya.

"Begini lo Truk (Petruk) dan Gong (Bagong). Serius ini, saya lagi prihatin dengan perilaku politisi atau elite kita," jawab Gareng.

"Yang bagaimana kang?" desak Petruk.

Bagong menimpali, "Ya kang, perilaku yang mana?"

"Itu...elite yang suka ngomong kasar," kata Gareng. "Entah apa maksudnya, tapi itu terus terang menggelikan sekaligus menyedihkan. Itu contoh yang tidak baik bagi masyarakat," tambahnya.

"O... itu ta kang," ujar Petruk.

"Memang mbelgedhes! Mereka itu kaum elite tapi tidak elite, enggak bertata krama. Terus elitenya di mana ya kang?" timpal Bagong, anak Semar yang wataknya terbuka dan paling lugas.

Saat itu Gareng, Petruk, dan Bagong sedang duduk-duduk santai di atas lincak di emperan depan rumah bapak mereka, Semar, di Dusun Karangkadmpel, yang berada di pelosok wilayah Negara Amarta.

Menjadi adat kebiasaan, menjelang sowan kepada para momongannya (Pandawa), ketiga panakawan itu wedangan sambil

jagongan (mengobrol bebas) di rumah orang tuanya. Dalam wedangan itu biasanya tersaji minuman teh atau kopi dan kadang juga wedang jahe disertai makanan ringan seperti blanggreng (singkong goreng), pisang atau ubi rebus dan lainnya.

"Kita ini bangsa yang beradab tapi kok sebagian pemimpin atau elitenya banyak yang tidak biasa berbudaya, khususnya dalam berbicara," kata Gareng. "Apa pun, misalnya mengkritik orang lain, itu seyogianya disampaikan dengan cara yang sopan. Jadi tidak langsung memuntahkan semua kegundahan tanpa kendali dan dalam diksi gusar," tambahnya.

"Sepakat kang. Kita adalah bangsa berbudaya. Dalam hal ini kita punya banyak ajaran warisan leluhur yang terkait dengan bagaimana berperilaku yang baik, termasuk bicara itu," ujar Petruk.

"Contohnya Truk," desak Bagong.

"Aku juga ngerti. Tapi sebagian kita, termasuk elite, sepertinya sudah emoh meneladani dengan ajaran-ajaran luhur," kata Gareng. "Mereka berlomba memburu duniawi, kekuasan atau apa pun, dengan berbagai cara. Tidak peduli itu dengan nilai-nilai moral dan etika."

Menjawab desakan Bagong, Petruk mengatakan bahwa ajaran luhur yang bisa dijadikan renungan adalah warisan KGPAA Mangkunegara IV. Di antaranya yang tersurat dan tersirat dalam karyanya, Serat Wedhatama. Serat ini terdiri dari 100 pupuh (bait) dalam bentuk tembang macapat, yakni pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, Kinanthi.

"Isinya apa kang?" tanya Bagong.

"Ini karya sastra yang berisi tentang ajaran perilaku utama. Tembang-tembang itu bicara tentang falsafah kehidupan sekitar bagaimana menjadi manusia yang baik. Manusia yang berwatak kesatria berhati mulia dan berbudi luhur," terang Petruk.

Dalam sanggit sejumlah dalang, Petruk memang dikenal sebagai salah satu pakanawan yang pintar dan berpengetahuan luas. Ia selalu menjadi tempat bertanya kedua saudaranya itu terkait dengan berbagai masalah kehidupan. Pun kepada bapaknya, Petruk kerap meluruskan Semar ketika melakukan kekeliruan yang tidak disengaja.

"Kasih contoh Truk," pinta Bagong lagi.

"Aku kutip dari tembang Pangkur ya Gong, pupuh kedua," ujar Petruk.

Lalu terdengarlah lantunan tembang:

"Jinejer ing Wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi sepa lir sepah asamun, samasane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi." (Ada dalam Wedhatama, agar tidak miskin pengetahuan, meski sudah tua pikun, bila tidak menggunakan rasa, niscaya kosong tiada guna bagaikan ampas, di dalam setiap pertemuan serbabertingkah laku memalukan).

"Itu maksudnya apa kang?" rajuk Bagong.

"Singkatnya, manusia itu mesti kaya pengetahuan, pintar, sehingga kalau bicara atau menyampaikan sesuatu tidak memalukan," terang Petruk.

Lalu, Petruk melanjutkan bait berikutnya:

"Nggugu karsane priyangga, nora nganggo peparah lamun angling, lumuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun samudana, sesadoning adu manis. (Menuruti kemauan sendiri, bila berkata tanpa dipertimbangkan, namun tidak mau dianggap bodoh, selalu berharap sanjungan, namun orang yang sudah memahami ilmu, malah merendahkan diri, menanggapi semuanya dengan prasangka baik).

"Dijelaskan kang?" kata Bagong.

"Kan sudah jelas Gong. Orang bodoh yang tidak tahu diri," tukas Petruk.

"Terus bait selanjutnya bagaimana Truk?" sela Gareng yang sejak tadi serius menyimak temgang yang dilantunkan Petruk.

Petruk melanjutkan:

"Si pengung nora nglegewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-andhar angendukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkangipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang sipingging. (Si dungu tidak menyadari, bualannya semakin menjadi-jadi, melantur ke mana-mana, bicaranya tidak masuk akal, kian menyombongkan diri, makin aneh tidak ada jedanya, lain halnya orang bijak itu mengalah, menutupi ulah si bodoh).

"Sudah paham Gong, kang Gareng? Dalam tembang beberapa bait itu saja sudah terang tentang ajaran bagaimana seharusnya orang bertingkah laku, termasuk berbicara," ujar petruk.

"Ya Truk. Memang pemimpin dan elite itu seharusnya orang yang baik. Orang yang berjiwa kesatria yang senantiasa memegang teguh etika, termasuk dalam bicara itu ya Truk," kata Gareng.

"Iya kang. Memang tidak gampang," saut Petruk.

Belum rampung mereka mengobrol, Semar muncul dari ruang tengah. "Thole (panggilan kepada anak laki-laki)...Gareng, Petruk, Bagong. Ayo kita siap-siap untuk segera menghadap momongan kita di istana Amarta," kata Semar.

"Ya Pak, ini sudah siap," kata Gareng yang kemudian diikuti dengan kata-kata yang hampir sama oleh Petruk dan Bagong.

Menurut agenda yang diterima Semar, Pandawa akan mengadakan rapat untuk mencari solusi terkait dengan banyaknya nayaka praja yang terjerat kasus korupsi.

Panakawan itu kemudian bersama-sama melangkahkan kaki menuju Amarta.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More