Dari Pemula hingga Profesional

Penulis: Zuq/*/M-4 Pada: Minggu, 08 Apr 2018, 09:30 WIB Jeda
Dari Pemula hingga Profesional

MI/ABDILLAH M MARZUQI

SEBELUM menjadi jastiper, Winda Bonafita, 35, berjualan secara daring. Ia biasa menampung barang dahulu lalu menjualnya. Namun, ia merasa cara itu membatasi variasi barang yang bisa dijual.

Dengan sistem jastip, Winda mengaku lebih leluasa untuk memperoleh barang berdasarkan pesanan yang masuk. Awalnya, ia bermain barang-barang dalam negeri.

Tak hanya pusat perbelanjaan modern yang menjadi amatannya, pasar tradisional pun tak luput dari jangkauannya. Pasar Asemka menjadi awal mula Winda membuka jastip.

Apa pun produk yang bisa diperoleh di Pasar Asemka, Winda bisa mendapatkannya.

Yang terpenting bagi Winda ialah mampu menyediakan barang dengan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan para pelanggannya berangkat sendiri. “Itu sudah termasuk sama fee jasa titipnya,” lanjut Winda yang memulai jastip pada 2016 lalu.

Tak puas hanya bermain lokal, Winda pun memperluas target market-nya. Ia pun mulai berburu barang titipan sampai ke luar negeri. Negara yang paling sering di­sambanginya ialah Jepang dan Korea Selatan.

Sepatu dan produk kecantikan menjadi barang utama yang dipesan karena banyak peminatnya. Ia pun bolak-balik ke luar negeri hanya untuk melakonkan profesi jastip. “Walaupun untungnya dikit, tapi kan setidaknya balik modal,” ujarnya sembari tertawa.

Winda mengaku aktivitas berbelanja membuatnya merasa rileks setiap hari. Meski barang yang dibeli bukan miliknya.

Minat terhadap barang dari luar negeri juga ditangkap sekumpulan anak muda. Mereka lalu membentuk platform digital bantu beli titipan barang bernama Airfrov. Airfrov menawarkan jasa titip belanja barang dari luar negeri melalui pelancong atau traveller yang sedang berada di luar negeri.

Airfrov berperan sebagai wadah bagi user untuk memenuhi permintaan, dan juga untuk meminimalkan hambatan yang terjadi saat melakukan titip belanja, juga untuk mengatasi perbedaan harga yang disebabkan dengan biaya ekspedisi. “Tahun 2016 baru masuk di Indonesia,” terang Marketing Manager Airfrov, Acesa Rebecca, Jumat (6/4).

Requester (penitip) dapat mengunggah barang yang diinginkan, sekaligus memberikan penawaran harga barang yang sudah termasuk tip untuk traveller (penyedia). Sebaliknya, traveller juga bisa mengumumkan rencana perjalanannya yang nantinya akan direspons requester.

Setelah keduanya mencapai titik temu, barulah requester mentransfer dana yang disepakati pada Airfrov. Cara kerja itu mirip mekanisme rekening bersama (rekber) yang banyak dipakai e-commerce di Indonesia.

Jika terjadi keluhan, Airfrov juga berperan sebagai penengah sekaligus penjamin.  Dari bisnis ini, Airfrov mengambil komisi sebesar 5% dari total transaksi yang dilakukan oleh requester ditambah biaya jasa Rp25 ribu.

“Yang 5% itu untuk biaya transfer, biaya kartu kredit. Yang Rp25 ribu untuk biaya operasional kita,” lanjutnya.

Saat ini, layanan Airfrov telah menjangkau lebih dari 60 negara dengan jumlah penggunanya sekitar 100 ribu orang.

Meski mirip, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) yang juga CEO Blanja.com, Aulia E Mariyanto, menyatakan bisnis jastip dan e-commerce berbeda. “Bisnis jastip hanya fenomena sementara sebab semua keberlangsungan bisnis tersebut hanya bergantung pada individu yang kebetulan ada di area tertentu,” kata Aulia.

Sementara itu, e-commerce memberi kepastian, keamanan, dan kemudahan.

Riri, 20, pernah menggunakan jastip untuk membeli jaket bermerek di dalam negeri. “Ternyata memudahkan juga kok. Penawaran harganya lebih terkini dan menarik ketimbang toko daring,” sebutnya. (Zuq/*/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More