Sama-Sama Untung dengan Jasa Titip

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 08 Apr 2018, 09:00 WIB Humaniora
Sama-Sama Untung dengan Jasa Titip

DIEN Nurdini, 30, dengan sigap memasukkan banyak buku ke dalam trolinya. Ada satu judul buku yang bahkan dibelinya lebih dari 5 unit. Maklum, semua yang masuk ke troli bukan untuk dirinya.

Ditemani sang suami dan anak perempuannya yang masih balita, Dien sedang menjalankan profesinya sebagai penyedia jasa titip (jastip) buku impor dengan harga miring di acara Big Bad Wolf (BBW) 2018, di BSD, Tangerang, Rabu (4/4) lalu.

Siang itu menjadi hari keduanya di BBW 2018. Hari sebelumnya, perempuan yang berprofesi sebagai psikolog ini telah menghabiskan waktu 12 jam, sejak Subuh hingga pukul 18.00.

Saat ia berkeliling, matanya tak bisa lepas dari layar ponsel. Ia harus terus memantau salah satu grup di aplikasi pesan Whatsapp, siapa saja yang mau memesan buku-buku yang telah difotonya.

Dalam sehari, Dien mengaku bisa mengantongi keuntungan rata-rata Rp500 ribu–Rp1 juta.

“Awalnya kita dari teman-teman sekolah. Ada lima orang yang datang ke BBW bergantian. Yang nitip pun ya dari lingkaran pertemanan,” buka Dien kepada Media Indonesia.

Menggunakan asas saling percaya antarteman, bukan berarti tanpa hambatan.  “Karena kita enggak ada sistem deposit, ada yang susah dimintain alasannya karena belum ada uang,” ungkapnya.

Teman satu grup Dien, Oemmy Ramadhany, 30, juga mulai menyeriusi profesi sampingan barunya ini sejak gelaran BBW 2017. Oemmy bisa membukukan omzet hingga Rp8 juta khusus untuk belanja buku di BBW.

“Aturan kita, kalau buku harganya di bawah Rp100 ribu, tarif jastipnya Rp10 ribu, di atas Rp100 ribu, Rp15 ribu, kalau berat, tebal, itu ya Rp20 ribu,” jelas Oemmy.

Karyawan salah satu bank swasta di Bogor, Jawa Barat, itu mengungkapkan, meski dirinya sudah mapan dengan profesinya, menjalankan profesi jastip bukan sekadar mengejar pundi-pundi.

Dengan menjadi jastiper, Oemmy mampu mengendalikan hasrat belanjanya karena fokus pada buku pesanan yang harus diburunya. Ia pun ketagihan sebab memunculkan adrenalin bagi dirinya.

Selama tiga hari gelaran BBW 2018 berlangsung, grup jastip santai milik Dien dan Oemmy sudah membukukan omzet hingga Rp50 juta. Tahun depan mereka mengincar masuk sebagai buck buyer, yang pasti memiliki keuntungan lebih.

Buck Buyer merupakan respons penyelenggara BBW terhadap kemunculan para jastip. Penyelenggara memutuskan untuk memfasilitasi mereka sejak tahun lalu.Ada sekitar 100 buck buyer yang bergabung.

Meskipun jumlah mereka tidak sampai 10%, Presiden Direktur PT Jaya Ritel Indonesia, Uli Silalahi, mengapresiasi peran para jastiper dalam ajang BBW yang digelarnya.

“Kita dari pihak BBW merasa terbantu karena akhirnya tempat-tempat yang tidak bisa kita jangkau, itu bisa mereka (jastip) kirim, contoh ada di Papua, Palu, Samarinda, dan Lampung,” ungkap Uli.

Untuk para jastiper yang bertransaksi di atas Rp100 juta, Uli bahkan menyiapkan antrean kasir sendiri, yang terpisah dari pengunjung. Di lokasi gedung tempat BBW 2018 digelar nonsetop 24 jam selama 12 hari itu bahkan sudah tersedia outlet khusus pengepakan dan pengiriman barang oleh sebuah perusahaan jasa ekspedisi.

Belanja menyenangkan
Selain di dalam negeri, bisnis jasa titip di luar negeri pun tak kalah peminat. Berawal dari iseng, Karina Amanda atau Kika, 24, akhirnya menyeriusi bisnis jasa titip atau jastip sejak 2016.

Lewat akun @preorderbykika di Instagram, perempuan kelahiran 1994 itu membuka penawaran untuk membelikan barang di negara yang akan dia datangi dalam waktu dekat. “Barangnya apa aja, yang enggak bikin  susah. Paling banyak ya kosmetik,” ujar Kika, Jumat (6/4).

Saat ini, misalnya, Kika berencana melancong ke Jepang dan membuka penawaran jastip. Beberapa foto kosmetik, kamera dan aneka makanan ringan terpampang di akun Instagram-nya.

Di akunnya, tertera nomor yang bisa dihubungi. Sistem jastip miliknya ialah deposit, jadi para penitip harus mentransfer uangnya terlebih dulu.

Tinggal pasang tanda pagar (tagar), orang akan datang sendiri untuk memesan. “Tarif jastip minimalnya 15% dari harga barang,” terang Kika.

Kika mengaku tidak memusingkan berapa uang yang didapatnya sebagai jastiper. Begitu pun dengan besaran cukai pajak yang harus ditanggungnya.

“Kalau dihitung-hitung maksain harus balik modal sama tiket pesawat hotel dan lainnya berat. Jadi, jangan dibawa serius lah. Yang penting tanggung jawab sama konsumen yang udah percaya sama kita. Sama-sama senang,” urainya terkekeh.

Sementara itu, Safir Makki, fotografer di salah satu media menjadikan bisnis jastip sebagai solusi bagi para penitip oleh-oleh.

“Awalnya karena sudah lelah diteror oleh-oleh, akhirnya memutuskan bagi yang mau oleh-oleh titip aja pesanan dan uang, atau transfer uang kalau barang yang diinginkan ada di sana,” terang Safir yang mendapat jastip saat berkunjung ke negara seperti Nepal, India, Sri Lanka, Saigon, dan Taipei.

Safir juga menetapkan sistem deposit dan tarif jastip 30%-70% dari harga barang. “Keuntungannya, sekali jalan bisa Rp2 juta-Rp3 juta. Uangnya bisa digunakan buat rencana jalan-jalan selanjutnya.”

Awas kecanduan
Terkait dengan fenomena bisnis jastip, psikolog Ratih Ibrahim mengatakan jika dulu orang berbelanja hanya untuk memenuhi kebutuhan, kini belanja memunculkan banyak motif. Salah satunya ialah untuk menghadapi masalah dalam hidup.

Sebagai contoh ketika seseorang berbelanja, dia akan menemukan suasana baru dalam area toko. Ia berada dalam kelilingan barang-barang baru dengan aroma khas barang baru. Suasana itu baginya menyenangkan dan membuat dia rileks.

Begitu pun ketika berhasil mendapatkan barang idaman. Bersentuhan pun sudah menjadi sensasi tersediri.

“Dalam suasana belanja saja sudah menjadi menyenangkan, jadi rileks, kemudian dia menikmati itu. Tapi, ketika berbelanja menjadi adiksi (kecanduan), itu yang menjadi problem. Disebutnya shopaholic. Itu yang kemudian menjadi masalah,” pungkas Ratih. (Zuq/M-4)

fathur@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More