Karena Cinta Kekal Adanya

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Sabtu, 07 Apr 2018, 07:30 WIB Humaniora
Karena Cinta Kekal Adanya

KEMARIN, nanti, seandainya, hingga hidup di luar waktu semua diperdebatkan. Ya sesungguhnya, waktu itu memang ada, uraian celotehan antara Sarwono dan Pingkan di masa lalu menjadi penanda waktu itu berjalan.

Perjalanan kasih Sarwono dan Pingkan penuh liku, bukan karena adanya perbedaan pendapat lantaran perempuan yang dicintai pria bertubuh kerempeng itu berasal dari etnik yang berbeda, tetapi juga masuknya Katsuo, orang ketiga dari negeri seberang.

Ingatan Sarwono akan percakapannya dengan Pingkan meletus begitu saja setiap kali ia menatap dirinya pada cermin. Hingga waktu bisa dilipatnya, pertemuan dengan pujaan hatinya pun menunggu di depan mata. Mulai dari media surat elektronik, pesan singkat, hingga aplikasi tatap muka saat berkomunikasi, ya semua dijajal Sarwono dan Pingkan untuk mengobati rindu mereka.

Berkeluh kesah, meminta pendapat, bahkan hal-hal yang tidak penting hanya sekadar perdebatan bodoh yang kerap membuat keduanya semakin rindu.

Demikianlah jalinan konflik yang dibangun Sapardi Djoko Damono dalam novel Yang Fana Adalah Waktu. Novel ketiga dari trilogi Hujan Bulan Juni karangan yang dirilis Maret 2018 lalu itu memberikan sudut pandang tentang sesuatu yang pasti ada dan bisa mengalahkan diri jika manusia terus larut pada hal-hal yang tidak penting.

Novel pamungkas Sapardi dalam karya triloginya ini tidak hanya bertutur perihal asmara Sarwono dan Pingkan. Tetapi, juga laki-laki Jepang yang disebutnya sebagai pembentuk segitiga antara hubungan dirinya dan Pingkan.

Meskipun tak sama panjang kakinya, namun rasa cemburu masih terpancar pada setiap pilihan jawaban Sarwono ketika mendapat cerita tentang laki-laki bernama Katsuo. Berada jauh dari kekasih hatinya, membuat Sarwono kerap menebak Pingkan mendapat lamaran dari Katsuo.

Padahal, Pingkan hanya ingin menceritakan kedatangan Katsuo malam-malam ke dorm-nya untuk berdiskusi tentang perempuan yang dijodohkan dengannya, Noriko.

Katsuo meminta Pingkan ikut bersama dirinya menemui Noriko di Okinawa, Jepang, berpura-pura mereka tak memiliki hubungan apa pun. Dengan cekatan Pingkan pun membalas bahwasanya pernyataan itu bukan lah pura-pura, ia memang tidak mencintai Katsuo.

Singkat cerita mereka pergi ke Okinawa, Pingkan pun perlahan mulai mengerti betapa rapuhnya sisi Noriko yang sebenarnya sudah tak tahan lagi dengan kekerasan hati Ibu Katsuo dan ketidakpatuhan Katsuo akan perintah ibunya.

Pertemuan dengan Noriko itu sangat membekas di benak dan hati Pingkan, ia menjadi begitu menyayanginya, menganggap sebagai adik, hingga meminta Sarwono untuk menolong Noriko dengan mengabulkan keinginannya pergi ke Solo, Indonesia.

Tak ada yang sia-sia, kerja keras Sarwono sebagai seorang pengajar dan peneliti yang hingga membuatnya di diagnosis kurang gizi menimbulkan lengkungan senyum yang lebar. Seusai diminta menjadi pembicara kunci dalam forum diskusi di Jepang, Sarwono mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Kyodai, Kyoto Daigaku, salah satu lembaga pendidikan tinggi unggulan di Jepang.

Bahagia Sarwono membuncah karena kisah asmaranya akan kembali bermekaran seperti Sakura di Musim Semi. Di sisi lain, kedua orangtua Sarwono justru mendapatkan sebuah kebahagiaan dan kesedihan yang bersamaan.

Pasalnya, mereka akan kembali ke seperti semula, berdua saja. Hal itu juga diamini Ibu Pelenkahu, yang diam-diam mendengar percakapan calon besannya dan mengamini keadaan tersebut.

Meski sudah sama-sama berada pada pijakan yang sama, Sapardi tidak menuliskan secara gamblang bagaimana akhir dari romansa Sarwono dan Pingkan. Hanya kebahagiaan tersirat pada lembar akhir, tentang imajinasinya kala terlelap, "Kita Sudah Sampai, Sar," ucap Pingkan saat roda pesawat menyentuh landasan.

Kisah tak biasa

Pada novel pertamanya, Hujan Bulan Juni, Sarwono yang bekerja sebagai dosen di Prodi Antropologi UI bertemu dengan Pingkan, asisten dosen di Prodi Sastra Jepang. Perempuan ini juga merupakan adik dari teman Sarwono, Toar.

Kisah cinta mereka dikisahkan tak biasa karena tak ada yang terlihat lebih mencintai. Mereka memiliki gaya masing-masing yang lucu dan terkadang melankolis dengan celotehan sontoloyo, Sarwono.

Sedangkan, di novel keduanya berjudul Pingkan Melipat Jarak, Sarwono dikisahkan jatuh sakit hingga tubuhnya kerempeng, lantaran kepikiran Pingkan, perempuan keturunan Manado yang sedang disukai laki-laki Jepang bernama Katsuo.

Kedatangan Pingkan menjenguk Sarwono menjadi satu upaya untuk mengungkapkan cinta kasihnya. Namun, kondisinya tak sejalan karena ia tak bertemu dengan laki-laki itu, bahkan hingga waktu kepergiannya sudah dekat, menuju Kyoto.

Seperti menonton dari jarak sangat dekat dan jelas, begitu rasanya membaca buku-buku pria kelahiran 20 Maret 1940 itu. Meskipun sudah usia lanjut, Sapardi justru membumbui cerita dengan pilihan kata yang sedang akrab di telinga generasi milenial.

Ada pilihan sarkastik yang dijejalkan pada buku 144 halaman itu, perihal generasi zaman now yang merupakan seorang masyarakat dengan kebutuhan kepemilikan kartu tanda penduduk (KTP) yang kini berubah sebutannya menjadi netizen.

Unsur-unsur kebaruan lain yang juga menambah segar dan tertawa adalah pilihan ejaan tertawa ala masa kini, juga dengan ejaan ungkapan yang dirasa belum ada pada era Sarwono dan Pingkan. Nilai-nilai budaya Jawa dan Jepang masih tergambar di beberapa babak, kepiawaian Sapardi membungkus sebuah cerita dengan sisipan sajak memang tak perlu lagi diragukan.

Pada buku ini juga, diselipkan buku sajak-sajak untuk Pingkan yang ditulis Raden Sarwono Hadi. Kumpulan sajak yang mengisahkan cerita keduanya yang pernah dipisahkan jarak.

(M-4)

_____________________________

Judul : Yang Fana Adalah Waktu

Penulis : Sapardi Djoko Damono

Halaman : 146 halaman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Maret 2018

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More