Silangkan Padi Tingkatkan Kesejahteraan

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Sabtu, 07 Apr 2018, 02:00 WIB KICK ANDY
Silangkan Padi Tingkatkan Kesejahteraan

MI/Sumaryanto Bronto

Serumpun padi tumbuh di sawah

Hijau menguning daunnya

Tumbuh di sawah penuh berlumpur

di pangkuan Ibu Pertiwi

BAIT lagu berjudul Serumpun Padi ciptaan R Maladi ini menjadi lagu wajib bagi Surono Danu dan rekan-rekan petani. Nyanyian itu seperti menggambarkan kecintaannya pada padi.

Surono prihatin kondisi Indonesia sebagai negara agraris yang subur alamnya, tapi harus mengimpor pangan untuk kebutuhan rakyatnya, salah satunya beras. Kondisi itu pun yang memacunya untuk mengumpulkan 180 varietas padi lokal untuk diteliti. Penelitian itu dimulai pada 1980 dan berhasil menyilangan padi lokal pada 1985. Setelah 8 tahun berselang, Surono menemukan benih padi dengan umur 150 hari di 57 varietas padi.

Tidak sampai di situ, Surono terus mengembangkan penelitiannya hingga berhasil melahirkan benih padi dengan umur 105 hari yang dinamakan Sertani. Penelitian dan proses pengawin silang padi lokal ini terus ia lakukan hingga menemukan terdapat varietas padi dengan usia mencapai 90 hari. Varietas itu mampu memberikan hasil panen hingga 3 kali lipat jika dibandingkan dengan benih pada umumnya, seperti padi sampang yang dikenal dengan padi setan.

"Padi jenis ini bisa tumbuh meskipun di tanah yang sulit untuk panen. Jika bisanya memanen dalam 6 kg-10 kg dalam satu petak, setelah ditanam padi setan ini mendapatkan 17 karung," kata Surono.

Tolak

Bahkan, padi hasil temuannya dengan mengawinsilangkan padi lampung yang pejantannya bernama dayang rindu dan betinanya, Sirendah Sekang Kuning, dan Putih, pun sempat ditawar senilai Rp400 juta oleh pihak asing. Harga itu ditawarkan kepada Surono untuk 1 gram yang berisi 30 butir padi yang berarti Rp20 juta per butirnya. Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah dirinya dan istri. Mereka mengaku alasannya menciptakan bibit unggul hanya untuk mensejahterakan petani Indonesia.

Lelaki yang memiliki lima anak ini pun mendorong petani agar tidak hanya bercocok tanam, tapi juga meneliti tanamannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

"Ini bukan sekadar pengabdian saya terhadap negara, tapi ini kewajiban saya," ucap Surono.

Bersama rekan-rekan Mari Sejahterakan Petani (MPS), lelaki 67 tahun ini memperkenalkan benih temuannya. Bukan hanya petani, Surono bersama kawan-kawannya memberikan pemahaman mengenai pangan ke anak-anak usia dini dan SMK. Dengan kegiatannya ini ia berharap, Indonesia bisa segera mencapai kedaulatan pangan dan tidak lagi membutuhkan impor beras dari negara lain.

"Ya kan saya hanya ingin buktikan bahwa saya salah satu anak bangsa Indonesia harus bisa seperti nenek moyang merakit Borobudur yang semua serbasimetris, bahkan waktu itu belum ada teknologi apa pun yang katanya canggih," kata Surono.

(M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More