Sketsa untuk Semua

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 01 Apr 2018, 11:15 WIB Weekend
Sketsa untuk Semua

MI/ABDILLAH M MARZUQI

JEMARI mereka dengan cekatan menggores-gores garis di atas kertas. Bermodalkan kuas dan tinta china mereka duduk berjejer dan sibuk dengan kertas masing-masing. Setelah menggores kertas, mereka mencelupkan kuas dalam tinta china di wadah palet. Tarikan-tarikan garis mereka akhirnya membentuk bidang berwarna hitam. Mereka melakukan itu berulang kali hingga mendapat bentuk yang diinginkan.

Siang itu matahari begitu terik seolah membakar ubun-ubun. Dengan cuaca seperti itu pastilah berpikir ulang untuk menghabiskan waktu di tempat terbuka tanpa pelindung. Itulah sebabnya banyak di antara peserta Kamisketsa memilih tempat teduh untuk mencipta karya.

Begitulah para peserta Kamisketsa di Galeri Nasional Indonesia (GNI) pada Kamis (29/3). Mereka rutin berkumpul setiap Kamis, pukul 09.00-15.00 WIB. Kegiatan itu gratis dan terbuka untuk umum. Saat itu, sekitar 30 dari 200-an peserta Kamisketsa tengah berproses membuat sketsa. Memang tiap kali berkumpul jumlah itu tidak selalu tetap.

Pencetus Kamisketsa sekaligus Kepala Seksi Pameran dan Kemitraan GNI Zamrud Setya Negara, 39, mengungkapkan program itu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menggambar sketsa secara bersama-sama. Setelah masyarakat melihat dan menikmati karya seni yang dipamerkan di GNI, mereka lalu diajak untuk membuat karya seni dalam bentuk sketsa.

"Sebenarnya sketsa itu adalah salah satu solusi dari Galeri Nasional Indonesia untuk membuat proses lanjutan dari sebuah proses apresiasi karya seni. Pesertanya lintas usia yang terdiri dari seniman, mahasiswa, dan juga masyarakat umum. Kegiatan ini dilaksanakan pertama kalinya pada 12 Oktober 2017. Kamisketsa diambil dari istilah 'kami-sketsa' yang artinya kami menggambar sketsa setiap hari Kamis," tutur Zamrud.

Sebelum peserta mulai membuat sketsa, tambahnya, terlebih dahulu mereka diajak berdiskusi santai. Pada sesi diskusi, para peserta berbagi pengetahuan seputar teknik dan bermacam jenis alat menggambar, serta bertukar pengalaman dalam menggambar sketsa.

Narasumber pun dipilih dari para seniman yang telah malang melintang di dunia sketsa, seperti Iwan Widodo, 47, yang kala itu membagikan pengalamannya dalam menggunakan cat china dalam sketsa.

"Semuanya sih sharing (berbagi) ilmu kita saling berbagi," terang Iwan yang siang itu memberikan materi cara pencampuran tinta china dengan air untuk mendapatkan warna hitam yang sesuai kebutuhan serta bagaimana gambar bidang bisa menampilkan bentuk seperti yang dituju.

"Tentang gelap terang, komposisi, gradasi," tambahnya.

Universal

Jika ada ungkapan bahwa seni ialah bahasa universal, Kamisketsa menjadi salah satu buktinya. Hari itu terdapat dua seniman mancanegara yang berturut menjadi peserta. Cheng Peng Sia, 65, dan Ley See Loo, 47, yang sedang berpameran di Jakarta pun menyempatkan waktu untuk mensketsa bareng. Mereka berdua mengaku senang bisa bergabung dengan Kamisketsa.

"Bagus, kita belajar, banyak saudara-saudara friendly (bersahabat). Kita sukalah. Tukar pikiran, tukar teknik, kita belajar banyak. Kita sukalah sama-sama sketsa," terang Cheng yang berasal dari Kuala Lumpur Malaysia.

Seniman Ismet Pasha Ma'aroef, 80, juga nampak memberikan apresiasinya terhadap para peserta Kamisketsa. Ia menyediakan waktu untuk ditanyai tentang rupa-rupa sketsa.

"Mereka bertanya kita jawab, sesuai dengan pengalaman kita," terang Ismet yang akrab dipanggil Pak Ipe.

Untuk bergabung dalam kegiatan itu, peserta cukup datang tanpa harus memikirkan biaya registrasi. GNI sudah menyediakan alat-alat menggambar sketsa berupa clipboard berbahan kayu sebagai alas menggambar sketsa, kertas putih, serta alat tulis, seperti spidol, ballpoint, lidi, dan tinta china, kuas, juga drawing pen.

"Siap menjadi bagian dari Kamisketsa, alat sudah disediakan di workshop. Yang penting komitmen," tegas Zamrud.

Berbekal peralatan menggambar sketsa itulah peserta kemudian bereksplorasi memilih objek sketsa di dalam lingkungan Galeri Nasional Indonesia. Ada yang memilih objek gedung, tanaman, manusia, dan benda-benda lainnya. Setelah puas menggambar sketsa, para peserta mengumpulkan hasil sketsanya kepada tim fasilitator. Sketsa-sketsa tersebut dipajang di dinding ruang workshop Kamisketsa di Galeri Nasional Indonesia.

Semangat yang dibangun Kamisketsa ialah kebersamaan dan berbagi. Kamisketsa memang tidak dimaksudkan hanya untuk yang mahir, tapi terbuka bagi siapa pun yang memang berniat belajar membuat sketsa. Kegiatan itu ditujukan sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas masyarakat, bagi para penikmat, dan apresiator karya seni.

"Besar kecilnya Kamisketsa. Besar kecilnya kita, itu ditentukan bersama," pungkas Zamrud.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More