Karena Kertas tidak Perlu Gincu

Penulis: Abdillah M Marzuki Pada: Minggu, 01 Apr 2018, 10:30 WIB Weekend
Karena Kertas tidak Perlu Gincu

MI/GINO F HADI

SEBUAH lampu neon kecil cukup untuk membuat lembaran kertas itu terbaca. Cahaya darinya mampu membuat isi kotak itu bisa dengan mudah disapa mata.

Selembar kertas ditempatkan dalam sebuah kotak besi dengan kaca di atasnya. Kotak persegi panjang yang diletakkan miring. Setiap lembar mempunyai kotakan tersendiri. Kertas itu begitu istimewa.

Terdapat 24 kotak panel yang ditata melingkar hingga membentuk setengah tabung. Satu kursi diletakkan tepat tengah di antara panel kotak. Memang ruang itu tidak terlalu luas, sekitar 4 meter.

Ruangan seluas pas untuk meletakkan panel yang terbuat dari besi pada dua sisi dan dua pengunjung pada saat bersamaan dalam lintasan satu garis.

Penempatan dan tata macam itu mampu menimbulkan kesan intim antara pengunjung dengan karya yang ditengok. Apalagi ditambah dengan cahaya yang cukup untuk tidak membuat mata menjadi lelah.

Penikmat karya bisa dengan mudahnya berinteraksi dengan goresan dan coretan estetis yang tertuang di atas kertas tersebut, sekaligus leluasa menyelisik ujung garis dari setiap coretan.

Penikmatnya juga bisa membaca dengan tuntas kata yang terangkai di dalamnya, menelaah pesan yang bertebaran, ataupun mengagumi tata visual yang terhampar. Lalu kertas-kertas itu akan mengajak masuk ke dunia komik.

Struktur kotak dari besi itu awalnya memang terlihat angkuh dengan kekakuan dan ketegasannya. Namun, itu hanya awal ketika melihat dari jauh, ketika semakin dekat. Kesan akan berbalik. Tidak ada jarak lagi antara penikmat karya dan kertas yang berada di dalam kotak.

Jika dilihat saksama, struktur kotak yang terbuat dari besi dan kaca tidak membuatnya terpisah. Sebaliknya, kotak itu seperti jelmaan mahkota yang melingkupi kertas.

Ketika itu, kertas menjadi raja dan itu harus dirayakan. Tak bisa dibayangkan peradaban tanpa adanya kertas.

Itulah pameran tunggal perupa Ugo Untoro yang bertajuk ...Marang Ibu di Galeri Kertas, Studio Hanafi, Depok, Jawa Barat. Pameran tersebut berlangsung pada 24 Maret hingga 22 April 2018 mendatang.

Laki-laki kelahiran 28 Juni 1970 itu menampilkan 28 karya yang dibuat pada medium kertas, serta ratusan sketsa di atas kertas daur ulang yang disebutnya sebagai Tumpukan Hari. Karya itu terkait dengan pemahamannya tentang seni yang dikumpulkan sejak 2014.

Kenapa kertas? Buat Ugo, kertas adalah medium seni yang membuatnya paling nyaman dan emosional. Kertas membuatnya merasa sangat akrab dan dekat dengan karya. Kertas membuatnya tidak takut salah dan tidak punya pretensi untuk dipamerkan. "Istilahnya menurut saya, kertas itu enggak perlu gincu," pungkasnya.

Menjaga ibu

Dalam pameran tersebut, karya utama Ugo yang ditampilkan berupa komik berjudul ... Marang Ibu. Namun, komik itu tidak seperti komik pada umumnya dalam bentuk buku. Lulusan Institut Seni Yogyakarta itu malah menampilkan lembaran gambar dan ceritanya pada kertas terpisah dalam 24 lembar.

Komik ...Marang Ibu bercerita tentang seorang perempuan bernama Sri yang hidup di abad ke-16. Meski judul komik tersebut dapat diartikan sebagai 'untuk ibu' dalam bahasa Indonesia, Ugo mengatakan karakter Sri dan keseluruhan cerita tersebut tidak hanya ditujukan untuk ibu dalam arti sempit.

"Karena seperti persembahan buat ibu. Ibu dalam arti luasnya tanah, ibu bumi, rumah juga bisa, pulang juga bisa," terang Ugo.

Ugo juga melihat saat ini peran ibu sangat kurang terhadap anak ataupun rumah tangga. Begitu pula dengan pemaknaan lain seperti tanah, rumah, bumi, bahkan alam. Jika karyanya diartikan sebagai seruan, Ugo sebenarnya sedang ingin berkata untuk kembali pada ibu dengan jalan merawat, melestarikan, menjaga, atau memperbaiki.

Ia mengaku mulai bersentuhan dengan komik sejak ketika dia masih kecil. Berangkat dari kenangan masa kecil, Ugo mengubahnya menjadi energi untuk berkarya. Kerinduan, kenangan, dan keindahan dalam masa kecil menjadi bagian utuh ketika bersentuhan dengan karya Ugo.

"Dari SD kayaknya, makanya saya sebut ibu, pulang, rumah, bumi, dan sebagainya," tegas pria kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, itu kepada Media Indonesia.

Menurutnya, komik bisa mewakili kategori pas untuk semuanya, termasuk pas secara ide, gagasan, maupun bagi penikmat. Bagi Ugo, komik ialah salah satu karya seni pertama yang dikenalnya selain boneka, wayang, ataupun film kartun. Komik bagi Ugo ialah kombinasi apik antara ilustrasi dan teks.

Menurutnya, teks ialah bentuk lain dari visual. Layaknya ilustrasi visual, teks punya estetika dan keindahan sendiri. "Semua itu menjadi ada kerja sama di situ antara teks dan visual. Jadi, saling melengkapi," ujar Ugo.

Selain komik, Ugo menampilkan karya lain seperti origami. Namun, origami yang dipamerkan hanya kertas diremas-remas hingga menjadi seperti perahu. Diakui Ugo, karya origami itu dibuatnya bersama dengan anaknya.

"Karena anak saya punya kekurangan motorik tangan, ya, dia enggak mampu. Akhirnya ya saya ambil apa yang bisa dia mampu. Dia kruwes-kruwes (remas), asal itu mungkin mirip bentuk perahu ya itu karya origami kamu. Enggak usah turuti aturan. Itu maksudnya," terang Ugo.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More