Abah Mengirimku ke Tempat Penantian

Penulis: Andre Haribawa Pada: Minggu, 01 Apr 2018, 10:15 WIB Cerpen
Abah Mengirimku ke Tempat Penantian

SEBULAN sebelum aku dibaptis, setiap sore Abah mengajariku doa syahadat. Waktu itu aku berumur enam tahun, dan masih kepayahan menghapalkannya.

Doanya seperti ini,

Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi ...yang menderita sengsara. Dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan. Yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Yang naik ke surga...

Aku hanya sanggup menghapalkan sebagian isi doa itu, itupun kalimatnya terpotong-potong. Tapi, ada satu hal yang membuatku bertanya pada Abah, yang turun ke tempat penantian .... Apa itu tempat penantian?

Tempat penantian itu, tempat bagi orang-orang kudus, tempat menunggu orang-orang yang kita sayangi, kata Abah.

Tetap saja aku tak bisa membayangkan seperti apa itu tempat penantian. Mungkin setelah aku mati, aku akan mengetahuinya.

Iya, setelah aku mati. Dan sekarang sepertinya aku benar-benar sudah mati. Lantas, apakah ini yang disebut tempat penantian seperti yang dikatakan Abah?

Lihatlah telaga itu! Itu bukan telaga biasa. Kata para penghuni tempat ini, itu sumber air bagi jiwa orang-orang mati, jiwa-jiwa yang kudus. Telaga Renung, namanya. Letaknya di tengah-tengah pasren di bawah pohon ara. Airnya teramat jernih, berkilauan bak berlian. Sampai-sampai tak hanya bercermin, tapi aku juga bisa menilik masa lalu di telaga itu.

Hari ini, dan entah sudah berapa lama aku berada di pasren. Aku dikelilingi orang-orang berbalut sandang serba putih. Orang-orang itu tampak bersinar seperti kunang-kunang di tengah taman. Aku juga seperti mereka, bersinar. Hanya saja, ada satu hal yang masih mengganjal, sehingga aku tak dapat berbaur dengan orang-orang itu. Sesuatu yang mengganjal itu adalah ... Abah.

"Gendis, sayang!" panggil seseorang bersuara lembut dari arah belakang. Suaranya membuatku terhenyak dari lamunan tentang Abah.

Aku menoleh, lalu perempuan itu berkata, "Kau tak usah risau, kau pun akan serupa mereka. Kau pasti akan mengerti ... kegelisahanmu akan segera terlepas. Lalu, kau akan seperti kapas ringan yang melayang-layang."

"Bagaimana caranya?"

Perempuan itu tersenyum, lalu duduk di atas batu di sampingku.

"Tengoklah kembali ke dalam telaga itu. Bayangkan apa yang ingin kau lihat di sana."

Satu-satunya orang yang ingin kulihat saat ini adalah Abah. Tapi bagaimana mungkin?

Perlahan aku melongok ke dalam telaga. Dan heey... aku melihat Abah di sana! Tidak hanya Abah, di sana juga ada diriku yang lain.

***

Bayangan diriku yang lain.

"Kau tahu Nak, apa yang ajaib dari layang-layang ini?" tanya Abah.

"Entahlah, itu nampak seperti layang-layang biasa."

Abah menarik tubuhku agar lebih merapat seraya berkata, "Tulislah harapanmu pada layang-layang ini, Nak!"

"Memangnya apa yang akan terjadi?"

"Kita akan menerbangkannya. Jika sampai besok pagi layang-layang ini masih berada di udara, itu artinya harapan kita akan terkabul."

Senyum di bibirku seketika merekah, namun detik berikutnya meragu. "Tapi, bagaimana kalau layang-layangnya jatuh?"

Abah tertawa lirih.

"Gendis sayang, putri Abah yang cantik ..." kata Abah. "Harapan itu akan selalu datang pada saatnya, asal kita tak pernah putus asa dan selalu berusaha. Jadi ..."

"Jadi Gendis akan menerbangkan layang-layang ini besoknya lagi. Iya kan, Abah?"

"Anak pintar."

Penuh semangat aku berlari ke dalam rumah dan mengambil spidol. Spidol itu berwarna merah menyala. Setelah kembali pada Abah, mulailah kutulis harapan-harapan di permukaan kertas layang-layang itu.

Aku tahu tulisanku jelek serupa cakar ayam, tapi aku yakin malaikat di sana akan membacanya.

"Apa yang kau tulis, Nak?"

"Abah ... Gendis tidak ingin punya benjolan di kening. Rasanya sakit. Abah juga tidak suka kan, Gendis punya benjolan ini? Dan Gendis juga memohon pada malaikat untuk mengirimkan Emak kembali. Gendis ingin sekali bertemu Emak."

Abah tak kuasa menahan rasa yang bergelut dalam dirinya. Iya, aku bisa merasakannya dari gurat wajah Abah yang terlihat murung. Bola mata Abah juga mendadak berkaca-kaca.

"Kenapa Abah menangis? Abah tak boleh bersedih."

Segera dibilasnya air mata itu dengan senyum getir.

"Abah tidak menangis. Abah sangat senang melihat putri Abah begitu bersemangat."

"Kalau begitu, Abah tak usah bersedih lagi." Kupeluk Abah erat-erat. "Ayo cepat terbangkan layang-layang ini, Abah, Gendis sudah tidak sabar menunggu hingga besok pagi!"

Setelah layang-layang itu terbang di awang-awang, Abah mengikat tali pangkalnya pada sebuah pasak. Lantas pada malam harinya aku berdoa agar layang-layang tersebut tidak jatuh. Kemudian esok pagi saat aku terbangun, aku tidak akan lagi menemukan benjolan di keningku. Dan Emak ... Emak akan segera pulang.

***

Aku menuliskan harapan-harapan itu karena aku sering diolok oleh teman-teman di sekolah.

"Gendis itu tumoran! Jangan dekat-dekat nanti ketularan!"

Ya, mereka tak salah. Aku memang tumoran. Itu sebabnya Abah selalu membiarkan poniku tidak dipotong supaya menutupi benjolan itu. Tapi sayangnya, benjolan itu selalu menyembul dari persembunyiannya. Alhasil, benjolan itu membuat anak-anak takut dan menjauhiku karena takut tertular. Padahal Bu Mumun, guru kelas kami selalu mengatakan benjolan di keningku tidak menular.

Pada hari pertama aku masuk sekolah, aku sedih. Tak satupun teman-temanku bersedia duduk sebangku. Aku dikucilkan, duduk sendirian di sudut kelas. Satu-satunya orang yang senantiasa menghiburku adalah Bu Mumun.

Sedangkan tentang Emak, aku hanya mengenal sosoknya dari cerita Abah.

Emak itu sangat cantik. Hati Emak seputih hati malaikat. Tuhan sangat sayang pada Emak, itulah sebabnya Tuhan ingin Emak tinggal di rumah-Nya, begitu kata Abah.

Malam itu ...

"Abah, Gendis sudah menuliskan harapan agar Tuhan mengijinkan Emak pulang barang sebentar. Gendis ingin sekali bertemu Emak. Gendis tidak apa-apa seandainya Emak nanti pergi lagi," ujarku polos pada Abah.

"Tenanglah, Nak. Emak pasti datang menemuimu. Sekarang Gendis harus minum obat sirop ini dulu ya, supaya keningmu tidak sakit lagi!"

Aku mengangguk, lalu meminum sirop itu dari sendok plastik di tangan Abah. Rasa sirop itu agak lain. Rasanya aneh. Pahit dan getir di mulut. Tidak seperti sirop yang selalu diberikan Abah ketika aku meriang, rasanya manis buah stroberi.

"Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah!" pinta Abah.

Aku terbatuk-batuk sembari menatap Abah. Kedua bola mataku tiba-tiba terasa tertarik ke luar. Mendelik.

"Tidurlah, Nak!" ulang Abah.

Kurasakan tangannya yang sedikit kasar mengelus rambutku.

"A-bah ... A-Abah!"

Aku berusaha mengatakan sesuatu pada Abah. Mulutku terasa panas. Napasku sesak. Tapi, kata-kata itu tak mampu kulontarkan. Tenggorokanku terasa terbakar, dan sekujur tubuhku mulai mengejang.

"Inilah yang terbaik untukmu putriku ... maafkan Abah."

Raut wajah Abah terlihat pilu. Abah menangis sesenggukan. Setetes demi setetes air mata Abah mengalir, jatuh di pipiku.

Akus tersentak bangun, mendelik ke arah Abah dan berusaha berteriak meminta pertolongan, tapi tak berdaya. Kurasakan cairan busa putih mengalir dari sudut bibirku.

Yang bisa dilakukan Abah hanya tersenyum getir. Sementara sebelah tangannya menahan tubuhku agar tetap berbaring.

Tubuhku meregang sebelum Abah membisikan kalimat terakhirnya.

"Tenanglah, Nak! Tidak apa-apa, ini hanya sebentar. Maafkan Abah ya, Nak, Abah hanya ayah pecundang yang tak mampu membahagiakanmu dan Emak. Abah begitu miskin, tak mampu membiayai persalinan Emakmu. Hingga Emakmu harus meregang nyawa di tangan dukun beranak. Abah juga tak mampu menyembuhkan tumor di keningmu. Abah terpaksa melakukan ini. Semoga Gendis cepat bertemu Emak di sana!"

***

Diriku yang kini telah mati.

Dari telaga aku melihat Abah berlutut, terisak di tepian amben di mana tubuh itu sudah tebujur kaku. Sekarang aku mengerti, dan aku tidak marah ataupun benci pada Abah. Apa yang telah dilakukan Abah adalah bukti rasa sayangnya padaku.

Kuraba benjolan di keningku.

Heey, sudah rata! Benjolan itu hilang. Abah memang tidak berbohong tentang layang-layang itu.

Dan perempuan berparas ayu yang berada di sampingku saat ini tak lain adalah ...

"Betul Nak, ini Emak! Kemarilah, Nak! Emak ingin sekali memelukmu erat-erat."

Tanpa ragu kusambut dekapan tangan Emak. Aku tenggelam dalam pelukan hangat seorang Emak yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

"Maak ..." Aku mendongak, "lalu bagaimana dengan Abah, Mak?"

"Jangan khawatir sayang, Abah pasti akan bersama kita di sini. Hanya saja perjalanan Abah sangat panjang, sebelum sampai ke tempat ini. Sesungguhnya Abah itu orang yang baik. Hanya saja saat ini Abah sedang tersesat, Abah menemui jalan buntu. Gendis yakin kan, Abah pasti akan menemukan kita?"

Aku mengangguk. Seperti yang dikatakan Emak sebelum beliau melihat ke dalam Telaga Renung, kini jiwaku terasa lebih damai, semua kekhawatiran telah lenyap. Tubuhku kini seringan kapas.

Yah, aku telah tinggal bersama Emak, sedangkan Abah... Abah akan tiba di tempat ini meski dalam waktu yang panjang. Tapi aku tak perlu risau, karena waktu panjang bagi semua penghuni di pasren ini, terasa lebih cepat. Seperti halnya menanti terbitnya matahari dari ufuk timur.

Bersama Emak, aku meninggalkan Telaga Renung lalu berbaur bersama orang-orang kudus itu.

***

Cilacap, 30 Februari 2017

Sejumlah buku karya Andre Haribawa telah diterbitkan. Seperti kumpulan cerpen Valentine Phobia (2016), Novel Long Distance Bride (2014), Terpikat sang Editor (2017), dan Until I Say Goodbye (2017).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More