Memasuki Era Keemasan

Penulis: FD/M-3 Pada: Minggu, 01 Apr 2018, 09:00 WIB Humaniora
Memasuki Era Keemasan

ANTARA/M RISYAL HIDAYAT

FILM Indonesia dianggap kembali menggeliat dan bangkit hingga mendapatkan apresiasi dunia, baik aktor maupun film itu sendiri. Pengamat film Indonesia, Yan Wijaya, mengatakan perfilman Indonesia tengah memasuki zaman keemasan. Pasalnya, film Indonesia terus meningkat drastis secara kualitas dan kuantitas sejak tahun 2016.

"Banyak orang memang bertanya berapa produksi film setahun, tidak ada yang bisa menjawab. Karena film ada yang diproduksi secara diam-diam, tetapi jika berapa film yang beredar setahun tentu bisa diketahui. Pastinya terus meningkat secara kuantitas dan kualitas," katanya.

Dari kuantitas ada sekitar 104 film dalam setahun, bila dihitung dari tayang perdana setiap Kamis. Namun, biasanya panen sebanyak dua kali saat Lebaran dan jelang akhir tahun.

"Masa Lebaran itu ada 4 dan 5 judul film Indonesia yang akan tayang, kemudian Desember jelang Natal hingga akhir tahun. Itu akan ada film-film Indonesia jagoan yang main di masa panen," lanjutnya.

Secara kuantitas dapat dipastikan terus menanjak. Bahkan dalam tahap kategori baik sekali sehingga laku di luar negeri. "Contoh jelasnya pengabdi setan, tidak hanya dibeli oleh Malaysia juga telah tayang di Taiwan, Hong Kong, dan Korea. Jadi, film Indonesia sudah mulai dihargai di luar negeri dan laku," paparnya.

Loncatan film Indonesia tidak lepas dari film The Raid. Meski film garapan Gareth Evans ini bukan resmi film Indonesia, tapi unsur pencak silat dan aktor Indonesia yang terlibat membuat Indonesia dilirik dunia.

Senada dengan Yon, pengamat film sekaligus sastrawan Indonesia, Richard Oh, melihat film Indonesia menarik perhatian publik. Bahkan mencapai 7 juta penonton. "Itu loncatan yang sangat hebat dan menjadi berita baik untuk industri perfilman kita. Jika berbicara kualitas, kita juga bisa lihat yang paling disenangi orang tidak tentu juga secara film dan lainnya dianggap kualitas yang bisa bersaing dengan negara-negara maju," katanya.

Peningkatan kualitas itu dinilainya dari improvisasi dan peningkatan standar film. Pengembangan yang dilakukan juga tidak seutuhnya mengacu pada standardisasi yang universal.

"Jadi, ada unsur dari kebudayaan atau sosial memang perlu, tetapi tetap berangkat dan mencapai satu posisi yang lebih universal. Jika berbicara cinta, harus bawa posisi universal, di mana pun ada manusia bisa mengerti bahwa pagu-pagu cinta tertentu yang sedang dilanggar, dilecehkan, atau dipermaiankan," jelasnya.

Aktor

Yan tak menampik ada sejumlah aktor yang mampu konsisten, berkarakter, dan disukai pecinta film sehingga sering terlihat di layar lebar.

"Kenapa Reza menjadi perhatian dan seakan dia lagi, apakah dia banyak bermain film? Tidak. Dia hanya punya tiga film tahun lalu dan hanya satu film peran utama. Jika banyak, dia kalah dengan Jefri Nichol yang main enam film. Namun, dia hebat. Dia sangat dikenal dan populer sehingga orang mengingat dia," lanjutnya.

Padahal, ada sejumlah aktor muda yang bagus, tetapi belum terkenal. Bukan berarti mereka tidak bagus. Contohnya Dilan 1990 yang diperankan pendatang baru, tetapi sukses.

"Iqbal Ramadan baru, Vanesha Prescila juga lebih dikenal sebagai adik Sissy Priscillia. Namun, mereka main bagus di film Dilan, langsung namanya melonjak dan jadi ngetop," sebutnya.

Selera

Sejumlah film yang sukses yang diadapatasi dari novel dan remake. Seperti Badai Pasti Berlalu dari novel dan film Si Mamat juga dari adaptasi cerpen. "Novel dan komik itu telah menjadi sumber cerita film sejak dahulu," tegasnya.

Di samping itu, Yan juga melihat film yang menang festival belum tentu sukses di bioskop. "Seperti film yang menang di FFI 2017, Night Bus. Namun, film itu terlalu tinggi dijangkau penonton masa kini sehingga kurang laku di bioskop. Bahkan film yang menggemparkan di dunia, Marlina dan menang di mana-mana, kurang laku di bioskop," katanya.

Semua itu tak dinyana, 90% penonton film Indonesia ialah remaja. Kata Yan, mungkin mereka akan menonton film Dilan berkali-kali daripada nonton film serius seperti Night Bus dan Marlina.

Ia menjelaskan, meski kesuksesan film diukur dari membludaknya penonton sebagai bahan dagangan, soal mutu berbeda dengan laris, seperti film Jangkring Boss bahkan penonton mencapai 7 juta dan tidak mendapatkan piala apa pun.

Secara terpisah Richard mengingatkan perbedaan tingkat membaca film penonton Indonesia berbeda dengan masyarakat luar meski secara teknik capainya baik dan meningkat.

"Materi lebih bagus. Penonton tidak melihat film secara keseluruhan. Kita mengatakan bagus sekali jika membandingkan detail-detail dengan keseluruhan yang tersampaikan. Penonton terbawa sama scene jika scene tertentu sudah lucu membawa mereka tergelitik, dia merasa sudah cukup," paparnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More