Lika-liku Perfilman Nasional

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Minggu, 01 Apr 2018, 08:45 WIB Jeda
Lika-liku Perfilman Nasional

DOK MARLINA

SUASANA bioskop di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, siang itu penuh sekali. Dari enam studio yang tersedia, tiga di antaranya menayangkan satu film, Pengabdi Setan. Tidak hanya di luar studio, di dalam pun setiap kursi terisi. Tak terkecuali yang berada di baris paling depan pun penuh.

Tidak hanya saat film Pengabdian Setan. Ketika penayangan perdana film Dilan 1990, studio penuh hingga baris terdepan. Berbedanya bila film Pengabdian Setan kebanyakan orang dewasa, film Dilan 1990 lebih banyak remaja dan ibu-ibu. "Filmnya lucu, mengingaatkan guw akan masa sekolah," ujar ....

Antusiasme menyaksikan film Indonesia itu bukan tanpa sebab. Pasalnya kualitas film lokal mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 56 Marcella Zalianty, kesuksesan film-film dua tahun terakhir karena banyak faktor. Tidak sebatas kontribusi aktor dan aktris, melainkan jalan cerita yang menarik.

"Dilihat film-film baru yang menembus angka penonton di atas 2 juta dengan aktor-aktor baru dan (pemainnya) bukan yang itu-itu saja. Memerlukan riset dan waktu pengerjaan yang cukup dalam produksinya. Akting pun perlu ada standar keilmuan yang menurut saya hingga saat ini belum ada namun dapat diasah dengan pelatihan akting yang cukup, tentunya keseriusan dan dedikasi para aktornya dalam mempersiapkan diri mendalami karakternya karena akting selain membutuhkan kejujuran juga memerlukan latihan dan observasi," ujar Marcella kepada Media Indonesia dalam surat elektroniknya.

Perkembangan film saat ini yang pesat itu diakui Rafael Landry Tanubrata. "Penonton Indonesia juga sudah bisa mengapresiasi karya-karya anak bangsa. Sekarang juga banyak bermunculan sines muda yang memang berkarya tidak asal-asalan. Mereka punya kualitas dari setiap genre bahkan ada penontonya yang tembus berapa juta," kata pemain film bluebell yang tayang 5 April 2018 mendatang.

SDM

Produser film Mira Lesmana melihat peningkatan angka penonton film Indonesia membuat banyak orang tergiur membuat film, peluang investor film meningkat. Sayangnya, meningkatnya produksi film tidak berimbang dengan jumlah sumber daya manusia di bidang perfilman. Tidak semata pemain filmnya, tapi juga kru teknis pendukung.

"Ada sesuatu yang harus kita waspadai dengan banyaknya produksi maka ada kekeruangan SDM, menurut saya, terutama aktor, jadi ini bukan masalah pemainnya itu-itu saja. Memang regenerasinya boleh dibilang tidak ada sehingga kalau mau buat film dengan orang-orang baru tentunya membutuhkan waktu ekstra kalau mereka tidak memiliki pendidikan akting misalnya karena butuh disiplin ilmu untuk menjadi pemeran yang bagus dan itu kita kekurangan, begitu juga kekurangan di SDM bagian teknis untuk krunya," jelas Mira saat dihubungi Media Indonesia (29/3).

Keterbatasan itu yang kerap membuat aktor/aktris papan atas yang berkualitas kewalahan mengatur jadwal. Pasalnya, para produser yang ingin filmnya diminati masyarakat memilih pemain yang sudah memiliki nama dan dikenal masyarakat.

"Perkembangan film harus diimbangi dengan investasi manusianya, sekolah film harus bertambah, workshop-workshop, maupun peningkatan loka karya untuk kru. Yang utama ialah sekolah akting yang dibutuhkan. Kalau tidak, pemainnya itu-itu saja dan akhirnya berebut karena kekurangan SDM. Kalau ada sekolah akting di mana-mana, kita tinggal datang ke sekolah tersebut dan melihat siapa saja yang bisa diorbitkan dalam film," imbuh Mira.

Mira juga mengingatkan perlunya film untuk anak-anak. Dengan cara itu akan muncul pemain baru sebagai bentuk regenerasi penonton.

Di samping semua itu, Marcella mengingatkan pentingnya ide-ide cerita yang mudah dicerna dan menarik berbagai genre baru yang didukung dengan produksi yang berkualitas yang ditangani oleh sutradara profesional. Namun, Rafael tidak bisa mungkiri jika ada genre yang meledak, akan bermunculan film-film dengan tema yang sama.

"Tidak cuma sineas bikin film, tetapi dari musisi. Jika ngeramake, tujuannya untuk memanjakan telinga orang yang hidup pada jaman itu. Jadi, dikemas dengan lebih modern sehingga bisa diterima juga sama anak-anak zaman sekarang," lanjutnya.

Skenario

Kesuksesan film juga tidak lepas dari naskah atau skenario. Sutradara, penulis naskah, dan produser film Mohammad Rivai Riza atau yang lebih dikenal dengan Riri Riza mengungkapkan sebuah film yang berkualitas memerlukan seorang produser film yang mampu membaca dan menganalisis skenario film. Ada sejumlah pelatihan penulisan skenario yang bisa diikuti produser film.

"Saya pikir sekarang penyutradaraan film Indonesia itu sudah punya pemahaman teknis yang jauh lebih maju jika dibanding dengan para pendahulunya. Tentu saja wawasan, kedalaman dalam melihat lingkungan dan kebudayaannya sendiri masih menjadi tantangan karena masih ada film Indonesia yang secara teknis bercerita bagus sekali dan cukup memikat, tetapi kadang-kadang masih ada kegagapan untuk kita mencoba bercerita tentang lingkungan dan kebudayaan kita sendiri. Saya rasa masih banyak ruang untuk diperbaiki, tetapi banyak sekali sutradara muda yang punya keterampilan teknis dan keterampilan bercerita yang baik. Dengan melihat generasi baru yang muncul sangat menarik, menyegarkan, dan menjanjikan di masa depan, tinggal menambahkan wawasan teori, budaya dan lingkungan saja yang bisa memperkuat lagi penyutradaraan film di Indonesia," jelas Riri.

Kompetisi

Riri juga mengingatkan tantangan utama perfilman Indonesia ialah sifat penonton yang sangat terbuka. Alternatif menonton pun banyak, lewat kanal digital, internet, video on demand.

"Kalau dulu film impor jumlahnya masih terbatas dan terjangkau hanya di kota-kota besar, sekarang film yang bagus film-film franchise dari studio-studio besar Hollywood seperti Avengers, Spiderman, Superman, Star Wars itu semua bisa dijangkau penonton film Indonesia di mana pun," tambah Riri. Karena itu, pembuat film harus mampu berkompetisi, tidak hanya dengan film lokal, tetapi juga dari berbagai belahan dunia.

Kendala lain yang dihadapi ialah ekosistem perfilman Indonesia yang belum baik. Dari perizinan hingga belum ada alternatif bioskop di daerah-daerah tingkat dua. Masalah lain ialah pendanaan. Tidak ada subsidi pemeirntah, kesulitan pinjaman bank, dan sponsorsip yang belum memadai turut berkontribusi.

Kurangnya bioskop alternatif itu pun diamini aktor senior Donny Damara.

"Banyak masyarakat yang tinggal di luar perkotaan ingin menonton dengan harga yang tidak semahal di bioskop pada umumnya, justru itu kue (pasar) yang paling besar dari seluruh penonton Indonesia. Untuk sebagian masyarakat Indonesia mungkin agak berat untuk mengeluarkan uang Rp35 ribu, Rp50 ribu, atau Rp75 ribu, jadi harus ada bioskop second round yang memutarkan film-film Indonesia dan harus cari investor. Saya yakin laku bioskop-bioskop second round ini, dulu sebelum ada monopoli, seperti ini di zaman saya," ungkap Donny.

Tidak sebatas penambahan layar, Mira juga mengingatkan perlunya ruang untuk film-film berkualitas, tetapi antimainstream dan nonkomersial. "Film-film seni, yang mengangkat kultur, film-film pendek dan itu membutuhkan bioskop khusus karena tidak familier untuk masyarakat luas karena mereka butuh ruangnya sendiri dan lebih spesifik penontonnya, itu yang seharusnya dikembangkan pemerintah karena itu meningkatkan, men-support budaya dan kesenian serta bakat-bakat yang mungkin tidak dijalur komersial dan itu penting untuk industri," kata Mira.

Sensor

Suksesi film juga tidak lepas dari sensor, sebelum tayang di bioskop. Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ahmad Yani Basuki sebagai perwakilan pemerintah di bidang film menjelaskan kendala yang dihadapi di bidang penyensoran film ialah perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) melahirkan era konvergensi media. Di mana seseorang dapat dengan mudah dan murah membuat sebuah tayangan yang berkaitan dengan sinematografi lalu diunggah ke media sosial maupun platform video seperti Youtube. Selain itu, adanya layanan TV berbayar dan platform digital yang semuanya ada di luar negeri. Namun, filmnya masuk dan dapat dinikmati di Indonesia juga menjadi tantangan sendiri bagi LSF karena tidak ada UU yang mengaturnya.

"LSF tidak cukup memenuhi tugasnya melindungi masyarakat dari efek negatif film hanya menyensor di balik meja, tapi kami harus turun ke publik, menginformasikan, meliterasikan film bahwa ada film-film yang beredar di gadget kita yang tidak melalui proses sensor dan tidak mencantumkan kriteria usia, dan kontennya ada yang tidak layak ditonton, itu masyarakat harus paham," jelas Yani.

Menurut Yani, masyarakat cenderung kurang peduli pada peredaran konten-konten video/film di gadget mereka. Padahal, jika disalahgunakan, dampak negatifnya luar biasa apalagi jika dinikmati anak-anak yang masih memiliki naluri meniru yang tinggi.

"Oleh karena itu, LSF selain melakukan penyensoran dengan kriteria yang ada (sesuai dengan UU dan peraturan yang berlaku), LSF saat ini sedang menggalakkan sosialisasi sensor mandiri," ujarnya.

Sosialisasi sensor mandiri ialah kesadaran masyarakat dengan cermat untuk memilah dan memilih tontonan khususnya film yang tepat sesuai peruntukan dan klasifikasi usianya.

Ada paradigma baru yang diterapkan LSF, yakni seminimal mungkin menolak film. Sebaliknya, LSF membuka dialog dengan pemilik film.

"Paradigma yang kita bangun tersebut hasilnya terasa produktif sehingga film yang benar-benar ditolak itu sangat sedikit, tapi film yang didialogkan itu yang tadinya tidak lolos bisa menjadi lolos. Kalau untuk film-film luar negeri, dialognya terbatas. Kalau dirasa tidak pas, filmnya kita tolak. Mereka tidak semuanya mau di potong-potong jadi lebih baik menurut mereka tidak usah tayang (di Indonesia) dan mereka juga memahami bahwa setiap negara punya batasan-batasan yang berbeda. Kalau direvisi dan menjadi hilang ceritanya, lebih baik tidak usah tayang" katanya.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More