Basket, Adrenalin dan Displin

Penulis: Hilda Julaika Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran Pada: Minggu, 01 Apr 2018, 04:00 WIB MI Muda
Basket, Adrenalin dan Displin

Basket bagi Arrigo Fernanda bukan sekadar aktivitas pengisi waktu atau olahraga sambil bersenang-senang dengan kawan. Basket mengharus­kannya latihan rutin di antara kegiatan sekolah, serta menjaga kesehatan agar bisa tampil prima dalam pertandingan.

Bertanding di lapangan dan bertemu sesama pemain dan pelatih, juga mengajarkannya tentang kerja keras dan keseriusan agar bisa mencapai target. Yuk ngobrol dengan Arrigo!  

Ceritakan dong perkenalan kamu dengan basket?
Aku mulai bermain basket dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahku. sedangkan mulai bertanding di Tim Jetz, saat itu kelas 4-5-an. Bertanding di Kejurnas pertama, level U-14 di Bali.

Awalnya sih cuma main sama teman-teman yang juga suka basket, pelatih kami kemudian berkordinasi dengan orangtua kami, sehingga bisa berlatih di luar sekolah.

Dari situ, setiap Rabu dan Sabtu latihan dan mengikuti ajang-ajang pertandingan, seperti Kejuaran Nasional (Kejurnas) mewakili Provinsi Banten. Habis itu, baru mulai membiasakan menonton pertandingan internasional seperti NBA, lalu ikut camp di Amerika Serikat.
 
Kamu sekeluarga memang hobi basket ya?
Kakakku pemain basket tim nasional, bahkan adik kami yang perempuan pun sama-sama suka basket. Sejak dua tahun lalu, orangtua memang mendukung, misalnya mengikutkan aku ikut camp internasional di Amerika Serikat.

Selain itu, dua tahun lalu orangtua juga membuatkan lapangan basket dekat rumah, jadi bisa berlatih dan belajar lebih mudah.

Tantangan terberat sebagai pemain basket?
Setiap kali seleksi, rasanya tegang banget, misalnya seleksi program Junior NBA, ada ribuan anak se-Indonesia yang ikut.

Begitu pun dengan seleksi mewakili Indonesia sebagai anggota tim nasional (timnas) yang mewakili di turnamen Southeast Asia Basketball Association (SEABA) 2017 U16 dan kejuaraan FIBA 3 lawan 3.

Timnas kan bukan mewakili klub atau daerah saja, melainkan negara. Jadi, merasa harus bekerja keras dan berlatih dengan lebih serius, jangan sampai memberikan citra buruk bagi negara.

Sekarang aku latihan di klub, dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu, tapi aku juga sering main basket di sekolah kalau lagi istirahat. Di sekolahku, kan banyak teman-teman yang aktif di kompetisi bola basket DKI Jakarta dan Banten, jadi mainnya kompetitif gitu.

Ceritakan tentang program Junior NBA yang kamu ikuti dong!
Program ini sudah dilaksanakan selama lebih dari empat tahun di Indonesia, sasa­r­an­nya ribuan anak muda yang suka basket yang juga memerlukan dukungan orangtua serta pelatih.

Rangkaian programnya, coaching clinic, open clinic, selection camp serta puncaknya National Training Camp (NTC). Pesertanya, Junior NBA Indonesia All-Stars. Saya ikut seleksinya pada 2015.

Proses seleksinya, tes fundamental basket pada hari pertama. Lalu, top 100 pemain terpilih dan keesokan harinya terjaring 64 pemain yang kemudian diikutkan NTC.

Seleksi ini memang sangat melelahkan karena seharian kita bermain basket. Akan tetapi, bermain bersama teman-teman dan keha­diran pemain profesional Amerika Serikat, Marreese Speights, membuat latihan sangat seru.

Kompetisi apa saja yang paling seru?
Kalau kejurnas, aku sudah mulai saat masih 11 tahun, di Bali. Habis itu, setiap tahun, pasti ikut kejurnas.

Lalu aku dipanggil masuk timnas pertama pada 2015 dan ikut kompetisi FIBA 3 lawan 3 di Roma, Italia, dan beberapa bulan lalu, ikut kompetisi di Filipina yaitu, SEABA (South East Asia Basketball Association).

Tapi, yang paling berkesan di Junior NBA Indonesia 2015, karena bukan hanya mewakili negara, tapi diberi kesempatan ikut NBA Experience dan bertanding ke Tiongkok dan dilatih Dikembe Mutombo, pemain basket legendaris NBA.

Di kegiatan ini, aku bertemu dengan teman-teman dari Filipina, Thailand dan negara-negara lain sehingga banyak talenta yang aku lihat. Melalui pengalaman itu, mata­ku jadi terbuka, kita harus bekerja keras untuk bisa berkompetisi dengan mereka yang latihannya lebih keras. Pelatih mereka pun lebih disiplin serta memiliki banyak pengalaman di NBA. Jadi bisa langsung menerapkan ke murid-muridnya.

Siapa pemain basket idolamu?
Aku suka Stephen Curry, dia memiliki kepercayaan terhadap Tuhan yang tinggi dan pekerja keras sehingga bisa sukses. Tinggi badan dia sekitar 191 cm dan giat berlatih. Aku sendiri 175 cm, jadi harus lebih giat berlatih bila dibandingkan teman-teman yang lain. Itu enggak masalah, seru kok.

Arti basket buat kamu?
Hobi sekaligus passion yang be­ner-bener aku suka. Tiap tahun aku selalu ingin berkompetisi dengan pemain-pemain dari daerah lain. Kalau untuk karier, memang bukan menjadi tujuan utama.

Tapi, aku menemukan banyak benefit, misalnya semangat berkompetisi sehingga bisa mempengaruhi hal lainnya.

Banyak sekali hal yang bisa dipelajari di lapangan dan nantinya bisa digunakan saat terjun ke dunia kerja, di antaranya kerja keras dan rendah hati untuk bisa berkompetisi.
 
Bagaimana kamu merancang masa depan?
Sebenarnya belum spesifik, cuma yang pasti, meneruskan dan mengembangkan bisnis orangtua. Jadi, setelah lulus kuliah dari luar negeri, kembali ke Indonesia dan bisa berbisnis.

Ada juga agenda, jika sudah sukses di bisnis bisa ikut memberikan kontribusi pada basket melalui semacam sistem pengembangan basket di Indonesia. (M-1)

muda@indonesia.com 

Arrigo Fernanda
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 27 Februari 2001
Prestasi :
 Mewakili Indonesia dalam Tim U16 di turnamen Southeast Asia Basketball Association (SEABA) 2017
 Mewakili Indonesia dalam kejuaraan FIBA 3 lawan 3

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More