Brigade Evakuasi Popok

Penulis: Sumaryanto Bronto Pada: Sabtu, 31 Mar 2018, 23:30 WIB Foto
Brigade Evakuasi Popok

MI/SUMARYANTO

DI bawah terik matahari, sejumlah aktivis mengenakan baju hazmat putih, bermasker, sarung tangan, dan sepatu bot. Mereka mendorong tempat sampah berwarna hijau di tengah Kota Surabaya, Jawa Timur.

Tempat sampah atau drop box itu tidak kosong, semuanya berisi dengan sampah popok bayi sekali pakai yang mereka ambil dari ­Sungai Brantas.

Mereka ialah Brigade Evakuasi Popok (BEP) yang dibentuk Prigi. Pendiri LSM Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) itu melihat kondisi Sungai Brantas yang tercemar dengan popok bekas.

Dalam kajian Ecoton, setidaknya ada 3 juta popok bekas setiap hari. Apalagi, popok dengan feses bisa mengandung bakteri Ecoli yang mengendap di dasar sungai yang digunakan 6 juta warga. Menurut Prigi, salah satu pemicu perilaku itu ialah kepercayaan membakar popok bekas akan berakibat merahnya kulit di pangkal paha dan pantat bayi seperti luka terbakar, atau populer disebut suleten.

“Limbah popok yang 50% bahannya terbuat dari plastik baru akan terurai 300 tahun. Akibat pencemaran limbah popok ini, ekosistem sungai menjadi terganggu seperti keberadaan ikan yang mulai langka. Sungai ini sungai nasional, 45% penduduk Jawa Timur tinggal di daerah aliran Sungai Brantas. Kami ingin Brantas juga jadi prioritas, enggak hanya Citarum,” ujar Prigi.

Sejak Juli 2017, BEP mulai memungut sampah popok. Dari tujuh kota yang diselusuri BEP, popok bayi mencapai 37% dari keseluruhan sampah yang mencemari sungai. Temuan itu sudah ­dilaporkan kepada dinas lingkungan hidup di setiap daerah yang disinggahi.

Sampah popok itu dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, Prigi berharap pemerintah memberi solusi konkret, misalnya menyediakan drop box khusus sampai ke pelosok-pelosok daerah, terlebih kini pemakaian popok kian lazim, dipicu murahnya harga. Di samping itu, dia memandang sanitary landfill di ­TPA-TPA di Jawa Timur untuk penge­lolaan sampah popok bayi wajib di­bangun. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More