Nikmatnya Sakuda dan Baronang Rica-Rica

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 31 Mar 2018, 23:00 WIB Kuliner
Nikmatnya Sakuda dan Baronang Rica-Rica

PULAU Kei, Maluku Tenggara, memiliki keindahan alam yang tiada tara. Tidak hanya kekayaan alam yang dimilikinya. Pulau ini menyimpan kuliner yang sangat menggugah selera.

Bila di sana, sempatkan mencicipi rica-rica ikan sakuda (kakap) dan ikan baronang (samandar). Dua ikan ini menjadi menu makan malam wajib bagi anda yang memilih berlibur di kawasan Kepulauan Evav tersebut.

Dengan hamparan lautan yang luas, tidak sulit rasanya para nelayan menemukan ikan sakuda dan baronang. Apalagi kedua jenis ikan ini menjadi primadona masyarakat setempat untuk disantap.
Biasanya kedua ikan itu dimasak dengan campuran cabai keriting, bawang putih, bawang merah, dan kemiri, lantas dibakar. Kenikmatan lainnya, kedua ikan ini memiliki daging yang tebal dengan rasa gurih alami.

“Kami sebut ini masakan ikan rica-rica. Kami mengunakan sakuda dan baronang. Ada juga ikan komo, tapi tidak terlalu enak,” kata Petronika Meyske Toliaso, pemilik restoran di Jalan Kolseee Loon, Langgur, Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara, perte­ngahan Maret.

Aroma ikan bakar dengan bumbu rica-rica langsung menyeruak saat tiba di meja. Aroma pedas dari rica-rica sangat kuat. Daging ikan yang tebal, lembut, dan lentur sangat mudah diambil.

Lezatnya ikan sakuda dan baronang rica-rica berhasil membangkitkan selera makan. Apalagi ikan-ikan tersebut langsung dipasok dari nelayan setempat yang dijamin kesegarannya.

Tunggu dulu, rasa rica-rica ikan sakuda dan baronang makin sedap dicocol dengan sambal terasi Kepulauan Aru. Duh, pedas dan lezatnya bikin kita gigit bibir untuk terus mencobanya.

Untuk melengkapi menu makan malam, disediakan juga sayur bunga pepaya dan sayuran kangkung untuk Anda yang tidak suka akan pahitnya bunga pepaya. Nah, satu porsi ikan sakuda dan baronang dibanderol mulai Rp50 ribu hingga Rp200 ribu, sedangkan seporsi sayur daun pepaya dan kangkung seharga Rp15 ribu.

Ikan kuah kuning
Selain rica-rica, bagi masyarakat Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, ikan kakap merah dengan kuah kuning menjadi hidangan istimewa di pagi hari.  Biasanya, ikan kuah kuning dimasak dengan campuran beberapa bumbu dapur. Di antaranya, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, ketumbar, merica, kunyit, dan beberapa rempah lainnya.

Ikan segar itu ditangkap di Pantai Derlair dan biasanya langsung dimasak penduduk lokal. Menariknya, masyarakat Maluku Tenggara tidak memakan nasi dengan campuran kuah kuning.

Sebaliknya, mereka menikmati dengan dengan cocolan ikan kuah kuning.

Tidak hanya di Maluku Tenggara, kebiasaan menyantap ikan kuah kuning sebagai sarapan juga dilakukan masyarakat Flores, khususnya Labuan Bajo. Sebagai daerah kepulauan, Labuan Bajo kaya akan hasil laut, terutama ikan dan rumput laut.

Meski berbeda, masyarakat Flores menyebutnya ikan kuah asam. Ikan kuah asam umumnya terbuat dari ikan kerapu. Keduanya terlihat kuning berminyak, tetapi kuah asam di Flores tampak lebih bening. Rasa asamnya pun lebih mendominasi dan rempah-rempah hanya penguat rasa.

Selain di kepulauan Kei dan Flores, kawasan Sumbawa Barat juga memiliki menu sarapan pagi ikan kuah kuning. Mereka mengunakan ikan kenawa. Oleh karena itu, kuah ikan kuning di Sumbawa Barat lebih pekat daripada ikan dengan olahan yang sama di Maluku Tenggara dan Flores.

Nah, meski penyebutkan nama ikan kuah kuning. Ketiga kawasan timur Indonesia tersebut memiliki ciri khas tersendiri dalam memanfaatkan hasil tangkapan ikannya. Bagaimana, Anda tertarik menikmati ikan-ikan segar di wilayah kepulauan itu? (M-3)

ferdian@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More