Pengembangan Kawasan Baru Perlu Dipercepat

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Selasa, 27 Mar 2018, 06:15 WIB Properti
Pengembangan Kawasan Baru Perlu Dipercepat

ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

DAYA dukung kawasan perkotaan dan perindustrian yang sudah ada saat ini diduga semakin menurun. Harga tanah yang terus melambung dan semakin jenuhnya kawasan tersebut membuat investor (pemilik modal) pun semakin sulit mengembangkan bisnis di kawasan tersebut.

Karena itu, Direktur Riset dan Konsultasi Savills Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan penting bagi pemerintah dan developer untuk bisa mengembangkan kawasan baru yang bisa menjadi sasaran investasi baru bagi para pemilik modal. Namun, ia mengakui memang tidak semua pengembang bisa mengupayakannya. "Kalau dari sisi pengembang memang hanya yang punya dana dan nama besar saja bisa melakukannya, terbaru mungkin Meikarta yang dikembangkan Lippo. Dari sisi pemerintah, sebaiknya bisa dikembangkan dengan cepat bekerja sama dengan pengembang swasta maupun BUMN bidang konstruksi," kata Anton kepada Media Indonesia, kemarin.

Pola pengembangan kawasan baru dengan pengembang diakui Pelaksana Tugas Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Lama Winayanti, telah dilakukan. Salah satunya ada di daerah Maja, Banten.

Selain dengan pengembang, BPIW melakukan sejumlah kerja sama dengan masyarakat adat di kawasan pengembangan kota mandiri baru yang memiliki tanah adat. Berdasarkan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, pemerintah menargetkan bisa membangun 10 kota mandiri baru. "Tentunya membangun kota mandiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi kita susun sejumlah prioritas dalam membangun kota mandiri tersebut berdasarkan sejumlah kriteria. Saat ini sudah mulai berjalan pola kerja sama yang kita lakukan, misalnya, di Maja dengan Citra Maja Raya," ujar Lana kepada Media Indonesia.

Tarik investor

Urusan pengembangan kota atau kawasan baru saat ini memang bukan hanya dilakukan pemerintah. Lippo Group yang mengembangkan Meikarta di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terus gencar membangun kawasan dengan luas sekitar 500 hektare tersebut. Sejumlah investor pun mulai bergabung dalam pembangunan Meikarta.

Pekan lalu CEO of Lippo Group, James T Riyadi, menyaksikan sejumlah penandatangan kerja sama yang dilakukan Meikarta dengan sejumlah institusi global. Dimulai kerja sama dengan sembilan perusahaan global di bidang logistik dan teknologi finansial senilai US$300 juta dan kerja sama dengan 10 institusi pendidikan global senilai US$550 juta. "Ini merupakan komitmen kami untuk bukan hanya membangun hunian di Meikarta, melainkan juga membangun kawasan yang saat ini berada di area yang terus berkembang di koridor Jakarta-Bandung. Kami juga ingin memberikan fasilitas terbaik dan membangun manusia di Meikarta," kata James kepada pers, Selasa (20/3).

Saat ini, lanjut James, pembangunan Meikarta masih berkutat pada penyelesaian infrastruktur beserta penyelesaian fondasi bagi 200 bangunan hunian vertikal yang ada di Meikarta. Untuk pembangunan infrastruktur, James menyebutkan telah rampung 60%-70%.

"Untuk penjualan unit hunian sendiri, kami menargetkan bisa mencapai 80 ribu pada tahun ini. Tahun lalu, penjualan mencapai 140 ribu unit, tapi ternyata karena proses administrasi yang cukup rumit, seperti pengurusan KPA dan lain-lain, yang terealisasi hanya 60 ribu unit," tandas James.

(S-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More