Agar Jakarta tak Senasib dengan Cape Town

Penulis: Wan/M-1 Pada: Minggu, 25 Mar 2018, 09:20 WIB Humaniora
Agar Jakarta tak Senasib dengan Cape Town

ZERO day, hari tanpa air itu diperkirakan akan terjadi di Cape Town, Afrika Selatan, pada 9 Juli mendatang. Mimpi buruk itu bahkan kini sudah dialami setiap warga dengan pembatasan pemberian air 50 liter, sekitar 13 galon per hari untuk seluruh kebutuhan. Bahkan, sumber air kini dijaga tentara.

Kerisauan itu juga diramalkan akan terjadi di Sao Paulo Brazil, Beijing, Kaoro, termasuk Jakarta!

Data neraca air DKI Jakarta pada 2030 menunjukkan angka, potensi ketersediaan air permukaan statis mencapai 33.479.000 meter kubik, air permukaan dinamis 389 ribu meter kubik, air hujan andalan 891 ribu meter kubik, air tanah dangkal 36 ribu meter kubik, air tanah 75 ribu meter kubik, dan air hasil pengolahan air bekas 914 meter kubik, sehingga total perkiraan persediaan air mencapai 2,3 juta meter kubik. Dengan perkiraan kebutuhan air 1.2 juta meter kubik.

"Air hujan dan sungai belum bisa dimanfaatkan maksimal, karena hanya air tanah yang digunakan sebesar-besarnya, karena hanya separuh dari 10 juta warganya memiliki akses ke jaringan air bersih."Akibatnya, air tanah Jakarta terus berkurang dan 40% daratan Jakarta sekarang berada di bawah permukaan laut," ujar Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rachmat Fajar Lubis.

Situ yang menghilang

Kerisauan soal zero day pun berasal dari menghilangnya situ atau danau alami maupun buatan yang selama ini menampung air.

Berdasarkan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang, sebanyak 56 situ  lenyap, bahkan hilang 27 pada 2017, dan kini tersisa 38. Situ-situ itu beralih fungsi menjadi menjadi pertanian atau permukiman padat penduduk.

Padahal, situ punya banyak peran, menampung air dan penanggulangan banjir, wisata, sosial ekonomi, budaya hingga estetika.

Yang tersisa pun sebanyak 12% tercemar ringan, 50% sedang, dan 38% tercemar berat. Pemicunya, penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah organik melebihi beban serta anorganik persisten yang akumulatif, sedimentasi sungai akibat erosi. Ada pula penyuburan perairan akibat tingginya nutrisi sehingga menyebabkan ledakan populasi alga dan gulma yang menurunkan kadar oksigen terlarut." Jakarta punya waduk dan situ seluas 379 hektar dan yang perlu di revitalisasi 168 hektare," kata Fajar.

Fajar menegaskan, hujan, sungai, danau, dan air tanah ialah satu kesatuan sistem tata air yang tidak terpisahkan. "Sumber air itu 80% dari hujan. Jika air hujan ini turun terdapat 3 kejadian, yakni menguap, lalu akan meresap ke tanah, baru setelah itu mengalir ke permukaan," kata Fajar pada perayaan Hari Air Sedunia 2018 yang diselenggarakan LIPI pada Kamis (22/3).

Air yang mengalir, kata Fajar, akan bergabung ke sungai, sedangkan air yang terbendung dan tidak bergerak menjadi danau, tetapi jika masih bergerak akan masuk ke laut. Jika mengabaikan salah satunya, sama saja seperti mengabaikan semuanya, hingga ketidakpedulian dan kesalahan pengelolaan itu pun akan menjelma jadi sebuah ancaman.

Riset buat situ

Salah satu solusinya ditawarkan Cynthia Henny, peneliti Puslit Limnologi. Ia mengajukan penyembuhan dana dengan penerapan teknik integrated floating wetland.

"Ada media yang dapat mengapung dipermukaan air, tanaman tidak tumbuh di tanah, melainkan pada media apung yang kemudian diletakkan di permukaan. Akar menggantung di badan air. Ini sudah kami terapkan di Danau Maninjau, Sumatra Barat. Luasannya 30% dari luasan situ. Dananya, untuk ukuran 2 meter x 2 meter, Rp 2 juta," kata Chynthia.

Selain itu, ada pula teknologi nanobubble, menginjeksi atau memasukkan gas, baik nitrogen, oksigen atau ozon ke dalam cairan kemudian akan menghasilkan gelembung yang sangat kecil hingga dapat larut ke air di situ.

Peranti ini, kata Anto Tri Sugiarto, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, dapat meningkatkan kadar oksigen air, menjernihkan, memperbaiki ekosistem, dan istimewanya, dapat dioperasikan dengan tenaga matahari.

"Alat ini pun dapat dimanfaatkan sebagai pengolahan air di apartemen atau pabrik sehingga buangan airnya bisa mengalir ke situ dengan lebih jernih," ujar Anto.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More