Bermodal Matras Turunkan Berat Badan

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 25 Mar 2018, 04:10 WIB Weekend
Bermodal Matras Turunkan Berat Badan

MI/Pius

SAAT musik diputar, dan sang instruktur memberi aba-aba, para peserta  yang semula duduk santai di samping matras pun segera bangkit berdiri. Mereka langsung menghadap matras masing-masing yang digunakan sebagai tumpuan untuk tangan.
Maklumlah, mereka tidak sedang berada dalam ruang dengan lantai licin dan rata. Mereka berlatih di sebuah sudut taman, di Taman Jogging Kelapa Gading Jakarta Utara. Lantai di taman tersebut terbuat dari ubin cor dan batako. Tentu sangat terasa jika kulit bersentuhan langsung dengan lantai taman itu.

Di bawah langit yang tidak begitu terang dan ditemani barisan pohon palem, mereka berucap doa. Semoga latihan lancar dan hujan tidak dulu menjamu mereka malam itu sebab jika butiran air jatuh, mereka harus segera menggulung matras dan berpindah tempat latihan.
“Mari kita berdoa tidak hujan,” ucap instruktur Achmad Syarif,39, meng­awali latihan, pada Rabu (21/3) malam.

Sebanyak 80 anggota komunitas Indosweatcamp Kelapa Gading serentak mengikuti intruksi yang diberikan lewat pengeras suara. Komunitas olahraga freeletics yang berdiri sejak 26 April 2015 itu punya segudang manfaat. Salah satunya untuk membentuk tubuh ideal. Olahraga itu menggunakan berat badan sebagai beban untuk mengolah anggota tubuh yang lain.

Setiap kali latihan, Indosweatcamp punya menu yang sama, tetapi varian dari setiap gerakan berbeda. Menu kardio, misalnya, lebih difokuskan untuk mengurangi berat badan dan kegemukan. Menu strength berguna untuk menambah endurance, dan menu core untuk membentuk tubuh bagian tengah, terutama perut.

“Setiap latihan kita ada Kardio, strength, core. Jadi, ada tiga menu itu. Gerakan Kardio lebih ke yang mau fat loss (mengurangi lemak), jadi kardio lebih bagus, sedangkan strength untuk naikin dan nambah endurance. Terus di-core untuk di bagian perut. Jadi, kita combine, ada buat fat loss, ada buat endurance, dan ada buat bagian perut,” terang Achmad Syarif yang akrab disapa Sharvey.

Murah, tanpa alat
Dalam durasi satu jam latihan, beberapa peserta berhasil melahap semua menu latihan. Gerakan freeletics berupa push-up, sit-up, plank, leg lever, squat jump, calfresh, jumping jack, dan burpees memang terdengar mudah dan familier, tetapi yang difokuskan pada freeletics ialah ketepatan gerakan dan repetisinya.

Saat berlatih, menu gerakan tersebut dikombinasikan. Gerakannya relatif sederhana, tetapi efektif untuk mengurangi berat badan. “Jika mereka melakukan gerakannya secara baik pasti akan terasa capek sekali, walaupun repetisinya enggak terlalu banyak,” sambung pria yang tampil dengan rambut dikuncir itu.

Menurut Sharvey, olahraga tersebut patut dicoba karena bermanfaat, murah, dan tidak butuh peralatan macam-macam. Banyak peserta meng­akui tubuh mereka menjadi bugar dan mendapat bentuk ideal.  “Komunitas itu berawal dari seorang teman yang ingin mengurangi berat badan karena hendak menikah. Perutnya buncit dan besar. Gemuklah,” cerita Sharvey.

Ia pun berinisiatif mengajak teman-temannya dekat rumah untuk berolahraga bersama. Gayung bersambut, ternyata teman-temannya menyambut baik ajakan Sharvey.  “Alhamdulillah sih berhasil. Teman yang mau married itu kan sudah  fitting jas, eh dua minggu sebelum nikah, ternyata jasnya kebesaran,” lanjutnya.

Salah satu anggota, Grace Carla, 35, mengaku tidak pernah absen dari jadwal latihan. Kalaupun tidak hadir, itu hanya hitungan jari. Alasannya sederhana, ia merasa telah mendapat manfaat dari olahraga di komunitas Indosweatcamp tersebut. “Sepuluh kilogram pertama itu di tiga bulan awal dengan diimbangin diet  ketat. Jadi saya juga ubah pola makan,” terang Grace yang telah bergabung sejak tiga tahun lalu.

Jika Grace mendapati berat tubuh pada tiga bulan awal, lain halnya dengan Berry Fahlevi Hepijon, 28. Ia yang baru dua kali hadir berlatih, tetapi sudah merasakan manfaatnya. “Yang paling terasa itu badan terasa ringan,” ujarnya. Pengalaman serupa juga dirasakan Melia Emmy, 40. Ia mengaku rutin mengikuti latihan sebab tubuhnya memang sudah terbiasa dengan olahraga. “Kalau tidak latihan enggak enak gitu badannya, sudah terbiasa,” terangnya. Indosweatcamp tidak menggunakan alat bantu untuk berolahraga. Mereka hanya menggunakan berat badan diri sendiri. Satu-satunya alat batu yang dibutuhkan ialah matras. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More