Politik Ngomyang

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 25 Mar 2018, 03:10 WIB PIGURA
Politik Ngomyang

DUNIA politik negeri ini masih kumuh. Faktanya praktik politik berbasis kedengkian terus bersemai. Inilah pula yang membebani sekaligus menggerus laju demokrasi menuju keadabannya. Politik hanya dikemas dalam dua kutub, menang (berkuasa) atau kalah. Maka para pemburu kekuasaan melegalkan segala cara untuk menggengam kemenangan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dengki artinya menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Jadi, politik dengki adalah setiap perilaku politik yang karena iri kemudian menimbulkan kebencian. Bentuknya berbagai bisa macam, seperti menyebarkan berita bohong dan memfitnah.

Dengki inilah yang menjadi garis politik Dewasrani dalam cerita wayang. Sepak terjangnya selalu membuat kekacauan, bukan hanya di marcapada, melainkan juga di kahyangan.

Menyebar fitnah
Dewasrani ialah putra raja Kahyangan Jonggring Kailasa Bethara Manikmaya dengan Bethari Durga. Ia lahir di Istana Setragandamayit, tempat tinggal Durga setelah dikutuk Manikmaya akibat drama asmara yang tidak berujung kenikmatan ketika mereka berada di atas samudra.

Ketika dewasa, Dewasrani menjadi raja di Tunggulmalaya. Trahnya sebagai anak raja dewa membawa Dewasrani menjadi penguasa yang berwatak sapa sira sapa ingsun, yang bermakna SARA. Apalagi ia merasa berwajah tampan serta memiliki aji kawrastawan, yang membuatnya bisa beralih rupa apa saja sesuai dengan yang dinginkan. Itulah yang akhirnya membuatnya sebagai sosok yang adigang, adigung, adiguna, menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian.

Selain itu, ia sangat disayang dan dimanja sang ibu. Maka, lengkaplah modal Dewasrani untuk berulah tanpa kontrol diri. Baginya, tidak ada tatanan, etika atau unggah-ungguh (tata krama). Bila ingin sesuatu harus terlaksana, meskipun itu menabrak hukum jagat.
Jangankan di marcapada, yang merupakan dunianya titah sawantah (insan biasa). Di kahyangan pun, ia berani mengumbar nafsunya walau itu menjadi pantangan dewa. Itu karena ia merasa punya backing terkuat, sang penguasa Tribuana, yakni Sanghyang Manikmaya.
Dalam sanggit pedalangan, Dewasrani banyak dikisahkan sebagai sosok pengganggu ketenteraman marcapada. Dengan kesaktiannya beralih rupa, ia mengobrak-abrik masyarakat, menyebar fitnah, dan mengadu domba.

Ketika sedang menggila itu, Dewasrani tidak hanya dibantu para cecunguk Tunggulmayala, tetapi juga bala siluman penghuni Kahyangan Setragandamayit. Durga juga sering mendampinginya. Maka, tidak ada titah kelas biasa di marcapada yang mampu menghentikan aksinya.

Hanya Semar Badranaya, dewa mengeja wantah, yang bisa menghentikan petualangan Dewasrani. Dari indra keenamnya, Semar selalu bisa melihat terang Dewasrani walau sedang menyamarkan diri, dan kemudian membereskannya. Semar pula yang memberi pelajaran kepada Durga ketika sedang ‘ngedan’ mendukung anaknya.

Di kahyangan pun Dewasrani kerap bikin onar. Misalnya, pada suatu ketika ia ingin menjadi raja di Kahyangan Kaindran, yang merupakan tempat tinggal Bethara Indra. Ia pun memaksa Bethari Supraba sebagai permaisurinya. Namun, keinginannya yang melanggar angger-angger (hukum) itu akhirnya dipadamkan Bethara Indra.

Merebut Dresanala
Petualangan lainnya yang menjijikkan adalah ketika Dewasrani menginginkan Bethari Dresanala sebagai pendampingnya. Padahal, ketika itu, Dresanala adalah istri sah Arjuna dan dalam keadaan hamil pula. Awalnya, ia iri dengan Arjuna. Kenapa titah marcapada tetapi mendapat keistimewaan mempersunting Dresanala dan juga diperkenankan berbulan madu serta bertempat tinggal di kahyangan. Sedangkan dirinya yang berdarah dewa kelas atas tetapi tidak memiliki istri bidadari.

Kisah Arjuna beristri Dresanala karena ia berjasa terhadap para dewa. Kesatria Pandawa itulah berhasil menentramkan Kahyangan Jonggring Saloka dari amukan Raja Manimantaka Prabu Niwatakawaca.  Dewasrani sebenarnya penakut. Setiap menginginkan sesuatu, ia tidak pernah melangkah sendiri, melainkan minta bantuan sang ibu. Seperti ketika ia menginginkan Dresanala. Durga pun menyanggupi menikahkannya. Tapi karena anak masih mempunyai ayah, maka Durga meminta terlebih dulu kebijaksanaan Manikmaya.
Akibat rayuan dan rajukan Durga, Manikmaya goyah pendiriannya, terpengaruh. Ia lalu memerintahkan Bethara Brama untuk memisahkan anaknya, Dresanala, dengan Arjuna. Sabda penguasa Kahyangan itu ditentang Bethara Narada. Karena pendapat dan sarannya tidak digubris, Narada lalu memilih untuk sementara meninggalkan kahyangan.          

Brama buru-buru kembali ke tempat tinggalnya, Kahyangan Duksinageni. Di sana, ia langsung menemui Dresanala dan Arjuna. Brama mengatakan Bethara Manikmaya memanggil Dresanala untuk dijadikan penari utama Kahyangan Jonggring Kailasa. Oleh karena itu, Arjuna diperintahkan kembali ke marcapada untuk menjalani darmanya sebagai kesatria. Arjuna menurutinya tanpa curiga.

Setelah Arjuna pergi, Brama menyerahkan Dresanala kepada Manikmaya yang kemudian diberikan kepada Durga. Saat itulah Dresanala diboyong ke Tunggulmalaya. Tapi di tengah perjalanan, Dresanala digebuki dengan maksud mengeluarkan janin dari rahimnya.
Akhirnya, orok lahir di wilayah Tunggulmalaya. Durga lalu memberikan Dresanala kepada Dewasrani, sedangkan jabang bayi ia bawa dan kemudian dicemplungkan ke Kawah Candradimuka. Tapi, keanehan terjadi, bayi prematur itu tidak hancur tetapi malah tumbuh besar.

Contoh elite pengecut
Narada lalu menemui anak ajaib itu. Selain menjelaskan asal-usul dan duduk perkaranya, Narada juga memberi nama Wisanggeni. Dengan semangat anak muda, Wisanggeni--yang sejatinya sedang menjadi rumah Sanghyang Wenang mengejawantah, mengamuk di kahyangan. Tidak ada dewa yang mampu mengendalikan hingga akhirnya Manikmaya dan Brama tobat.

Wisanggeni lalu turun ke marcapada menemui Arjuna. Kepada bapaknya, ia laporkan sang ibu yang sedang dalam tawanan Dewasrani. Dengan ditemani Semar, Arjuna lalu mendatangi Dewasrani di Tunggulmalaya dan merebut kembali Dresanala sebagai istrinya yang sah.   

Pesan kisah ini adalah bahwa Dewasrani merupakan contoh elite pengecut yang tidak tahu diri. Suka bikin gaduh karena hatinya penuh iri dan dengki. Bisanya menyalahkan pihak lain tanpa dasar alias ngomyang. (M-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More