Gadis yang Membungkus Hujan

Penulis: ALIF FEBRIYANTORO Pada: Minggu, 25 Mar 2018, 02:50 WIB Cerpen
 Gadis yang Membungkus Hujan

tiyok

SETIAP kali kau melewati perbatasan antara Jember-Bondowoso ini, ketika hujan baru saja berhenti, kau akan menemukan seorang gadis kecil sedang memungut sisa hujan, lalu kau akan melihat gadis itu memasukkannya ke dalam sebuah kantong plastik bening. Ketika hujan itu sudah terbungkus, hujan itu masih saja bergerak seperti hujan pada umumnya yang jatuh beramai-ramai ke bumi. Maka seperti itulah, setiap kali turun hujan, gadis itu akan setia menunggu di lereng bukit, sampai hujan berhenti. Kemudian ia akan pulang, membawa kenangan tentang hujan. Begitulah yang sering dikatakan orang-orang kawasan perbukitan ini. Tapi kisah itu sudah 15 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya....
***

Tapi siapakah sebenarnya gadis itu? Apakah orangtuanya tak pernah melarang? Atau gadis itu tak memiliki orangtua? Atau, apakah gadis itu hantu? Atau ia hanyalah seorang gadis kecil yang mengalami kesedihan yang begitu mendalam, sehingga ia hanya bisa melampiaskannya kepada hujan? Atau....Kenapa tak ada yang menghampirinya? Kenapa tak ada satu orang pun yang mengikutinya setelah ia selesai membungkus hujan? Tapi ke mana ia akan pulang? Apakah tak ada satu orang pun yang tahu tentang asal usulnya?
Percayalah, sudah banyak orang yang menanyakan semua tanda tanya itu. Tapi tetap saja, tak ada yang bisa menjawab. Dan tak ada yang berbuat sesuatu. Semua orang terdiam. Barangkali kagum. Atau bisa saja mereka ketakutan. Sebab gadis itu selalu memasang wajah yang pucat. Tapi tentu saja gadis itu bukan hantu. Sebab bayangannya sendiri itu selalu mendampinginya. Menjadikannya seorang gadis kecil yang tak pernah merasa sendirian.

Anehnya, ketika menjelang senja, dan walaupun masih tampak orang-orang yang menyaksikan caranya membungkus hujan, gadis itu akan berlari ke atas bukit, cepat sekali. Orang-orang bengong ketika melihatnya melesat, kemudian menghilang entah ke mana. Ketika sebagian orang mencarinya, tak ada satu pun jejak yang ditinggalkan oleh gadis itu. Ia benar-benar menghilang bersama senja. Tapi esoknya, ketika hujan turun lagi, gadis itu sudah duduk manis pada sebuah batu lonjong yang berada di lereng bukit. Tetap dengan baju putih bercorak bunga yang sama. Tetap dengan wajah pucat yang sama. “Boleh, Kara main dengan dia, Bu?” tanya seorang anak laki-laki kepada ibunya. Dilihat dari ukuran tubuhnya, kira-kira anak laki-laki itu seumuran dengan gadis itu, sekitar 10 atau 11 tahun.
\
“Untuk apa? Jangan!” “Sepertinya dia baik, Bu.” “Dari mana kamu tahu?” “Itu dari matanya yang biru.” “Ah, mana ada mata biru, jelas-jelas hitam begitu. Kamu ini mengada-ada!” Kara hanya diam. Sebab ia tahu, bahwa semua omongan anak kecil jarang diterima oleh orang dewasa. Dan hari-hari pun berlalu. Hujan demi hujan berlalu. Dan peristiwa yang sedikit tidak masuk akal itu, akhirnya lambat laun telah menjadi sebuah rutinitas yang selalu ditonton oleh orang banyak. Barangkali begitu saja sudah cukup. Tak perlu tahu siapa gadis itu sebenarnya, atau dari mana asalnya.

Dua bulan kemudian, cerita tentang seorang gadis yang membungkus hujan itu secepatnya tersebar ke berbagai kota. Bahkan kota-kota yang berada di luar pulau Jawa. Ceritanya tetap sama. Tak ada yang diubah, ditambah, atau dikurangi. Sehingga di perbatasan kota Jember-Bondowoso itu telah menjadi tempat wisata yang baru. Warung-warung, kios-kios kecil, pusat oleh-oleh dan cendera mata, bahkan tempat-tempat penginapan tumbuh dengan cepat di kawasan perbukitan itu. Dan begitulah, keadaan ekonomi di kawasan itu semakin berkembang dengan pesat.

“Tapi bagaimana mungkin gadis kecil itu bukan makhluk halus?” tanya seorang wisatawan kepada salah satu warga lokal. “Kami sudah tidak memikirkan tentang hal itu, Pak. Toh, akhirnya gadis itu terlihat luar biasa.” “Tapi bagaimana ketika ada seseorang yang diam-diam merencanakan sesuatu, semisal menculik gadis itu?” “O... itu tak akan terjadi.” “Gadis itu akan menghilang dengan sendirinya ketika telah selesai membungkus hujan, atau setelah selesai senja,” lanjut warga itu. “Agak serem juga saya mendengarnya.” “Dulu kami juga berpikir seperti itu, tapi lambat laun kami sudah terbiasa.” “Tapi sebenarnya, untuk apa gadis itu membungkus hujan?” Tampaknya pertanyaan itu terdengar begitu asing bagi orang-orang yang tinggal di kawasan itu. Sebab tak pernah ada yang menanyakan tentang hal itu. Atau lebih tepatnya, untuk apa gadis itu mengumpulkan hujan?

“Saya juga tidak tahu. Kami semua tidak tahu.” “Tapi biarlah... wajahnya yang cantik, dengan caranya ia memungut sisa-sisa hujan, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik, sudah cukup untuk menghibur kami para pengunjung.” Namun, sebenarnya, sudah ada yang pernah menemui gadis itu. Sekali. Bertanya dan menyapa. Siapa lagi kalau bukan Kara? Anak laki-laki itu begitu penasaran sehingga pada sebuah malam yang dingin, selepas hujan yang berangin-angin, ia diam-diam pergi keluar ketika kedua orangtuanya sudah tertidur. Ia percaya bahwa gadis itu akan menemuinya. Benar saja, ketika Kara mulai menaiki bukit dengan membawa senter milik ayahnya, tiba-tiba gadis itu muncul tepat di hadapannya. Awalnya Kara kaget. Tapi sejenak Kara terdiam ketika melihat gadis itu tersenyum kepadanya.
“Namamu Kara, kan?”

Kara memasang wajah heran. “Dari mana kamu tahu namaku?” “Aku tahu semuanya.” “Memangnya kamu siapa?” “Aku Elena, datang dari Bulan.” “Ha? Bulan?” “Ya. Bulan.” Lagi-lagi Kara tampak begitu heran. Namun kemudian ia melenturkan cara bicaranya. “Terus kenapa kamu datang ke sini dan mengambil hujan?” Elena tiba-tiba menarik tangan Kara. “Ayo ikut aku,” pintanya tiba-tiba. Mereka berlari-lari kecil, menyusuri jalan setapak yang sedikit licin. Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di sebuah gua yang samar dan jalan masuknya dipenuhi dengan berbagai macam tumbuhan. Mungkin orang-orang tak akan pernah ada yang tahu tentang keberadaan gua itu. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” tanya Kara lagi ketika mereka mulai memasuki gua tersebut.
Untuk ketiga kalinya Kara terheran-heran, karena di dalam gua tersebut, tampak hujan berjatuhan memenuhi seluruh gua. Dan di setiap sudut-sudutnya, hujan itu telah menghasilkan pelangi yang mungkin tampak lebih indah daripada aslinya, sebab pelangi itu terpampang jelas tepat di hadapannya. Sungguh begitu dekat.

“Semua ini akan aku bawa ke bulan,” ucap Elena. “Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua.” “Boleh aku menyentuh salah satu pelangi itu?” “Kamu tidak akan bisa menyentuhnya.” “Kenapa bisa begitu?” “Karena kamu manusia.” Kemudian Elena tertawa ringan. Tapi Kara seperti ingin menanyakan sesuatu. “Kamu... kamu kapan kembali ke bulan?” Entah kenapa Kara menanyakan sebuah pertanyaan yang mengandung ketakutan akan perpisahan. Padahal ia masih anak-anak. “Sebentar lagi, Kara.” Sejenak Kara terdiam dengan raut wajah yang lesu. “Apakah aku akan bertemu lagi dnganmu, Elena?” Elena pelankan cara bicaranya, seakan-akan ia ingin memberitahukan kepada Kara bahwa sesuatu yang akan diucapkan selanjutnya itu begitu penting. “Jika suatu saat kamu lihat cahaya bulan mulai  meredup, itu berarti aku akan kembali ke sini untuk mengambil hujan dan pelangi.”

“Bagus kalau begitu, aku harap bulan tak akan pernah mengeluarkan cahayanya lagi. Hehe....” Elena juga tertawa. Sejenak mereka berdua tampak begitu akrab. Karena mungkin tingkat keakraban dan kepercayaan yang dimiliki anak-anak memang lebih tinggi daripada  orang dewasa. Begitulah kenyataannya. Tiba-tiba suara Elena menggema memenuhi gua itu. “Kara, aku haru....” Dan akhirnya Elena benar-benar pergi, hilang begitu saja bersama hujan dan pelangi yang sejak tadi menemani mereka berdua. Dan Kara, tiba-tia saja ia menemukan dirinya terbaring di kasurnya yang empuk dengan menggenggam sebungkus hujan dalam kantong plastik. Tentu saja itu pemberian Elena.

“Semoga kita bisa bertemu kembali, Elena....” Akhirnya Kara pun terlelap. Matanya tertutup rapat-rapat. Dan bibirnya tampak sedikit tersenyum. Tapi, selain kisah Kara yang bahagia karena telah mendapat sebuah kepastian bahwa suatu saat ia akan bertemu kembali dengan Elena, ada kisah lain yang justru sangat menyedihkan untuk kawasan perbukitan itu. Sejak hari itu, hari ketika gadis kecil itu menghilang, semua keadaan berubah drastis. Tak ada lagi wisata. Tak ada lagi pengunjung. Pendapatan orang-orang menurun. Hinaan demi hinaan dari luar terus bermunculan. Ada yang bilang bahwa gadis itu hanya rekaan belaka. Ada yang bilang semua orang terkena halusinasi yang sangat hebat. Dan pada akhirnya, kawasan perbukitan itu tampak sepi dan lebih mirip seperti kawasan yang telah mati.
***

Hingga 15 tahun kemudian, tepat malam ini, atau malam-malam selanjutnya, barangkali kawasan perbukitan itu akan kembali ramai oleh pengunjung. Sebab pada setiap malam, akan selalu ada seorang pemuda yang melakukan ritual untuk melemahkan kekuatan bulan, untuk meredupkan cahayanya. Agar kekasihnya kembali ke bumi, untuk membungkus hujan lagi. (*)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More