Para Residu Generasi Milenial

Penulis: FATHURROZAK JEK Pada: Minggu, 25 Mar 2018, 01:50 WIB MI Muda
Para Residu Generasi Milenial

MI/FATHURROZAK JEK

LAYAR besar menjadi sorot utama saat para peserta Seminar Residu sudah memenuhi ruang di Synthesis Residence, Kemang, Jakarta Selatan. Mereka siap mendengar petuah sekaligus jawaban dari kegelisahan mereka, dari mulut sang pakar, Yoris Sebastian, dan Dilla Amran. Keduanya penulis buku Generasi Langgas, yang mengulas mengenai milenial Indonesia. Dalam seminar santai siang itu, Yoris maupun Dilla menyampaikan trik-trik bagi para milenial pekerja dalam menghadapi hambatan mereka, saat berhadapan dengan generasi X, generasi yang berada di atas mereka, sekaligus menjadi atasan di kebanyakan tempat mereka bekerja.

Kiat di dunia kerja
Salah satunya kiat bagaimana milenial dalam menawarkan perubahan kepada atasannya di dunia kerja. “Dalam menawarkan perubahan, tentu kita harus punya datanya dulu. Enggak berhenti di data, tapi apakah yang kita tawarkan ini rasional bisa dijalankan, dan punya
bukti bahwa apa yang akan kita lakukan ini akan berhasil,” buka Yoris dengan stelan kaus dan celana pendeknya yang serbahitam, pada Sabtu, (17/03).

Seminar Residu ini, awalnya respons membeludaknya animo anak muda yang ingin ikut Kelas Residu. Suatu kelas yang diadakan OMG Creative Consulting, bentukan Yoris, hanya untuk 10 peserta kelas. “Awalnya OMG Consulting hanya bikin Kelas Residu. Namun respon luar biasa sampai ratusan yang daftar dan benarbenar engage menunggu pengumuman di sosial media.

Padahal peserta Kelas Residu hanya 10 orang karena kami menggunakan metode murid harus lebih banyak bicara daripada gurunya, sehingga tidak bisa terlalu banyak muridnya.” Untuk Kelas Residu, akan berjalan selama 40 minggu, dan akan dilakukan sembilan kali pertemuan, alias ketemu kurang lebih sebulan sekali. Meski seminar cukup efektif untuk membuka wawasan dan memberi inspirasi seseorang untuk kreatif, bagi OMG diperlukan kelas secara rutin untuk mengawal seseorang menjadi orang kreatif. Seminar Residu ialah sebagai alternatif agar materi yang dibagikan, tidak berhenti pada 10 anak muda saja.

Terinspirasi dari Solow Residual, yang mencuat pada masa industri, Residu diartikan sebagai mereka yang merasa beda. “Para residu ini ingin kami jaga supaya tetap beda dan pada akhirnya bisa kreatif dan berdampak lewat karya-karya mereka. Jadi kami ingin menjaga dan menciptakan residu-residu yang bisa menghasilkan potensi lebih dari yang seharusnya, karena mereka beda dan kreatif sehingga terus menciptakan inovasi.”

Milenial pekerja
Riana yang jauh-jauh datang dari Semarang, menyatakan antusiasmenya dalam seminar yang dikhususkan bagi milenial pekerja ini. “Kebanggaan tersendiri bisa ikut acara yang memang dari kuliah, sudah aku idam-idamkan jadi salah satu peserta acaranya Mas Yoris.
Banyak banget ilmu dan ide-ide yang tak pernah terpikirkan sebelumnya,” ungkap perempuan yang bekerja di salah satu bank swasta di Kota Lumpia ini.

Kelas dan Seminar Residu memang dikhususkan bagi para milenial pekerja. Bagi Yoris, belum banyak seminar maupun kelas yang memberikan ruang untuk mendiskusikan isu milenial pekerja. Berbeda hal dengan tema kewirausahaan, yang kini banyak dijumpai, dan bahkan OMG milik Yoris menjadi salah satu yang menggawangi pada satu dekade lalu.

Saat ini dalam dunia kerja menurut pengamatannya ada dua generasi, yakni generasi X dan generasi Y, sehingga tema ‘generation gap’ juga menjadi perbincangan dalam kelas dan seminar residu. “Working millennials adalah demografi terbesar dari generasi millennials Indonesia. Sekarang OMG Consulting  sering bikin workshop soal generation gap, saya dan Dilla Amran sering sekali diminta bicara soal generation gap. Maklum, kami menulis buku Generasi Langgas seputar Millennials Indonesia. Kini di dunia kerja hanya ada dua generasi, yaitu Gen X dan Gen Y. Baby Boomers kalaupun masih ada sedikit sekali karena sudah berusia 58 tahun ke atas,” lanjut penulis buku Creative Junkies ini.

Mencari ikigai
Dalam konsep generasi langgas ala Yoris dan Dilla, mereka menawarkan konsep ikigai, yang mereka temukan dalam filosofi Jepang. Menarik sebab sebagai anak muda yang bekerja, terkadang mereka masih mencari arah sebagai panduan berkarir. “Di buku Generasi
Langgas, kami menawarkan konsep ikigai yang saya temukan di Jepang, di mana kami mengarahkan generasi millennials untuk mengejar kebahagiaan, bukan uang atau jabatan,” ungkap Yoris.

Di Ikigai, disebutkan ada empat pertanyaan yang harus dijawab, Pertama, What you are good at? What do you love? atau gampangnya, passion kita apa, kemudian the world need it? dan the money that we made is enought to make us happy? Bila dicermati dari konsep ikigai, yang dikejar memang bukanlah sekadar uang, melainkan tujuan utamanya adalah kebahagiaan. Bagaimana kita mampu mengombinasikan apa yang kita kuasai sekaligus yang kita cintai, menjadi sebuah pekerjaan yang mampu mendatangkan kebahagiaan, meski, besaran materinya tidak terlalu besar.

 “Menurut kami kalau generasi langgas yang kini cukup bebas memilih karier mereka, berhasil menjalankan ikigai mereka, mereka akan happy,” tambah Yoris. Berkarier sebagai CEO, guru TK, atau berkarier sebagai pekerja seni, tentu bukanlah masalah, selagi apa yang kita jalankan adalah ikigai kita. Jadi, apa ikigai-mu, Muda? (M-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More